Arry Azhar merupakan seorang yang hobi belajar. Baginya belajar adalah sesuatu yang mengasyikkan penuh dengan pengalaman serta nilai nilai kehidupan yang didapatkan. Melalui kompasiana, ia mencoba belajar menjadi penulis. Arry Azhar memiliki hoby membaca, mendengarkan musik, menulis, menonton film dan Traveling.
Ia mengucapkannya biasa saja, seolah itu hanya kalimat harian yang sering ia bisikkan sendiri. Tapi bagi kami yang mendengar, ada getaran yang sulit dijelaskan. Mungkin karena kami tahu, doa seorang ibu sering lahir dari luka yang tidak pernah diceritakan.
Ia melanjutkan:
"Saya jalani saja apa yang saya mampu, Pak. Alhamdulillah banyak dimudahkan. Sampai dua anak bisa kuliah di universitas swasta daerah Grogol, jurusan teknik kelautan. Yang pertama juga lolos seleksi magang, padahal saingannya banyak."
Saya mencoba menimpali.
"Kalau magang di Jepang itu dapat gaji, ya, Bu? Tiga bulan?"
Ia tersenyum kecil.
"Alhamdulillah, gajinya dua digit, Pak. Sudah dua tahun di sana. Katanya kemungkinan akan dikontrak karena dinilai cukup baik kerjanya."
Untuk pertama kali sejak percakapan dimulai, saya melihat matanya di kaca spion sedikit berbinar. Binar itu bukan sekadar kebanggaan. Itu seperti jawaban dari bertahun-tahun kesabaran yang akhirnya mulai terlihat hasilnya. Seolah semua jalan panjang, semua letih, semua luka, perlahan dibayar oleh kabar baik dari anak yang dahulu ia antar sekolah dengan penuh kekhawatiran.
Barangkali itulah hadiah terbesar bagi seorang ibu: melihat anak yang dulu ia peluk saat menangis, kini berdiri jauh di negeri orang membawa hasil dari semua doa yang pernah ia langitkan diam-diam.
Namun saya juga membayangkan sisi lain yang mungkin tak ia ceritakan, malam-malam lebaran ketika kursi makan terasa kosong karena satu anak berada di negeri jauh, ketika suara takbir justru membuat rindu semakin keras berbunyi, ketika ia membuka ponsel hanya untuk menunggu pesan singkat: "Bu, maaf belum bisa pulang." Dan mungkin setelah membaca pesan itu, ia hanya menjawab pendek: "Tidak apa-apa Nak, jaga diri baik-baik." Lalu menyimpan rindunya sendiri agar tidak menjadi beban bagi anaknya.
Tanpa terasa mobil tiba di depan rumah.