Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Guru adalah Jantung Ekosistem Pembelajaran

12 Juni 2026   13:01 Diperbarui: 12 Juni 2026   16:28 114 5 3

Guru bukan lagi satu-satunya sumber ilmu. Guru menjadi pengarah yang membantu siswa menemukan pengetahuan yang benar. Guru membantu siswa memilah informasi yang begitu banyak beredar di dunia digital. Guru mengajarkan cara berpikir kritis, cara bekerja sama, dan cara memecahkan masalah kehidupan nyata.

Saya pernah mengajar seorang siswa yang sangat pendiam. Nilainya biasa saja. Ia jarang berbicara di kelas. Banyak orang mungkin menganggapnya tidak memiliki potensi istimewa. Namun, saya mencoba mendekatinya. Saya mengajaknya berdiskusi tentang hobi dan cita-citanya. Ternyata ia sangat menyukai desain grafis dan teknologi komputer. Saya memberinya kesempatan untuk menunjukkan hasil karyanya kepada teman-teman sekelas.

Beberapa tahun kemudian, siswa itu datang menemui saya. Ia sudah menjadi seorang profesional di bidang teknologi digital. Dengan mata berkaca-kaca ia berkata, "Pak, terima kasih karena dulu Bapak percaya kepada saya ketika banyak orang tidak melihat kemampuan saya."

Saat itulah saya kembali menyadari bahwa guru bukan hanya mengajar mata pelajaran. Guru menghidupkan harapan. Guru membantu siswa menemukan jati dirinya. Guru membantu mereka melihat masa depan yang sebelumnya tidak mereka yakini.

Guru juga menjadi pusat dalam menciptakan budaya belajar yang aman, inklusif, dan mendukung potensi maksimal setiap peserta didik. Tidak semua anak datang ke sekolah dengan kondisi yang sama. Ada yang berasal dari keluarga harmonis. Ada pula yang datang membawa luka karena masalah keluarga, ekonomi, atau lingkungan sosialnya.

Di sinilah peran guru menjadi sangat penting. Guru harus mampu menciptakan suasana kelas yang membuat setiap anak merasa diterima. Anak yang pintar maupun yang masih kesulitan belajar harus mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkembang. Anak yang percaya diri maupun yang pemalu harus merasakan bahwa sekolah adalah rumah kedua mereka.

Sebagai guru yang telah mengajar lebih dari 32 tahun, saya sering menemukan bahwa keberhasilan siswa bukan hanya ditentukan oleh kecerdasannya. Banyak siswa berhasil karena mereka bertemu dengan guru yang percaya kepada mereka. Sebaliknya, ada siswa yang kehilangan semangat karena tidak mendapatkan dukungan yang mereka butuhkan.

Oleh sebab itu, guru harus terus belajar. Guru harus mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Guru tidak boleh takut terhadap teknologi, termasuk kecerdasan buatan. AI seharusnya menjadi sahabat guru, bukan ancaman. Teknologi dapat membantu guru membuat bahan ajar, menganalisis hasil belajar, dan memperkaya pengalaman belajar siswa. Namun, teknologi tidak dapat menggantikan sentuhan kemanusiaan yang dimiliki seorang guru.

Ketika seorang siswa gagal dan menangis, AI tidak dapat memeluk hatinya. Ketika seorang siswa kehilangan kepercayaan diri, AI tidak dapat memberikan keteladanan hidup. Ketika seorang anak membutuhkan sosok panutan, yang hadir adalah guru, bukan mesin.

Karena itulah saya selalu percaya bahwa guru akan tetap menjadi jantung dari ekosistem pembelajaran. Jantung yang memompa semangat. Jantung yang mengalirkan inspirasi. Jantung yang menghidupkan mimpi-mimpi peserta didik.

Mari kita terus menjaga jantung pendidikan Indonesia agar tetap berdetak kuat. Mari kita menjadi guru yang bukan hanya mengajar dengan pikiran, tetapi juga dengan hati. Sebab ketika guru mengajar dengan hati, ilmu tidak hanya masuk ke kepala siswa, tetapi juga menetap di dalam jiwa mereka.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3