youghtly
youghtly Lainnya

tulisan merupakan pelarian dari liarnya pikiran

Selanjutnya

Tutup

Video

Film Empat Musim Pertiwi Dari Kacamata Pribadi

14 Oktober 2026   13:50 Diperbarui: 14 Oktober 2026   13:50 199 0 0

Setelahnya, alur cerita dimulai. Dari awal penonton akan bertanya banyak hal, namun jika kita sabar memerhatikannnya, pola-pola kosong itu akan diisi secara sempurna oleh sang sutradara.

Premisnya sebetulnya sederhana, dan mengingatkanku sedikit pada film terbaik festival film Indonesia tahun 2023, Women From Rote Island. Perjuangan seorang Wanita bernama pertiwi menjalani kehidupan dengan kantung traumanya. Setelah keluar dari penjara, ia memutuskan kembali ke kampung halamannya, tempat terakhir dirinya dihukum secara tak adil.

Putri Marino yang berperan sebagai Pertiwi membuatku geleng-geleng saat dirinya begitu apik menjiwai setiap adegan. Aku ingat saat dirinya menjelaskan pada Mak Ira mengenai apa yang sebenarnya Pertiwi alami beberapa tahun lalu, sorot mata yang kelu dan ekspresi wajahnya yang kosong menampilkan perjuangan seseorang yang telah melewati luka batin sangat Panjang. Tak lama dari itu pertiwi meneteskan peluhnya yang sudah lama ia taruh.

"Woah, gila" Lagi dan lagi kalimat andalan itu keluar, kali ini tanpa sahutan dari manusia sebelahku.

Aku tak mengkerdilkan akting seorang pemeran ketika menunjukan kesedihan, hanya saja biasanya kesedihan selalu digambarkan dengan isak tangis yang menderu, pada beberapa adegan Putri Marino bukan hanya menampilkan kesedihan itu, tapi selalu berhasil menerjemahkan dengan ekspresi yang membuat kita tahu apa cerita dibalik air matanya.

Pertiwi menatap lengannya sendiri
Pertiwi menatap lengannya sendiri

Tak hanya Putri Marino sebagai Pertiwi yang begitu apik menampilkan perannya, Arya Saloka sebagai Bisma atau aktor-aktor senior yang memerankan setiap perannya, membuat film ini begitu hidup pada tiap percakapannya.

Mak Ira merupakan salah satu peran yang aku rasa banyak dicintai penonton, karakternya yang lucu dan polos namun memiliki kedalaman hati menjadi sosok pemecah di antara ketegangan.

Satu hal juga yang kusorot perihal penulisan dan rasa yang ditunjukan pada setiap adegan, mereka selalu menunjukan jeda. Jeda ini sangat penting menurutku, karena sering kali rasa yang ingin sampaikan oleh sang sutradara dapat dibungkus dengan baik saat tidak adanya percakapan, lalu digantikan melalui ekspresi, latar musik, atau sekadar gambar hitam yang memenuhi layer kaca.

Oh iya, aku juga tertarik perihal penggunaan animasi pada beberapa adegan, dapat kupertanggungjawabkan bahwa efek editing untuk menggabungkan antara dunia nyata dengan dunia fiksi demi terbangunnya dunia sureal adalah yang terbaik sejauh ini, dari semua film lokal yang pernah aku nikmati, aku tak merasakan kengiluan karena paksaan editan. Aku ingat saat adegan terakhir ketika akhirnya penonton mengetahui siapa sosok di balik mata merah yang beberapa kali muncul pada awal dan tengah adegan, menjelma sebagai sosok singa berupa efek CGI yang sangat nyata. Aku bertepuk tagan, betapa mulus perpaduan efek dan sudut kameranya.

sc : Yt Trailer Empat Musim Pertiwi
sc : Yt Trailer Empat Musim Pertiwi

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4