Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Menguatkan Jiwa dengan Shalat yang Khusyuk: Kisah Omjay Menemukan Ketenangan di Tengah Kesibukan
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd (Omjay)
Saat itu langit Bekasi masih gelap ketika alarm ponsel berbunyi pelan. Jam menunjukkan pukul 03.30 WIB.
Dalam dinginnya udara dini hari, Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd atau yang akrab disapa Omjay perlahan membuka matanya.
Tubuhnya sebenarnya masih lelah. Aktivitas sebagai guru, penulis, narasumber, dan penggerak literasi sering membuat waktunya habis dari pagi hingga malam.
Namun ada satu kebiasaan yang selalu berusaha dijaganya: bangun malam untuk shalat tahajud.
Omjay sadar, hidup manusia tidak pernah lepas dari tekanan. Ada hari-hari ketika tubuh terasa letih, pikiran penuh beban, dan hati terasa sesak.
Terkadang masalah datang bersamaan. Tugas sekolah menumpuk, pekerjaan organisasi berjalan padat, urusan keluarga membutuhkan perhatian, dan kesehatan pun tidak selalu stabil.
https://youtube.com/shorts/ktwVh4o6EGA?si=RQqroxDaCw3Y7Ss_
Di saat seperti itulah Omjay menemukan bahwa shalat bukan sekadar kewajiban. Shalat adalah tempat pulang bagi hati yang lelah.
Omjay pernah berkata kepada murid-muridnya, "Kalau hati sedang penat, jangan jauh dari sajadah. Karena di sanalah Allah menguatkan jiwa kita."
Kalimat sederhana itu lahir bukan dari teori, tetapi dari pengalaman hidup Omjay sendiri.
Sebagai seorang guru, Omjay sering menghadapi berbagai persoalan pendidikan.
Ada murid yang sulit diatur, ada guru yang kehilangan semangat, ada pula kondisi dunia pendidikan yang kadang membuat hati prihatin. Belum lagi aktivitas menulis yang menuntut pikiran terus bekerja.
Di tengah kesibukan itu, Omjay pernah merasakan shalat hanya menjadi rutinitas. Gerakan dilakukan, bacaan dilantunkan, tetapi pikirannya berkelana ke mana-mana.
Kadang saat takbiratul ihram, pikirannya masih memikirkan pekerjaan. Saat rukuk, pikirannya memikirkan jadwal kegiatan.
Bahkan saat salam, Omjay baru sadar bahwa sejak awal hati ini tidak benar-benar hadir.
Omjay merasa ada yang hilang.
Shalat yang seharusnya menjadi sumber ketenangan justru terasa seperti aktivitas biasa. Dari situlah Omjay mulai belajar tentang makna khusyuk.
Omjay memahami bahwa khusyuk bukan berarti pikiran tidak pernah terganggu. Khusyuk adalah perjuangan menghadirkan hati di hadapan Allah. Sebuah usaha untuk sadar bahwa manusia sedang berbicara dengan Rabb yang Maha Mendengar.
Sejak saat itu, Omjay mulai mengubah caranya dalam shalat. Omjay tidak lagi terburu-buru.
Sebelum shalat, omjay berusaha menenangkan diri. Ponsel diletakkan jauh. Aktivitas dihentikan sejenak. Omjay mencoba memahami setiap bacaan yang diucapkan.
Ketika membaca Al-Fatihah, Omjay berusaha merenungi arti ayat demi ayat. Saat rukuk, Omjay menyadari betapa kecil dirinya di hadapan Allah. Saat sujud, Omjay merasakan bahwa manusia sebenarnya tidak memiliki kekuatan apa pun tanpa pertolongan-Nya.
Lalu perlahan, hidup Omjay berubah.
Omjay merasakan ketenangan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Masalah hidup memang tidak langsung hilang, tetapi hati ini menjadi lebih kuat menghadapinya. Beban terasa lebih ringan karena Omjay yakin tidak sedang berjalan sendirian.
