Seorang perangkai kata yang berusaha terus memberi dan menjangkau sesama. I Seorang guru di SMP PIRI, SMA dan SMK Perhotelan dan SMK Kesehatan. I Ia juga seorang Editor, Penulis dan Pengelola Penerbit Bajawa Press. I Melayani konsultasi penulisan buku. I Pemenang III Blog Competition kerjasama Kompasiana dengan Badan Bank Tanah
Bacaan Minggu Biasa XVII | Hari Orang Tua, Kakek dan Nenek Sedunia | Bazar Ulang Tahun Paroki Minomartani ke-28
Matahari pagi itu menyelinap lembut di antara celah-celah kanopi dan atap tenda yang berdiri tegak di halaman Gereja Minomartani. Angin berhembus hangat, membawa wangi masakan yang tersaji dan menyelinap di antara rambut nenek-nenek yang berjalan beriringan, serta tawa riang anak-anak yang berlari kecil sambil menggandeng tangan ayah dan ibu mereka.
Hari ini bukan sekadar hari Minggu biasa. Hari ini adalah hari ketika kita merenungkan apa yang paling berharga dalam hidup, sambil merayakan kasih orang tua, kakek, dan nenek yang menjadi guru pertama kita mengenal hikmat dan kasih, serta merayakan 28 tahun perjalanan iman paroki dalam sukacita berbagi.
Dari Kitab Raja-Raja Pertama, kita mendengar kisah Salomo yang masih muda, berdiri di hadapan Tuhan saat diberi kesempatan meminta apa saja yang ia inginkan. Ia tidak meminta umur panjang, kekayaan, atau kemenangan atas musuh-musuhnya.
Ia hanya meminta hati yang paham, hikmat untuk membedakan yang baik dan yang jahat, agar dapat memimpin umat Allah dengan adil. Dan Tuhan pun berkenan memberikan permintaan itu, bahkan melimpahkannya melebihi apa yang ia bayangkan.
Mazmur tanggapan menguatkan kembali: "Betapa kucintai Taurat-Mu, ya Tuhan. Lebih berharga daripada ribuan keping emas dan perak." Rasul Paulus menegaskan pula bahwa Allah bekerja dalam segala hal untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi-Nya, dan memanggil kita untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya.
Dalam Injil, Yesus mengajarkan perumpamaan Kerajaan Surga: bagaikan harta terpendam di ladang atau mutiara berharga, yang membuat pemiliknya rela melepaskan segala miliknya untuk memilikinya. Ia juga mengingatkan pada pemilahan di akhir zaman, serta bahwa setiap pengikut Kristus adalah tuan rumah yang mengeluarkan harta baru dan lama dari perbendaharaan iman.

Bacaan hari ini berpadu indah dengan perayaan kasih kepada orang tua dan leluhur kita. Bukankah merekalah yang pertama kali mengajarkan kita memilih hikmat di atas harta duniawi?
Mereka mungkin tidak memiliki banyak harta atau jabatan tinggi, namun mewariskan cara membedakan yang benar dan yang salah, serta kesetiaan pada firman Tuhan yang lebih berharga daripada emas.
Tangan yang dulu menuntun langkah kecil kita kini mulai keriput; suara yang dulu memanggil nama kita kini mulai serak. Namun, doa dan nasihat mereka tetap menjadi cahaya penuntun.
Mereka adalah saksi hidup firman Tuhan: menjaga iman di tengah kesulitan, setia pada janji, dan mengajarkan kita bahwa kasih sejati tidak pernah menuntut balasan, melainkan memberi sepenuh hati.

Di halaman gereja hari ini, perumpamaan Injil menjadi nyata dalam bazar umat. Setiap lingkungan membuka satu stand, bukan sekadar jual beli, melainkan wujud syukur dan persekutuan.
Di sini harta lama dan baru bertemu: resep masakan turun-temurun disajikan dengan sentuhan tangan anak cucu; cerita perjalanan paroki selama 28 tahun disampaikan bersama sukacita yang baru.
Seorang kakek menceritakan bagaimana dulu ia ikut membangun gereja ini bersama orang-orang yang kini sudah mendahului kita; seorang ibu menata kue yang resepnya diteruskan dari ibunya yang dulu juga aktif melayani di sini.
Bazar ini adalah tanda bahwa apa yang kita terima dari Tuhan dan dari generasi terdahulu, semakin indah dan berarti saat kita bagikan kembali. Seperti orang yang menemukan harta terpendam, kita merayakan bahwa Kerajaan Allah sudah hadir di tengah persaudaraan kita.
Ketiga peristiwa ini saling melengkapi dan menjadi satu pesan besar bagi kita semua: Salomo mengajarkan untuk memilih hikmat; orang tua dan leluhur kita membuktikan hikmat itu dalam kehidupan sehari-hari; sedangkan bazar ini menjadi cara kita menjalankan hikmat itu lewat saling berbagi.
Bagi umat Minomartani, hari ini mengingatkan: kita adalah penerus harta iman yang tak ternilai harganya. Marilah kita menghargai dan menghormati orang tua serta leluhur kita sebagai akar kehidupan kita. Marilah kita merawat persekutuan paroki ini dengan kasih dan sukacita, sebagaimana kita rasakan hari ini.
Dan marilah kita, seperti tuan rumah yang bijak, selalu mampu mengeluarkan dari perbendaharaan iman kita hal-hal yang lama yang tetap setia dan hal-hal yang baru yang tetap memancarkan kasih Kristus, sehingga iman ini terus hidup dan diwarisi oleh generasi yang akan datang.
Karena harta yang paling berharga bukanlah yang tersimpan di lemari besi, melainkan hikmat yang memimpin hidup, kasih yang mengikat lintas generasi, dan Kerajaan Allah yang kita temukan dalam persaudaraan yang saling berbagi.