Seorang perangkai kata yang berusaha terus memberi dan menjangkau sesama. I Seorang guru di SMP PIRI, SMA dan SMK Perhotelan dan SMK Kesehatan. I Ia juga seorang Editor, Penulis dan Pengelola Penerbit Bajawa Press. I Melayani konsultasi penulisan buku. I Pemenang III Blog Competition kerjasama Kompasiana dengan Badan Bank Tanah

Pukul setengah tujuh pagi, jalan menuju Jalan dr. Sutomo sudah berubah wajah. Bukan lagi jalan raya yang biasa saya lalui dengan tenang, melainkan lautan kendaraan yang merayap pelan-pelan, diselingi klakson bersahutan dan asap knalpot yang menggantung di udara. Antrean mengular lebih dari lima ratus meter, bahkan naik sampai ke atas jembatan layang Lempuyangan, kemacetan yang jarang saya jumpai sepagi itu. Jantung sempat berdegup sedikit lebih cepat, jam di pergelangan tangan seakan berdetak lebih kencang dari biasanya.
Untung saja, sekolah yang dituju tak jauh dari titik kemacetan itu. Letaknya yang dekat dengan kawasan Stasiun Lempuyangan biasanya jadi berkah tersendiri, dan pagi itu terbukti benar: meski jalanan nyaris mengunci semua kendaraan, kami masih sempat tiba di gerbang sebelum apel dimulai.
Ada semacam pelajaran kecil di balik pengalaman itu, bahwa jalan menuju sesuatu yang baru jarang mulus, tapi selama jaraknya tak terlalu jauh dari titik perjuangan, semua akan sampai juga pada waktunya.
Di depan gerbang, pemandangannya khas hari pertama: ratusan anak berseragam putih biru, kemeja masih kaku dan licin bekas lipatan baru, beberapa terlihat kedodoran karena sengaja dibeli agak besar "biar awet dua tahun." Namun di antara lautan putih biru itu, ada beberapa anak yang masih mengenakan seragam SD (merah putih atau seragam sekolah lamanya) karena seragam SMP mereka belum jadi.
Mereka berdiri agak canggung, tapi tak ada yang mempermasalahkan. Justru pemandangan itu terasa jujur: hari pertama memang bukan tentang keseragaman yang sempurna, melainkan tentang keberanian melangkah meski belum sepenuhnya "siap rupa."
Di halaman sekolah, anak-anak dari puluhan SD berbeda di seluruh Yogyakarta berkumpul jadi satu angkatan. Ada yang datang dengan wajah percaya diri karena sudah kenal beberapa teman sejak SD, ada pula yang berdiri sendirian, menunduk, mencuri-curi pandang mencari kawan bicara pertama.
Perkenalan-perkenalan kecil yang canggung itu (tanya nama, tanya SD mana, tanya rumah di mana) sesungguhnya adalah benih dari persahabatan tiga tahun ke depan yang belum mereka sadari sedang mulai tumbuh.
Upacara Pembukaan Tahun Ajaran Baru 2026/2027 (sumber video SMP Kanisius Gayam)
Hari pertama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) diawali dengan Upacara Pembukaan Tahun Ajaran 2026/2027 yang dipimpin OSIS, dilanjutkan penyesuaian terhadap kebiasaan baru di jenjang dan lingkungan kelas yang berbeda.
Yang menarik, sebelum anak-anak diperkenalkan pada hal-hal teknis, sekolah lebih dulu mengajak mereka mengingat kembali sesuatu yang jauh lebih mendasar: visi, misi, dan nilai dasar Yayasan Kanisius. Sesi ini mudah terlihat seperti formalitas seremonial biasa, padahal sesungguhnya inilah fondasi yang akan menopang seluruh proses belajar tiga tahun ke depan.
Visi sekolah ini, sebagaimana tertulis di hampir setiap sudut ruang kelas dan koridor, pada intinya menegaskan cita-cita menjadikan anak-anak Indonesia sebagai pribadi yang cerdas, berkarakter, serta punya kepedulian terhadap sesama dan lingkungannya.
Misinya diwujudkan melalui penyelenggaraan pendidikan dasar dan menengah yang berkualitas, dengan pendekatan yang dikenal sebagai Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR), sebuah pola belajar yang tidak berhenti pada transfer pengetahuan, tapi selalu mengajak siswa mengalami, merefleksikan, lalu bertindak.
Cita-cita besar itu sebenarnya bergema dari semangat yang lebih tua, semangat para pendiri sekolah-sekolah Kanisius: mendidik bukan sekadar untuk mencetak anak pintar, melainkan menumbuhkan hati nurani yang jujur, kompetensi yang mumpuni, dan kepedulian sosial yang tulus, tiga hal yang sering disingkat sebagai conscience, competence, dan compassion.
