Arry Azhar merupakan seorang yang hobi belajar. Baginya belajar adalah sesuatu yang mengasyikkan penuh dengan pengalaman serta nilai nilai kehidupan yang didapatkan. Melalui kompasiana, ia mencoba belajar menjadi penulis. Arry Azhar memiliki hoby membaca, mendengarkan musik, menulis, menonton film dan Traveling.

Idul Fitri tahun ini kami isi dengan satu kebiasaan yang selalu terasa menenangkan, berkunjung ke rumah kerabat yang lebih tua untuk bersilaturahmi. Sejak kedua orang tua tiada, ada ruang kosong yang tidak pernah benar-benar terisi setiap kali lebaran datang. Ada sesuatu yang berbeda ketika rumah yang dahulu menjadi tujuan utama mudik kini tinggal kenangan. Tidak ada lagi suara yang menunggu di depan pintu, tidak ada lagi tangan renta yang sibuk menyiapkan hidangan sederhana, dan tidak ada lagi wajah yang menatap penuh bahagia hanya karena anak-anaknya pulang. Karena itu, saya justru lebih memilih mendatangi keluarga yang sudah lama tak ditemui, kerabat jauh yang jarang bersua seolah dalam setiap pertemuan itu ada sedikit obat untuk rindu yang diam-diam terus tumbuh.
Perjalanan hari itu kami tempuh dengan transportasi umum. Sudah cukup lama kami tidak memiliki mobil pribadi. Lagi pula, aktivitas sehari-hari kini lebih banyak di sekitar rumah, dan untuk sesekali bepergian jauh, kendaraan umum terasa cukup membantu mudah, nyaman, dan tidak terlalu membebani. Ada kalanya perjalanan justru memberi ruang lebih luas untuk melihat kehidupan orang lain, sesuatu yang mungkin luput jika semua dilakukan serba cepat dan tertutup. Di tengah hiruk pikuk kota yang tidak pernah benar-benar diam, sering kali Tuhan menghadirkan pelajaran lewat cara yang paling sederhana melalui pertemuan singkat yang tidak direncanakan.
Menjelang sore, ketika waktu pulang tiba, saya mencoba memesan kendaraan melalui aplikasi. Namun rumah saudara yang kami kunjungi berada agak jauh dari pusat keramaian, sehingga cukup lama tak ada pengemudi yang menerima pesanan. Beberapa kali permintaan masuk, lalu batal. Hingga akhirnya kami memutuskan memesan taksi plat kuning berwarna biru yang kebetulan terlihat tidak terlalu jauh dari lokasi.
Tidak lama kemudian, kendaraan yang kami tunggu datang.
Sesaat setelah pintu mobil terbuka dan kami masuk ke dalam, kami sedikit terkejut. Di balik kemudi duduk seorang ibu berkerudung, wajahnya teduh, dengan senyum tipis yang ramah.
Entah mengapa, pemandangan itu terasa berbeda. Di tengah suasana lebaran, ketika kebanyakan ibu biasanya berada di rumah, menyambut tamu, menyiapkan hidangan, atau berkumpul bersama keluarga, perempuan ini justru memilih berada di jalan, bekerja, mengantar orang-orang yang bahkan tidak dikenalnya. Di dashboard mobilnya tergantung tasbih kecil yang terus bergerak pelan setiap kali mobil melewati jalan yang bergelombang. Ada botol air minum setengah penuh di samping kursinya, beberapa lembar tisu, dan sebuah kotak makanan sederhana yang tampaknya belum sempat disentuh sejak siang.
Saya membuka percakapan.
"Lama sekali kami dapat kendaraan tadi, Bu. Mungkin masih suasana lebaran, ya."
Ia tersenyum kecil lewat kaca spion.
"Iya, Pak. Saya juga sebenarnya tadi sedang arah bandara. Tiba-tiba order dari Bapak masuk. Alhamdulillah."