Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Kisah Omjay: Tulisan Bisa Menjadi Cuan

5 Juli 2026   08:22 Diperbarui: 5 Juli 2026   08:22 223 4 0

Seorang penulis dapat memperoleh penghasilan dari berbagai sumber. Tulisan di blog dapat menghadirkan peluang kerja sama. Artikel yang dimuat di media dapat memperluas jaringan profesional. Buku yang diterbitkan dapat memberikan royalti. 

Pengalaman menulis dari hati dapat mengantarkan seseorang menjadi pembicara, mentor, editor, atau pelatih. Bahkan, satu tulisan dapat diolah kembali menjadi video YouTube, podcast, materi pelatihan, konten media sosial, hingga buku elektronik. Dengan kata lain, satu ide yang ditulis dengan baik dapat menghasilkan banyak peluang.

https://youtube.com/shorts/o2QPz8impZA?si=l6VL59WBerYkfdRg

Inilah yang sering saya sampaikan kepada para guru ketika mengisi pelatihan. Jangan pernah menganggap pengalaman mengajar sebagai sesuatu yang biasa. 

Setiap guru memiliki cerita yang unik. Ada kisah tentang mendidik anak-anak di pelosok negeri, pengalaman menghadapi siswa dengan berbagai karakter, perjuangan membuat media pembelajaran, hingga cerita sederhana yang mampu menginspirasi banyak orang. Semua itu layak ditulis karena akan menjadi ilmu yang bermanfaat bagi orang lain.

Saya bersyukur karena hingga hari ini telah mendampingi banyak guru dari berbagai daerah di Indonesia menerbitkan buku pertama mereka. Sebagian besar awalnya merasa minder. Mereka berkata bahwa dirinya bukan penulis, tidak pandai merangkai kata, atau takut tulisannya jelek. Namun setelah dibimbing sedikit demi sedikit, akhirnya mereka mampu menghasilkan buku yang membanggakan. 

Ketika buku itu sampai ke tangan mereka, ada kebahagiaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Mereka tidak hanya memiliki sebuah karya, tetapi juga meninggalkan warisan ilmu yang akan terus dibaca oleh generasi berikutnya.

Di era kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), sebagian orang justru takut menulis. Mereka khawatir AI akan menggantikan peran penulis. Saya memandangnya secara berbeda. 

AI adalah alat bantu yang dapat mempercepat proses mencari referensi, menyusun kerangka tulisan, atau memperbaiki tata bahasa. Namun AI tidak memiliki pengalaman hidup, tidak memiliki kenangan masa kecil, tidak pernah merasakan perjuangan seorang guru di ruang kelas, dan tidak mampu menggantikan kehangatan hati manusia. Itulah sebabnya saya selalu mengingatkan, "Gunakan AI untuk membantu menulis, tetapi biarkan hati Anda yang bercerita."

Tulisan yang menyentuh pembaca lahir dari kejujuran. Pembaca dapat merasakan mana tulisan yang sekadar menyusun kata dan mana tulisan yang benar-benar lahir dari pengalaman. 

Oleh karena itu, jangan pernah takut untuk menceritakan perjalanan hidup Anda. Pengalaman yang menurut Anda biasa saja mungkin menjadi inspirasi luar biasa bagi orang lain.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6