Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Bagaimana Cara Menjaga Agar Sebuah Buku Tetap Memiliki Jiwa?

28 Juni 2026   16:20 Diperbarui: 29 Juni 2026   13:01 126 6 4

(5) Webinar Cara Cepat Bikin Buku Dengan AI - YouTube 

Seorang peserta webinar nasional cara cepat bikin buku dengan AI Bertanya kepada Omjay. Bagaimana cara menjaga agar sebuah buku tetap memiliki jiwa, sudut pandang, pengalaman, dan otoritas khas penulis meskipun proses penulisannya dibantu AI? Inilah kisah Omjay setelah kegiatan webinar nasional cara cepat bikin buku dengan AI.

Di sisi lain, bagaimana dengan originalitas dalam penulisan berbasis AI?

Apakah ada batas ideal antara kontribusi pemikiran penulis dan hasil generasi AI agar sebuah karya tetap autentik dan bernilai intelektual tinggi?" Alimudin Garbiz Garut.

Pertanyaan dari Alimudin Garbiz ini menyentuh inti perdebatan terbesar dalam dunia kepenulisan saat ini. AI memang mampu membantu menyusun kalimat, merapikan struktur, bahkan menghasilkan draf yang baik. Namun, AI tidak memiliki kehidupan, pengalaman, emosi, maupun tanggung jawab moral atas sebuah gagasan. Karena itu, buku yang hanya mengandalkan AI akan terasa rapi, tetapi sering kehilangan "jiwa".

Berikut jawaban yang dapat menjadi bahan diskusi atau artikel. Menulis Bersama AI, tetapi Tetap Menjadi Penulis Seutuhnya

"AI boleh membantu tangan kita menulis, tetapi hati dan pikiran tetap harus menjadi milik penulis."

Perkembangan Artificial Intelligence (AI) telah mengubah cara orang menulis. Kini, dalam hitungan detik AI mampu membuat outline, menyusun paragraf, mencari referensi, bahkan membantu mengedit naskah. Pertanyaannya kemudian bukan lagi apakah AI boleh digunakan, melainkan bagaimana menggunakannya tanpa kehilangan identitas sebagai penulis.

buku karya omjay/dokpri
buku karya omjay/dokpri

Menurut saya, ada empat unsur yang tidak boleh diserahkan kepada AI.

1. Jiwa Buku Harus Berasal dari Penulis

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6