youghtly
youghtly Lainnya

tulisan merupakan pelarian dari liarnya pikiran

Selanjutnya

Tutup

Video

Film Empat Musim Pertiwi Dari Kacamata Pribadi

14 Oktober 2026   13:50 Diperbarui: 14 Oktober 2026   13:50 209 0 0

Pertiwi Dan BismaSc : Yt Trailer Empat Musim Pertiwi 
Pertiwi Dan BismaSc : Yt Trailer Empat Musim Pertiwi 

Sekitar satu bulan lalu, aku mendapati poster film Empat Musim Pertiwi dalam unggahan Istagram ussfeeds. Narasinya membuat mataku terbelalak.

Film "Empat Musim Pertiwi" Karya Kamila Andini dipilih jadi wakil Indonesia untuk kategori Internasional Feature Film DI Oscar 2027

Tunggu....Oscar? Film Indonesia? Kepalaku kesulitan mencerna maksud narasinya, yang ada dalam benakku film ini akan sangat luar biasa, dan sayang sekali jika tak kusaksikan. Lupakan sejenak mengenai apa premis ceritanya, siapa pemainnya, atau siapa pembuat filmnya, aku langsung menekan tombol pada mesin pencarian.

8 Oktober 2026 film ini akan tayang

"Satu bulan lagi" Pekikku pada diri sendiri. Tanpa banyak tawar aku mengajak temanku untuk menonton film ini.

"Jika dalam hidupmu tak pernah menyaksikan film buatan lokal yang menggetarkan jiwa, aku bertaruh film ini salah satu yang akan memberikannya" Setelah teknik presentasi Steve Jobs berhasil kulancarkan, ia mengamini tawaran.

"Tabik!" Seruan itu menggudara pada langit-langit kamar sendirian.

Satu minggu berjalan, dua minggu terlewatkan, tiga minggu pembahasan itu dilupakan. Hingga muncul lagi alarm ingatan yang kubaca pada beberapa media.

"Oh iya, film ini. Satu minggu lagi" Kubuka percakapan di antara tema yang tak pernah karuan. Setelah kami mencocokan jadwal, 10 Oktober 2026 Pukul 19.25 CGV Istana Bandung Electronic Center, resmi tertanggal.

Ekspektasiku tinggi setelah semua riset informasi dan beberapa narasi mengenai film ini selalu aku dapati

"Menurutmu berapa nilainya film ini?" Kulempar tanya pada kursi D9.

"8 dari 10" Lenggang sejenak

"Emm 7.5 deh, lock!" Dari jawabannya ia menyisakan ruang kecewa, sedangkan aku? Tentu tidak!

"12 per 10" Semringah senyumku menampilkan deretan gigi.

Bagaimanapun narasi pertama saat diriku mendapati film, ini akan selalu kupegang hingga lampu sinema kembali menyala.

Dan tak selang beberapa lama, rol film ini mulai diputar.

Sebelum aku lebih jauh membahas mengenai isi filmnya aku perlu menggaris bawahi, bahwa semua yang kutulis, adalah murni pendapat dari seorang manusia yang tak tahu apa-apa mengenai dunia kamera, akting, skrip, bahkan music latarnya. Apa yang akan kusampaikan merupakan sudut pandang dari seseorang yang menyaksikan sedikit sekali karya seni perfilman di dunia, dan karena ini karya film Indonesia aku akan menggunakan kacamata yang setara.

Cerita di mulai saat Pertiwi tengah tergelatak di atas rerumputan. Setidak-tidaknya pada satu menit pertama aku telah mencintai dua hal. Yang pertama sinematografinya, dan yang kedua adalah musik latarnya. Entah mengapa rasa yang keluar saat sorot kamera gelap dan suara nafas pertiwi yang mengisi, lalu objek acak yang perlahan terdefinisi mengingatkanku pada rasa saat diriku menonton Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak. Gelisah, penuh tanya, dan rasa terpesona dari sajian sudut kamera membuatku bergidik di menit pertama.

Poster Marlina si pembunuh dalam empat babak
Poster Marlina si pembunuh dalam empat babak

Aku teringat hamparan Sumba yang diberhasil direkam oleh film Marlina termanifestasi jauh lebih baik di film Pertiwi ini. Kaki Gunung Bromo membuat dengkul dan mataku melongo.

"Woah, gila" Mulutku mengecap, manusia disampingku menyetujuinya.

Bersamaan dari itu, musik latar sejak menit awal telah menancap relung sukmaku, sebagai salah satu musik latar terbaik yang pernah aku dengarkan.

Setelahnya, alur cerita dimulai. Dari awal penonton akan bertanya banyak hal, namun jika kita sabar memerhatikannnya, pola-pola kosong itu akan diisi secara sempurna oleh sang sutradara.

Premisnya sebetulnya sederhana, dan mengingatkanku sedikit pada film terbaik festival film Indonesia tahun 2023, Women From Rote Island. Perjuangan seorang Wanita bernama pertiwi menjalani kehidupan dengan kantung traumanya. Setelah keluar dari penjara, ia memutuskan kembali ke kampung halamannya, tempat terakhir dirinya dihukum secara tak adil.

