Dalam masa pembuangan setelah Pandawa kalah judi dari Kurawa karena akal licik Sengkuni, lalu Arjuna bertapa di Gunung Indrakila untuk mencari ketenangan dan kekuatan melawan Kurawa.

Pada saat yang sama, kahyangan Jonggring Saloka sedang kalut karena diobrak-abrik oleh Niwatakawaca seorang raja di Manimantaka yang merupakan bangsa gandarwa (Jawa: gendruwo) atau bangsa makhluk halus.
Niwatakawaca akan berhenti merusak kedamaian Jonggring Saloka jika ia bisa mengawini Supraba salah satu dari tujuh bidadari di kahyangan Jonggring Saloka. Mereka adalah Supraba, Tilotama, Warsiki, Surendra, Gagarmayang, Tunjung Biru, dan Lelet Mulat.

Betara Indra, salah satu dewa di kahyangan Jonggring Saloka lalu meminta bantuan Arjuna yang sedang bertapa. Untuk mengetahui keteguhan Arjuna dalam laku tapa maka diutuslah Supraba untuk membangunkan Arjuna. Ternyata Supraba dan bidadari lainnya tidak berhasil menggoda Arjuna.
Betara Indra pun percaya pada keteguhan Arjuna dan memberinya pusaka Pasopati dan diminta mengalahkan Niwatakawaca.

Niwatakawaca yang dibantu para sekutunya berhasil mengalahkan para ksatria dan dewa di Jonggring Saloka.
Supraba yang harus menerima kenyataan pahit menikah dengan Niwatakawaca meminta syarat pada Niwatakawaca agar mengalahkan Arjuna.
Niwatakawaca menyanggupi dan terjadilah pertempuran antara Arjuna dan Niwatakawaca sehingga Arjuna tersungkur.