Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.
Namun, saya menyadari bahwa menjual sisa kuota bukan berarti bebas dilakukan kepada siapa saja tanpa aturan. Kita tetap harus mengikuti syarat dan ketentuan dari operator seluler. Ada operator yang hanya mengizinkan transfer ke sesama pelanggan prabayar, ada pula yang membatasi jumlah kuota dan frekuensi transfer setiap hari. Karena itu, sebelum memulai usaha ini, pelajari terlebih dahulu aturan yang berlaku agar tidak melanggar kebijakan layanan.
Sebagai guru, saya selalu percaya bahwa peluang usaha harus dibangun di atas kejujuran. Jangan pernah menjanjikan sesuatu yang tidak dapat dipenuhi. Jangan pula memanfaatkan ketidaktahuan orang lain demi keuntungan pribadi. Justru kepercayaan pelanggan adalah modal terbesar dalam usaha sekecil apa pun.
Saya kemudian membayangkan bagaimana jika seorang guru, ibu rumah tangga, mahasiswa, atau pensiunan mengembangkan usaha kecil-kecilan ini. Mereka bisa memulainya dari lingkungan terdekat. Misalnya, menjadi tempat "penyelamat" ketika ada tetangga yang mendadak kehabisan kuota untuk mengikuti rapat daring, mengerjakan tugas sekolah, atau mengirim pekerjaan kepada kantor.
Lama-kelamaan pelanggan akan bertambah karena mereka merasa terbantu.
Dari pengalaman saya menulis selama bertahun-tahun, saya belajar bahwa setiap usaha membutuhkan pelayanan yang baik. Orang tidak hanya membeli produk, tetapi juga membeli rasa nyaman. Jika kita cepat merespons, ramah, jujur, dan bertanggung jawab, pelanggan akan datang kembali.
Bahkan menurut saya, menjual kuota internet sebaiknya tidak berdiri sendiri. Jadikanlah sebagai pintu masuk menuju usaha digital yang lebih besar. Kita bisa sekaligus menjual pulsa, token listrik, pembayaran tagihan, voucher permainan, hingga membantu masyarakat membeli paket internet resmi dari berbagai operator. Dengan demikian, sumber penghasilan menjadi lebih beragam dan tidak bergantung pada satu jenis layanan saja.
Saya juga melihat peluang lain yang lebih menarik, yaitu membuka layanan hotspot rumahan menggunakan koneksi internet tetap jika kondisi lingkungan memungkinkan. Anak-anak sekolah, mahasiswa, atau pekerja yang membutuhkan internet stabil bisa menjadi pelanggan. Tentu semua dilakukan dengan memperhatikan aturan penyedia layanan internet yang digunakan.
Perkembangan teknologi memang mengubah banyak hal. Dahulu orang berlomba-lomba membuka wartel. Setelah itu muncul usaha rental komputer. Kini, internet menjadi kebutuhan utama masyarakat. Karena itu, siapa yang mampu membaca perubahan akan lebih mudah menemukan peluang usaha baru.
Saya sering mengatakan kepada peserta pelatihan menulis bahwa kreativitas adalah kemampuan melihat peluang yang tidak dilihat orang lain. Banyak orang menganggap sisa kuota hanyalah sesuatu yang akan hangus. Padahal, dengan cara berpikir yang kreatif dan tetap mematuhi aturan operator, sisa kuota dapat dimanfaatkan secara lebih bijak sehingga tidak terbuang sia-sia.
Tentu saya juga ingin mengingatkan bahwa jangan mudah tergiur dengan aplikasi atau pihak yang menjanjikan keuntungan besar dari jual beli kuota tanpa kejelasan. Pilihlah cara yang resmi dan aman. Gunakan aplikasi resmi operator atau layanan yang memang disediakan secara legal. Hindari memberikan data pribadi kepada pihak yang tidak dikenal, apalagi jika diminta membayar biaya yang tidak masuk akal.
Bagi saya, usaha yang baik adalah usaha yang memberikan manfaat bagi banyak orang. Keuntungan memang penting, tetapi keberkahan jauh lebih penting. Ketika kita membantu seseorang tetap bisa mengikuti kelas daring, menghadiri rapat, atau menghubungi keluarganya karena memperoleh akses internet yang dibutuhkan, sesungguhnya kita sedang memberikan manfaat yang nilainya jauh lebih besar daripada sekadar rupiah.