Putri Marino yang berperan sebagai Pertiwi membuatku geleng-geleng saat dirinya begitu apik menjiwai setiap adegan. Aku ingat saat dirinya menjelaskan pada Mak Ira mengenai apa yang sebenarnya Pertiwi alami beberapa tahun lalu, sorot mata yang kelu dan ekspresi wajahnya yang kosong menampilkan perjuangan seseorang yang telah melewati luka batin sangat Panjang. Tak lama dari itu pertiwi meneteskan peluhnya yang sudah lama ia taruh.

"Woah, gila" Lagi dan lagi kalimat andalan itu keluar, kali ini tanpa sahutan dari manusia sebelahku.

Aku tak mengkerdilkan akting seorang pemeran ketika menunjukan kesedihan, hanya saja biasanya kesedihan selalu digambarkan dengan isak tangis yang menderu, pada beberapa adegan Putri Marino bukan hanya menampilkan kesedihan itu, tapi selalu berhasil menerjemahkan dengan ekspresi yang membuat kita tahu apa cerita dibalik air matanya.

Pertiwi menatap lengannya sendiri
Pertiwi menatap lengannya sendiri

Tak hanya Putri Marino sebagai Pertiwi yang begitu apik menampilkan perannya, Arya Saloka sebagai Bisma atau aktor-aktor senior yang memerankan setiap perannya, membuat film ini begitu hidup pada tiap percakapannya.

Mak Ira merupakan salah satu peran yang aku rasa banyak dicintai penonton, karakternya yang lucu dan polos namun memiliki kedalaman hati menjadi sosok pemecah di antara ketegangan.

Satu hal juga yang kusorot perihal penulisan dan rasa yang ditunjukan pada setiap adegan, mereka selalu menunjukan jeda. Jeda ini sangat penting menurutku, karena sering kali rasa yang ingin sampaikan oleh sang sutradara dapat dibungkus dengan baik saat tidak adanya percakapan, lalu digantikan melalui ekspresi, latar musik, atau sekadar gambar hitam yang memenuhi layer kaca.

Oh iya, aku juga tertarik perihal penggunaan animasi pada beberapa adegan, dapat kupertanggungjawabkan bahwa efek editing untuk menggabungkan antara dunia nyata dengan dunia fiksi demi terbangunnya dunia sureal adalah yang terbaik sejauh ini, dari semua film lokal yang pernah aku nikmati, aku tak merasakan kengiluan karena paksaan editan. Aku ingat saat adegan terakhir ketika akhirnya penonton mengetahui siapa sosok di balik mata merah yang beberapa kali muncul pada awal dan tengah adegan, menjelma sebagai sosok singa berupa efek CGI yang sangat nyata. Aku bertepuk tagan, betapa mulus perpaduan efek dan sudut kameranya.

sc : Yt Trailer Empat Musim Pertiwi
sc : Yt Trailer Empat Musim Pertiwi

Dan soal alur cerita aku tak mau banyak menjelaskan secara detail, selain karena memang tulisan ini akan jadi sangat Panjang jika kuceritakan, aku ingin siapa pun yang membaca ikut tergerak untuk tahu apa isi ceritanya melalui pengalamannya sendiri. Film ini adalah salah satu film lokal terbaik yang pernah aku nikmati.

Namun aku ingin mengatakan bahwa aku menyukai sekaligus kelelahan pada adegan-adegan menyentil hati yang rasanya dekat sekali dengan kondisi negeri. Alur mengenai trauma seorang wanita yang direbut dan dilecehkan adalah hal yang banyak menguras tenaga juga. Lalu peran-peran semacam Junet dan juga Raras sebagai orang-orang berkebutuhan khusus membuat kita semakin gusar akan pandangan sosial yang sering kali menyudutkan bahkan mengucilkan hak-hak mereka. Lalu tokoh Fajar yang merupakan antagonis cerita nampaknya begitu teresonansi pada tokoh-tokoh masyarakat yang ada di sekitar kita.

Terakhir, saat cerita selesai ada semacam lubang yang mengaga dalam benakku. Tatkala langkah kaki meninggalkan ruangan ada lelah yang teremban, entah mengapa melihat sosok pertiwi membuat hatiku ditusuk berkali-kali, perjuangan melawan trauma, perjuangan menyuarakan suara, hingga perjuangan menindak ketidakadilan dengan tangannya sendiri adalah sesuatu yang membuatku berpikir beberapa kali, bahkan sampai aku menulis hari ini. Sehebat apa manusia yang terus berjalan dengan luka-lukanya, sehebat apa manusia yang tetap hidup dengan ketidakadilan yang diterimanya, sehebat apa manusia yang tetap bersuara saat jiwanya melawan trauma.

Mari menyapa, mari membaca, mari bercerita, mari bertanya!

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4