Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.
Perjalanan hidup beberapa bulan terakhir membuat saya semakin memahami arti senyum seorang anak. Setelah mengalami berbagai ujian kesehatan, mulai dari diabetes, hipertensi, hingga gejala yang menyerupai stroke, saya sempat merasakan masa-masa sulit. Ada saat ketika tangan terasa lemah. Ada saat ketika kepala berputar hebat. Ada saat ketika dokter meminta saya mengurangi aktivitas yang terlalu berat.
Namun setiap kali pulang ke rumah dan melihat cucu saya tersenyum, rasa lelah itu perlahan hilang.
Anak-anak memang memiliki kekuatan luar biasa. Mereka tidak memberi ceramah panjang. Mereka tidak memberikan teori motivasi.nMereka hanya tersenyum.
Tetapi senyum itu mampu menghidupkan kembali semangat yang hampir padam.
Saya jadi teringat pengalaman saat mengajar di SMP Labschool Jakarta. Selama lebih dari tiga dekade menjadi guru, saya menyaksikan ribuan wajah siswa datang dan pergi. Ada yang kini menjadi dokter, insinyur, dosen, pengusaha, wartawan, bahkan pejabat publik. Namun satu hal yang tidak pernah berubah adalah senyum mereka saat merasa dihargai oleh gurunya.
Sebagai guru, sering kali kita terlalu fokus pada nilai rapor, target kurikulum, dan pencapaian akademik. Padahal ada sesuatu yang jauh lebih penting daripada itu semua, yaitu menjaga agar anak-anak tetap memiliki senyum bahagia di wajah mereka.
Karena anak yang bahagia akan lebih mudah belajar. Anak yang bahagia akan lebih kreatif. Anak yang bahagia akan lebih percaya diri. Anak yang bahagia akan tumbuh menjadi manusia yang penuh empati.
Pengalaman di Turki mengajarkan saya bahwa investasi terbesar sebuah bangsa bukanlah gedung pencakar langit atau teknologi canggih, melainkan anak-anak yang tumbuh dengan hati yang bahagia. Senyum mereka adalah indikator bahwa lingkungan di sekitarnya memberikan rasa aman, cinta, dan harapan.
Bahkan sebuah tulisan tentang senyum anak dari Turki pernah menggambarkan bahwa dunia yang damai dimulai dari tawa seorang bayi dan senyum yang menyebar dari satu rumah ke rumah lainnya hingga menjangkau seluruh dunia. Pesan sederhana itu sangat menyentuh hati saya.
Kini ketika saya menulis artikel ini di dalam LRT menuju sekolah, saya kembali merenungkan satu hal penting. Dunia memang sedang berubah sangat cepat. Kecerdasan buatan berkembang pesat. Teknologi semakin canggih. Informasi bergerak dalam hitungan detik. Namun ada satu hal yang tidak boleh hilang dari kehidupan manusia, yaitu kemampuan untuk menghadirkan senyum di wajah anak-anak.
Sebab ketika anak-anak tersenyum, dunia terasa lebih damai.