Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil OMJAY. Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, Menulis lah di blog Kompasiana Sebelum Tidur. HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Pagi tadi saya kembali membaca berita sambil menyeruput kopi. Sebagai guru yang setiap hari bertemu anak-anak muda, saya selalu tertarik dengan berita ekonomi. Bukan karena saya seorang ekonom, melainkan karena ekonomi pada akhirnya menyentuh kehidupan kita semua.
https://www.youtube.com/watch?v=oB_Ox4JNtBQ
Harga makanan menyentuh kehidupan keluarga, harga transportasi menyentuh kehidupan guru, harga buku dan perangkat teknologi menyentuh kehidupan siswa, bahkan uang jajan anak-anak di sekolah pun tidak bisa dilepaskan dari keadaan ekonomi orang tuanya.
Karena itu, ketika membaca berita bahwa Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa diganti oleh Suahasil Nazara pada Senin, 14 September 2026, saya langsung bertanya dalam hati: sebenarnya ada apa dengan ekonomi Indonesia?
Purbaya baru sekitar satu tahun menjabat sebagai Menteri Keuangan setelah menggantikan Sri Mulyani pada September 2025. Kini kursi Menteri Keuangan kembali berganti dan Suahasil Nazara, yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan, dipercaya menjadi Menteri Keuangan baru.
Pergantian menteri tentu merupakan hak prerogatif Presiden. Namun sebagai rakyat biasa sekaligus guru yang senang menulis, saya merasa kita tetap boleh bertanya dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Apakah Purbaya dicopot karena gagal mengelola ekonomi? Ataukah Presiden Prabowo membutuhkan sosok dengan pendekatan berbeda untuk menghadapi tantangan ekonomi Indonesia yang semakin kompleks?

Menurut saya, jawabannya tidak sesederhana itu. Dicopot dari jabatan tidak otomatis berarti seseorang gagal. Saya belajar dari dunia pendidikan bahwa seseorang yang diganti dari sebuah posisi belum tentu karena tidak mampu bekerja. Kadang seorang kepala sekolah diganti bukan karena sekolahnya buruk, tetapi karena yayasan membutuhkan kepemimpinan baru. Kadang ketua panitia diganti bukan karena gagal, tetapi karena organisasi memasuki fase berbeda.
Bahkan dalam pertandingan sepak bola, pemain yang ditarik keluar lapangan belum tentu bermain buruk. Bisa jadi pelatih membutuhkan strategi baru. Begitu pula dengan seorang menteri. Presiden bisa saja menilai bahwa pada situasi tertentu dibutuhkan orang dengan gaya, pendekatan, atau strategi yang berbeda. Karena itu saya kurang setuju kalau pergantian Purbaya langsung diberi kesimpulan bahwa Purbaya gagal.
