Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Ayo Bersama Memberikan Kritik yang Membangun Untuk Tim Admin Kompasiana

16 Juli 2026   06:06 Diperbarui: 16 Juli 2026   07:12 109 4 1

omjay dkk pengurus pgri/dokpri
omjay dkk pengurus pgri/dokpri

https://www.youtube.com/live/bmbfdQxP9sA?si=zY5-3cKUg_DY_nzY

Ayo Bersama Memberikan Kritik yang Membangun untuk Tim Admin Kompasiana

Oleh: Omjay (Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd.)

"Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi." Kalimat sederhana itu telah menjadi teman perjalanan saya sejak pertama kali bergabung di Kompasiana pada tahun 2008. Sudah belasan tahun saya menulis di platform yang saya anggap sebagai rumah kedua bagi para penulis Indonesia. Di sana saya belajar, berbagi pengalaman, menerima kritik, memperoleh sahabat baru, bahkan mendapatkan inspirasi yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Kompasiana telah memberi ruang bagi siapa saja untuk menyampaikan gagasan. Guru, dosen, mahasiswa, pelajar, praktisi, pegiat sosial, hingga masyarakat umum dapat menyampaikan pemikirannya secara bebas dan bertanggung jawab. Saya termasuk orang yang sangat bersyukur pernah menjadi bagian dari perjalanan panjang tersebut.

https://www.youtube.com/live/LoQDnUUS2Gg?si=i6rHhv2fXHHwI8LU

Namun, kecintaan kepada sebuah rumah tidak berarti kita harus menutup mata terhadap berbagai persoalan yang terjadi di dalamnya. Justru karena kita mencintainya, kita ingin rumah itu menjadi semakin baik. Kritik yang membangun adalah salah satu bentuk kasih sayang terhadap tempat yang telah memberikan begitu banyak manfaat.

Belakangan ini saya merasakan keresahan yang juga dirasakan banyak penulis lain. Ada tulisan yang menurut penulis sudah sesuai pedoman, tetapi tidak tayang. Ada artikel yang proses penayangannya sangat lama. Ada pula penulis yang merasa bingung karena tidak memperoleh penjelasan yang cukup ketika artikelnya ditolak. Bahkan ada yang merasa perlakuan terhadap sesama penulis belum sepenuhnya adil dan konsisten.

Saya memahami bahwa menjadi admin Kompasiana bukanlah pekerjaan yang mudah. Setiap hari mungkin ratusan bahkan ribuan artikel masuk untuk diperiksa. Tentu diperlukan ketelitian agar tidak ada konten yang melanggar aturan. Saya juga percaya tim admin bekerja dengan niat baik menjaga kualitas platform.

Namun demikian, profesionalisme juga menuntut adanya transparansi, komunikasi yang baik, serta perlakuan yang adil kepada seluruh penulis tanpa memandang siapa mereka. Ketika sebuah artikel ditolak, penulis seharusnya memperoleh alasan yang jelas sehingga dapat melakukan perbaikan. Dengan begitu, proses belajar akan terjadi dan kualitas tulisan akan semakin meningkat.

Sebagai guru, saya selalu mengajarkan kepada peserta didik bahwa kritik bukanlah bentuk kebencian. Kritik adalah masukan agar seseorang atau sebuah organisasi menjadi lebih baik. Demikian pula kritik kepada Kompasiana. Tujuan kita bukan menjatuhkan, melainkan menguatkan.

Saya mengajak seluruh sahabat Kompasianer untuk menyampaikan kritik dengan bahasa yang santun, data yang jelas, dan solusi yang nyata. Hindari caci maki, hinaan, atau tuduhan tanpa bukti. Mari kita tunjukkan bahwa para penulis Indonesia mampu menyampaikan pendapat secara dewasa.

Menurut saya, ada beberapa hal yang dapat menjadi perhatian tim admin Kompasiana.

Pertama, meningkatkan transparansi dalam proses moderasi artikel. Penulis akan lebih mudah memahami jika alasan penolakan dijelaskan secara spesifik, bukan hanya menggunakan kalimat umum yang terkadang sulit dipahami.

