Seorang perangkai kata yang berusaha terus memberi dan menjangkau sesama. I Seorang guru di SMP PIRI, SMA dan SMK Perhotelan dan SMK Kesehatan. I Ia juga seorang Editor, Penulis dan Pengelola Penerbit Bajawa Press. I Melayani konsultasi penulisan buku. I Pemenang III Blog Competition kerjasama Kompasiana dengan Badan Bank Tanah
Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, pakar filsafat dan pendidikan, menegaskan bahwa pendidikan bukan sekadar mencetak orang pintar melainkan memanusiakan manusia. Karena itu, MPLS adalah momen emas untuk menanamkan benih cara berpikir kritis, rasa ingin tahu, dan tanggung jawab belajar sejak langkah pertama.
Ditinjau dari sisi psikologis, langkah memasuki lingkungan baru seringkali memicu kecemasan, ketakutan, dan keraguan diri. Karena itu, MPLS yang ramah dan mendukung menjadi kunci untuk membangun rasa aman, rasa memiliki, dan kepercayaan diri yang kokoh. Ketika hati siswa merasa tenang dan diterima sepenuhnya, potensi kecerdasan yang dimilikinya pun akan tumbuh subur tanpa hambatan rasa takut.
Prof. Dr. Siti Zainab, ahli psikologi perkembangan anak, menjelaskan bahwa pengalaman awal di sekolah akan membentuk pola pikir anak selama bertahun-tahun. MPLS yang positif mampu membangun ketahanan mental, kemampuan bersosialisasi, dan semangat belajar yang berkelanjutan.
Dr. Haryanto, pakar psikologi pendidikan, menambahkan data bahwa anak yang merasa diterima dan didukung di awal masa sekolah memiliki motivasi belajar hingga tiga puluh tujuh persen lebih tinggi dibandingkan mereka yang memulai dengan rasa takut atau cemas berlebih.
Secara sosiokultural, setiap sekolah memiliki identitas dan budaya khas yang perlu diwariskan. MPLS menjadi ruang paling tepat untuk melakukannya secara alami tanpa paksaan. Di sini siswa belajar menghormati perbedaan, mematuhi norma yang disepakati bersama, dan tumbuh sebagai bagian dari komunitas yang saling menguatkan, sesuai cita-cita Profil Pelajar Pancasila.
Romo Agustinus Sarwono, SJ, pakar pendidikan karakter Katolik, menegaskan makna pendekatan berbasis nilai seperti yang dijalankan di SMP Kanisius Gayam. Menurut beliau, tugas pendidik bukan hanya mengajar melainkan menuntun hati, hadir untuk melayani pertumbuhan setiap anak dengan kasih tulus agar mereka memahami kebersamaan dan pelayanan sebagai bagian dari identitas dirinya.
Abdullah Ubaid Matraji, Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia, mengingatkan bahwa budaya sekolah tidak terbentuk lewat aturan tertulis semata, melainkan dirasakan lewat interaksi sehari-hari. MPLS adalah waktu terbaik untuk menanamkan budaya inklusif dan saling menghargai tanpa sekat apapun.
Seluruh rangkaian kegiatan ini pun berjalan sejalan dengan semangat Kurikulum Merdeka yang mengutamakan pembelajaran mendalam serta pembelajaran berkeadilan.
Pembelajaran mendalam diwujudkan lewat kegiatan yang tidak sekadar memindahkan informasi, melainkan mengajak siswa memahami makna di balik apa yang dipelajari, menghubungkannya dengan pengalaman nyata, dan merasakan relevansinya bagi kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, pembelajaran berkeadilan tercermin dari upaya memastikan setiap siswa mendapatkan perlakuan setara, dihargai apa adanya, dan didukung sesuai kebutuhan pribadinya. Tidak ada satu pun yang tertinggal di belakang.
Tatang Muttaqin, Dirjen Pendidikan Menengah dan Khusus Kemendikdasmen, menyatakan bahwa Kurikulum Merdeka menuntut kita melihat setiap murid sebagai individu yang unik. MPLS adalah langkah awal untuk memahami keunikan mereka demi mewujudkan pembelajaran yang benar-benar bermakna bagi semua.