Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.
(5) Webinar Cara Cepat Bikin Buku Dengan AI - YouTube
Seorang peserta webinar nasional cara cepat bikin buku dengan AI Bertanya kepada Omjay. Bagaimana cara menjaga agar sebuah buku tetap memiliki jiwa, sudut pandang, pengalaman, dan otoritas khas penulis meskipun proses penulisannya dibantu AI? Inilah kisah Omjay setelah kegiatan webinar nasional cara cepat bikin buku dengan AI.
Di sisi lain, bagaimana dengan originalitas dalam penulisan berbasis AI?
Apakah ada batas ideal antara kontribusi pemikiran penulis dan hasil generasi AI agar sebuah karya tetap autentik dan bernilai intelektual tinggi?" Alimudin Garbiz Garut.
Pertanyaan dari Alimudin Garbiz ini menyentuh inti perdebatan terbesar dalam dunia kepenulisan saat ini. AI memang mampu membantu menyusun kalimat, merapikan struktur, bahkan menghasilkan draf yang baik. Namun, AI tidak memiliki kehidupan, pengalaman, emosi, maupun tanggung jawab moral atas sebuah gagasan. Karena itu, buku yang hanya mengandalkan AI akan terasa rapi, tetapi sering kehilangan "jiwa".
Berikut jawaban yang dapat menjadi bahan diskusi atau artikel. Menulis Bersama AI, tetapi Tetap Menjadi Penulis Seutuhnya
"AI boleh membantu tangan kita menulis, tetapi hati dan pikiran tetap harus menjadi milik penulis."
Perkembangan Artificial Intelligence (AI) telah mengubah cara orang menulis. Kini, dalam hitungan detik AI mampu membuat outline, menyusun paragraf, mencari referensi, bahkan membantu mengedit naskah. Pertanyaannya kemudian bukan lagi apakah AI boleh digunakan, melainkan bagaimana menggunakannya tanpa kehilangan identitas sebagai penulis.

Menurut saya, ada empat unsur yang tidak boleh diserahkan kepada AI.
1. Jiwa Buku Harus Berasal dari Penulis
Setiap buku lahir dari kegelisahan, pengalaman, atau impian seseorang. AI tidak pernah merasakan kegagalan, kehilangan murid, kebahagiaan ketika sebuah buku diterbitkan, atau perjuangan mengajar selama puluhan tahun.
Semua itu hanya dimiliki manusia.
Misalnya ketika saya menulis tentang perjalanan menjadi guru, AI dapat membantu memperbaiki kalimat. Namun kisah mengajar di kelas, pengalaman bertemu siswa, perjuangan mengikuti perkembangan teknologi, hingga suka duka menjadi guru blogger Indonesia hanya saya yang dapat menceritakannya.
Inilah jiwa buku.
Jiwa tidak dapat diproduksi oleh algoritma.
2. Sudut Pandang Tidak Bisa Digantikan AI
AI dibangun dari jutaan data.
Sebaliknya, penulis dibentuk oleh pengalaman hidup.
Dua orang dapat menulis tema yang sama, misalnya tentang literasi digital. Namun hasilnya akan berbeda karena masing-masing memiliki sudut pandang yang unik.
Pembaca sebenarnya tidak hanya membeli informasi.
Mereka membeli cara penulis memandang dunia.
Karena itu, AI sebaiknya diposisikan sebagai asisten berpikir, bukan pengganti cara berpikir.
3. Pengalaman Adalah Nilai Tambah Terbesar
Buku yang paling berkesan biasanya dipenuhi cerita nyata.
Pembaca percaya kepada penulis karena penulis pernah mengalami sendiri apa yang ditulisnya.
Misalnya saat menjelaskan bagaimana AI membantu membuat buku.
Jika penulis benar-benar telah mencoba puluhan aplikasi AI, mengalami kegagalan membuat prompt, memperbaiki hasil yang kurang tepat, hingga akhirnya berhasil menerbitkan buku, maka pengalaman tersebut menjadi otoritas yang tidak dimiliki AI.
AI hanya mengetahui.
Penulis mengalami.
Perbedaan ini sangat besar.
4. Otoritas Lahir dari Konsistensi Berkarya
AI mampu menghasilkan ribuan artikel dalam sehari.
Namun AI tidak memiliki rekam jejak.
Nama penulis dibangun melalui karya-karya sebelumnya, dedikasi kepada pembaca, integritas akademik, dan konsistensi berbagi ilmu.
Ketika pembaca membeli buku seorang penulis, mereka sebenarnya membeli kepercayaan terhadap nama tersebut.
AI tidak memiliki reputasi.
Penulislah yang mempertaruhkan reputasinya.
Bagaimana dengan Originalitas?
Originalitas bukan berarti seluruh kalimat harus diketik sendiri.
Dalam dunia akademik maupun sastra, originalitas lebih berkaitan dengan:
AI boleh membantu menyusun kalimat.
Namun ide besar tetap harus berasal dari penulis.
Saya sering mengibaratkan AI seperti seorang editor yang sangat cepat.
Ia membantu merapikan rumah.
Tetapi rumah itu tetap milik pemiliknya.
Apakah Ada Batas Ideal antara Kontribusi Penulis dan AI? Menurut saya, tidak ada angka baku seperti 70% manusia dan 30% AI. Hal yang jauh lebih penting adalah siapa yang mengambil keputusan intelektual.
Idealnya pembagian peran seperti ini:
Peran Penulis
Peran AI
Dengan demikian AI menjadi co-pilot, bukan autopilot. Penulis tetap menjadi pengemudi. Penulis yang mengarahkan kemana tujuan buku akan dituju dan tepat sasaran.
Prinsip yang Saya Pegang sederhana saja. Dalam setiap buku yang saya tulis menggunakan bantuan AI, saya selalu berusaha menjaga prinsip berikut:
Artinya, AI bukan penulis. AI adalah alat. AI adalah alat bantu pekerjaan manusia. AI saya minta untuk bekerja lebih cepat dan tepat.
Penutup
Kehadiran AI tidak mengurangi nilai seorang penulis, justru menantang kita untuk semakin menonjolkan hal-hal yang tidak dapat ditiru mesin: empati, pengalaman, kebijaksanaan, refleksi, dan tanggung jawab moral.
Buku yang baik bukan sekadar kumpulan kata-kata yang tersusun rapi. Buku yang baik adalah karya yang memuat jejak kehidupan penulisnya. Pembaca mungkin lupa setiap kalimat yang mereka baca, tetapi mereka akan mengingat perasaan yang ditinggalkan oleh sebuah buku.
Karena itu, di era AI, keaslian bukan lagi diukur dari siapa yang mengetik setiap kata, melainkan dari siapa yang melahirkan gagasan, memberi makna, dan berani bertanggung jawab atas setiap kalimat yang diterbitkan.
AI dapat mempercepat proses menulis, tetapi hanya manusialah yang dapat memberi ruh pada sebuah karya. Selama jiwa, sudut pandang, pengalaman, dan integritas tetap berasal dari penulis, buku tersebut akan tetap autentik, bernilai intelektual tinggi, dan layak menjadi warisan pemikiran bagi generasi berikutnya.
Salam Blogger Persahabatan
Omjay/Kakek Jay
Guru Blogger Indonesia
