Yudha Shanny
Yudha Shanny Supir

Counter Opini Positif Garuda Di Dadaku

Selanjutnya

Tutup

Video

Ganjar: Pekerja Bukan Alat, Ada Keluarga dan Martabat

15 September 2026   15:20 Diperbarui: 15 September 2026   15:20 248 0 0


Foto Dok. Pri
Foto Dok. Pri

SLEMAN - Ketika berbicara tentang kesehatan pekerja, perhatian kita sering berhenti pada kesehatan fisik. Padahal ada bagian lain yang tidak kalah penting dan sering tidak terlihat: kesehatan mental.

PHK, tekanan jam kerja, lembur yang tidak dibayar, perundungan di tempat kerja, kekerasan atau pelecehan seksual, hingga persoalan gender bukan sekadar persoalan hubungan antara pekerja dan perusahaan. Semua itu dapat meninggalkan tekanan psikologis yang dalam. 

Ada pekerja yang kehilangan penghasilan, ada yang kehilangan rasa aman, bahkan ada yang setiap hari datang ke tempat kerja dengan beban yang tidak pernah terlihat oleh orang lain.

Karena itu, ketika Ganjar Pranowo berbicara mengenai kesehatan mental pekerja, sesungguhnya yang sedang dibicarakan bukan hanya bagaimana seseorang mengelola stres. Yang lebih penting adalah bagaimana menciptakan lingkungan kerja yang manusiawi, aman, adil, dan menghargai martabat pekerja.

Pekerja bukan sekadar tenaga untuk menghasilkan keuntungan. Di balik setiap target, angka produksi, laporan keuangan, dan pertumbuhan perusahaan, ada manusia yang memiliki keluarga, kebutuhan hidup, harapan, dan batas kemampuan.

Karena itu pula, persoalan PHK harus dilihat lebih jauh. Ketika perekonomian melemah dan perusahaan terpaksa melakukan efisiensi, dampaknya tidak berhenti pada neraca perusahaan. Di balik satu keputusan PHK ada satu keluarga yang kehilangan kepastian penghasilan. 

Ada cicilan yang harus dibayar, pendidikan anak yang harus dilanjutkan, dan masa depan yang tiba-tiba menjadi tidak pasti.

Maka harapan agar perekonomian segera membaik bukan sekadar harapan tentang angka pertumbuhan ekonomi. Ekonomi yang tumbuh seharusnya juga berarti semakin banyak orang memperoleh pekerjaan dan semakin sedikit keluarga yang kehilangan sumber penghidupannya.

Begitu pula dengan janji penyediaan jutaan lapangan kerja. Masyarakat tentu berharap janji tersebut tidak berhenti menjadi angka dalam pidato atau slogan politik. Lapangan kerja harus benar-benar hadir, produktif, layak, dan memberikan kepastian bagi mereka yang menggantungkan kehidupan dari pekerjaan tersebut.

Negara memiliki tanggung jawab untuk menciptakan ekosistem yang memungkinkan perusahaan tumbuh sekaligus memastikan pekerja mendapatkan perlindungan. Keduanya tidak harus dipertentangkan. 

Perusahaan membutuhkan pekerja yang sehat dan produktif, sementara pekerja membutuhkan perusahaan yang sehat dan berkelanjutan.

Pada akhirnya, kesehatan mental pekerja adalah bagian dari kualitas kehidupan bangsa. Kita tidak cukup hanya menghitung berapa banyak lapangan kerja yang tercipta.

Kita juga perlu bertanya: seperti apa kehidupan orang-orang yang bekerja di dalamnya?

Sebab pekerjaan seharusnya menjadi jalan menuju kehidupan yang lebih baik, bukan sumber ketakutan yang perlahan menggerus kesehatan dan martabat manusia.

Ekonomi yang baik bukan hanya membuat perusahaan bertahan. Ekonomi yang baik adalah ketika manusia yang bekerja di dalamnya juga dapat hidup dengan aman, layak, dan bermartabat.

Source: X @arifin34533

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2