Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Guru adalah Jantung Ekosistem Pembelajaran

12 Juni 2026   13:01 Diperbarui: 12 Juni 2026   16:28 120 5 3

Presentasi Prof. Totok Bintoro, M.Pd/dokpri
Presentasi Prof. Totok Bintoro, M.Pd/dokpri

Guru Adalah Jantung dari Ekosistem Pembelajaran

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) -- Guru Blogger Indonesia

Di sebuah ruangan pelatihan guru yang penuh semangat, saya memperhatikan sebuah slide presentasi yang sederhana tetapi sangat menggetarkan hati. Di layar besar tertulis kalimat yang begitu kuat: "Guru adalah Jantung dari Ekosistem Pembelajaran." Kalimat itu seolah menegaskan kembali makna profesi yang telah saya jalani lebih dari tiga dekade. Sebagai guru yang sudah mengajar sejak tahun 1994, saya merasa kalimat tersebut bukan sekadar slogan, melainkan kenyataan yang saya alami setiap hari di ruang kelas.

Mengapa guru disebut jantung? Karena jantung adalah organ yang terus bekerja tanpa henti mengalirkan kehidupan ke seluruh tubuh. Ketika jantung berhenti berdetak, seluruh tubuh kehilangan energi dan fungsinya. Begitu pula dengan pendidikan. Sekolah boleh memiliki gedung megah, laboratorium canggih, jaringan internet super cepat, dan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang luar biasa. Namun, tanpa guru yang menghidupkan proses pembelajaran, semuanya hanyalah benda mati yang tidak memiliki makna.

slide prof totok/dokpri
slide prof totok/dokpri

Saya teringat ketika pertama kali mengajar di SMP Labschool Jakarta. Saat itu teknologi belum secanggih sekarang. Tidak ada LCD proyektor di setiap kelas. Internet masih menjadi barang mewah. Banyak guru mengajar hanya dengan papan tulis dan kapur. Namun, di tengah keterbatasan itu, pembelajaran tetap hidup karena ada guru yang mengajar dengan hati. Guru yang mampu membuat siswa tertawa, berpikir, bertanya, dan bermimpi. Guru yang mampu mengubah ruang kelas sederhana menjadi tempat lahirnya harapan.

Kini zaman telah berubah. Kecerdasan buatan hadir di mana-mana. Informasi dapat diperoleh hanya dalam hitungan detik. Siswa bisa belajar dari video, aplikasi, bahkan chatbot yang mampu menjawab berbagai pertanyaan. Banyak orang mulai bertanya, "Apakah guru masih dibutuhkan?" Pertanyaan itu sesungguhnya menunjukkan bahwa mereka belum memahami hakikat pendidikan.

Guru bukan sekadar penyampai materi. Materi pelajaran memang dapat dicari melalui internet. Rumus matematika dapat ditemukan di mesin pencari. Penjelasan sejarah dapat ditonton melalui video. Namun, tidak semua siswa membutuhkan tambahan informasi. Banyak dari mereka justru membutuhkan seseorang yang mendengarkan, membimbing, dan menguatkan hati mereka.


Dalam slide yang saya lihat tertulis bahwa peran guru telah berevolusi dari sekadar penyampai materi menjadi aktivator keterlibatan siswa, fasilitator yang relevan dengan perkembangan zaman, dan kolaborator. Kalimat ini sangat tepat menggambarkan tantangan guru masa kini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3