Nilai-nilai dasar Kanisius yang disegarkan kembali pagi itu terangkum dalam lima kata yang akan terus mereka dengar sepanjang tiga tahun: Kasih, yang berarti beriman dan peduli pada sesama; Disiplin, yang berarti tertib dan bertanggung jawab; Cerdas, yang berarti mau bekerja keras dan pantang menyerah; Berani, yang berarti kritis, kreatif, dan percaya diri; serta Kejujuran, yang berarti bisa dipercaya dan diandalkan.
Lima nilai itu bukan sekadar poster di dinding, melainkan kompas kecil yang diharapkan terus dipegang anak-anak setiap kali mereka menghadapi pilihan.
Ada satu hal yang membuat saya berhenti sejenak merenung: lambang sekolah ini berupa perahu yang berlayar di tengah lautan, dengan matahari terbit sebagai latarnya, simbol perjalanan hidup insan Kanisius yang senantiasa menatap ke depan sambil mempercayakan diri pada Yang Kuasa, dengan iman dan ilmu sebagai dua dayung yang menuntunnya menuju kehidupan baru.
Rasanya pas sekali dengan apa yang sedang dijalani anak-anak pagi itu: mereka baru saja berlayar meninggalkan dermaga lama bernama sekolah dasar, menuju laut yang lebih luas dan penuh tantangan bernama SMP.
Setelah visi dan nilai ditata ulang, barulah sekolah memperkenalkan lingkungan fisik dan memaparkan kurikulum Tahun Ajaran 2026/2027. Sepintas ini terdengar teknis, daftar mata pelajaran, jam belajar, sistem penilaian. Tapi bagi anak yang baru sehari lalu masih berseragam SD, pemaparan kurikulum sesungguhnya punya makna yang jauh lebih besar dari sekadar informasi administratif: ia adalah peta.
Anak-anak yang baru pindah jenjang biasanya membawa satu jenis kecemasan yang sama, ketidaktahuan. Tidak tahu bagaimana ritme belajar di SMP, tidak tahu apa yang dituntut dari mereka, tidak tahu ke mana harus mencari pertolongan bila kesulitan.
Pemaparan kurikulum di hari pertama menjawab kecemasan itu bukan dengan menghilangkannya sepenuhnya, tapi dengan memberi gambaran arah: bahwa ada jalan yang sudah dipetakan, ada guru yang akan menuntun, dan ada tahapan yang bisa mereka lalui setahap demi setahap.
Bagi orang tua yang menunggu di luar gerbang, informasi itu sama pentingnya, semacam jaminan bahwa anak yang dititipkan pagi itu tidak akan berjalan sendirian menyusuri koridor-koridor baru itu.
Kegiatan hari pertama berakhir pukul 12.30 WIB, tapi apa yang ditanamkan pagi itu jelas dirancang untuk bertahan jauh lebih lama dari lima jam.
Saat menjemput atau pulang (atau menunggu cerita anak sepulang sekolah) saya membayangkan apa yang benar-benar akan mereka bawa pulang untuk diceritakan kepada orang tua. Sebuah kebanggaan utama bahwa mereka sekarang bukan SD lagi, tetapi sudah SMP. Kebanggaan semacam ini perlu dipupuk agar anak-anak segera membaur dengan dunia pembelajaran yang baru, dunia pergaulan yang baru. Dan terutama tentu saja, dunia perkembangan psikologis yang baru: dari masa anak-anak ke masa remaja.
Singkat kat, bukan hanya jadwal pelajaran atau nama-nama guru baru, melainkan sesuatu yang lebih halus: rasa bahwa mereka baru saja diterima di sebuah komunitas yang punya arah, punya nilai, dan punya cerita panjang sebelum mereka.
Mengantar anak di hari pertama sekolah selalu punya rasa yang khas, campuran antara lega, haru, dan sedikit was-was yang sulit dijelaskan.
Barangkali karena momen itu mengingatkan kita pada hari pertama kita sendiri, entah berapa puluh tahun silam, ketika seragam masih terasa kaku dan wajah-wajah di sekeliling masih terasa asing.
Bedanya, dulu kita berdiri di titik itu sebagai anak yang dituntun; sekarang kita berdiri di gerbang yang sama sebagai orang yang menuntun. Dan mungkin, di situlah letak keindahan sesungguhnya dari hari pertama sekolah: ia terus berulang, tapi tak pernah benar-benar sama.
Macet pagi itu akhirnya terlewati. Begitu pula, semoga, segala kecemasan kecil yang menyertai langkah pertama anak-anak putih biru di SMP Kanisius Gayam.