Kedua, mempercepat proses peninjauan artikel. Banyak penulis menulis isu yang sedang hangat. Jika artikel baru tayang setelah beberapa hari, nilai aktualitasnya menjadi berkurang sehingga semangat penulis ikut menurun.

Ketiga, menerapkan aturan yang konsisten kepada semua penulis. Jangan sampai muncul kesan bahwa ada standar yang berbeda antara satu akun dengan akun lainnya. Rasa keadilan adalah fondasi utama kepercayaan sebuah komunitas.

Keempat, memperkuat komunikasi dengan komunitas penulis. Sesekali mengadakan dialog terbuka atau forum diskusi akan menjadi jembatan yang sangat baik antara admin dan para kontributor. Dari sana akan lahir banyak masukan yang bermanfaat.

Kelima, terus memberikan apresiasi kepada penulis yang aktif dan konsisten menghasilkan karya berkualitas. Penghargaan tidak selalu harus berupa materi. Pengakuan, perhatian, dan komunikasi yang baik sering kali menjadi motivasi yang luar biasa.

Saya sendiri tetap memilih menulis setiap hari. Bagi saya, menulis bukan semata-mata mengejar jumlah pembaca atau penghargaan. Menulis adalah ibadah intelektual, cara berbagi pengalaman, sekaligus meninggalkan jejak kebaikan untuk generasi berikutnya.

Sejak tahun 2008 hingga sekarang, saya telah menyaksikan Kompasiana berkembang menjadi salah satu platform menulis terbesar di Indonesia. Saya berharap platform ini terus menjadi tempat yang nyaman bagi semua penulis. Untuk itu, diperlukan kerja sama antara pengelola dan komunitas penulis.

Kepada tim admin Kompasiana, izinkan kami menyampaikan kritik ini sebagai bentuk kepedulian. Kami percaya Anda semua memiliki semangat yang sama, yaitu menjadikan Kompasiana sebagai media warga yang kredibel, profesional, dan berkeadilan. Dengarkan suara para penulis, karena merekalah yang setiap hari menghidupkan platform ini dengan berbagai ide dan pengalaman.

Kepada sahabat Kompasianer, mari kita terus menulis dengan semangat, menjaga etika, menghormati perbedaan pendapat, dan tidak lelah memberikan masukan yang konstruktif. Kritik yang disampaikan dengan bijaksana akan jauh lebih bernilai daripada kemarahan yang hanya melahirkan permusuhan.

Saya yakin, apabila penulis dan tim admin berjalan beriringan, saling mendengar, dan saling menghargai, Kompasiana akan semakin maju serta menjadi rumah literasi digital yang membanggakan Indonesia.

Mari kita ramaikan ruang diskusi dengan kritik yang membangun, bukan dengan kebencian. Mari kita dorong profesionalisme, transparansi, dan keadilan demi masa depan Kompasiana yang lebih baik. Sebab, rumah yang baik adalah rumah yang mau mendengarkan suara penghuninya.

Salam literasi.

Omjay

"Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi."

Blog https://wijayalabs.com

https://youtube.com/shorts/A8HcH9bh3oM?si=m4F1PTlnbkOkYjUi

Inspirasi Pagi :
Kamis, 16 Juli 2026

-Ada yang diluaskan rezekinya dalam bentuk harta.
-Ada yang diluaskan rezekinya dalam  bentuk kesehatan.
-Ada yang diluaskan rezekinya dalam bentuk  ketenangan.
-Ada yang diluaskan rezekinya dalam bentuk kemudahan menerima ilmu.
-Ada yang diluaskan rezekinya dalam bentuk keluarga yang shalih.
-Ada yang diluaskan rezekinya dalam bentuk waktu dan kesempatan melakukan amal shalih.

"...Dan tidak satupun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya... " (QS. Hud ayat 6)

Tetap Semangat.
--------------------
Barakallah fiikum

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3