Omjay teringat firman Allah bahwa shalat dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar. Menurut Omjay, ayat itu menunjukkan bahwa shalat bukan hanya ritual fisik. Shalat yang benar akan memengaruhi cara berpikir, berbicara, dan bertindak seseorang.
Karena itulah Omjay selalu mengingatkan para guru dan murid agar tidak hanya menjaga jumlah shalat, tetapi juga kualitasnya.
Dalam sebuah pelatihan literasi digital, Omjay pernah berbagi kisah menarik. Seorang guru mengeluh mudah marah kepada murid-muridnya. Guru tersebut merasa emosinya tidak stabil. Omjay lalu bertanya pelan, "Bagaimana shalatnya?"
Guru itu terdiam.
Omjay kemudian menjelaskan bahwa hati manusia membutuhkan pengisian energi ruhani. Jika tubuh membutuhkan makanan, maka jiwa membutuhkan kedekatan dengan Allah. Salah satu cara terindah untuk menguatkan jiwa adalah melalui shalat yang khusyuk.
"Kadang kita mencari ketenangan ke mana-mana, padahal Allah sudah memanggil kita lima kali sehari," kata Omjay lembut.
Ucapan itu membuat banyak peserta pelatihan terdiam haru.
Bagi Omjay, sujud adalah tempat terbaik untuk mengadu. Tidak semua masalah bisa diceritakan kepada manusia. Ada luka yang sulit dipahami orang lain. Ada kesedihan yang hanya bisa ditumpahkan dalam doa.
Saat di atas sajadah itulah, air mata sering jatuh tanpa suara.
Omjay percaya bahwa orang yang menjaga shalatnya akan dijaga hatinya oleh Allah. Mungkin hidupnya tetap penuh ujian, tetapi jiwanya tidak mudah runtuh.
Karena itu, di usia yang tidak lagi muda, Omjay terus belajar memperbaiki kualitas shalatnya. Omjay sadar dirinya belum sempurna. Namun Omjay yakin bahwa perjalanan menjadi lebih baik harus terus dilakukan.
Setiap selesai shalat subuh, Omjay sering menulis pesan-pesan inspiratif untuk dibagikan kepada banyak orang. Bagi Omjay, dakwah tidak harus selalu di mimbar besar. Kadang sebuah tulisan sederhana bisa menjadi penguat hati seseorang.
Melalui blog pribadi di https://wijayalabs.blogspot.com, Omjay membagikan banyak kisah inspiratif tentang pendidikan, kehidupan, literasi, dan perjalanan spiritual yang menguatkan hati pembacanya.
Pesan pagi tentang shalat khusyuk ini pun lahir dari pengalaman hidup yang nyata. Bahwa manusia modern sering sibuk memperkuat penampilan luar, tetapi lupa menguatkan jiwanya. Padahal jiwa yang kuat lahir dari hubungan yang dekat dengan Allah.
Shalat yang khusyuk akan melahirkan ketenangan. Ketika hati tenang, manusia lebih mampu menghadapi tekanan hidup. Ketika jiwa kuat, langkah hidup menjadi lebih terarah.
Omjay mengajarkan bahwa kesuksesan sejati bukan hanya tentang jabatan, penghargaan, atau popularitas. Kesuksesan sejati adalah ketika hati tetap dekat kepada Allah di tengah segala kesibukan dunia.
Maka jangan biarkan shalat hanya menjadi rutinitas harian. Jadikan setiap sujud sebagai tempat pulang bagi hati yang lelah. Jadikan setiap doa sebagai penguat jiwa. Dan jadikan shalat sebagai cahaya yang menerangi kehidupan.
Sebab boleh jadi, ketenangan yang selama ini kita cari ternyata ada di antara takbir, rukuk, dan sujud yang dilakukan dengan penuh khusyuk.
Ayo semangat memperbaiki shalat kita hari ini. Semoga Allah melembutkan hati kita, menguatkan jiwa kita, dan menerima setiap sujud kita. Jadikan sabar dan sholat sebagai penolongmu.
Barakallah fiikum.
Salam blogger persahabatan
Omjay
Guru blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com
