Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.
Setiap buku lahir dari kegelisahan, pengalaman, atau impian seseorang. AI tidak pernah merasakan kegagalan, kehilangan murid, kebahagiaan ketika sebuah buku diterbitkan, atau perjuangan mengajar selama puluhan tahun.
Semua itu hanya dimiliki manusia.
Misalnya ketika saya menulis tentang perjalanan menjadi guru, AI dapat membantu memperbaiki kalimat. Namun kisah mengajar di kelas, pengalaman bertemu siswa, perjuangan mengikuti perkembangan teknologi, hingga suka duka menjadi guru blogger Indonesia hanya saya yang dapat menceritakannya.
Inilah jiwa buku.
Jiwa tidak dapat diproduksi oleh algoritma.
2. Sudut Pandang Tidak Bisa Digantikan AI
AI dibangun dari jutaan data.
Sebaliknya, penulis dibentuk oleh pengalaman hidup.
Dua orang dapat menulis tema yang sama, misalnya tentang literasi digital. Namun hasilnya akan berbeda karena masing-masing memiliki sudut pandang yang unik.
Pembaca sebenarnya tidak hanya membeli informasi.
Mereka membeli cara penulis memandang dunia.