Kalau Allah sudah menulis nama kita sebagai tamu-Nya, siapa yang bisa menghalangi?
Saya mulai mengubah cara berpikir. Daripada berkata "tidak mungkin", saya memilih berkata "bagaimana caranya?"
Saya mulai menyisihkan uang sedikit demi sedikit. Mengurangi jajan yang tidak perlu. Mengurangi belanja impulsif. Mengurangi keinginan yang sebenarnya hanya pelarian dari lelahnya hidup.
Setiap rupiah yang saya sisihkan terasa seperti satu langkah kecil menuju Baitullah.
Dan ketika saya mengenal program umroh dari HabasyGo, rasanya seperti menemukan jembatan. Bukan sekadar travel, tapi teman perjalanan. Bukan hanya soal keberangkatan, tapi tentang pengalaman spiritual yang terarah dan nyaman.
Saya membayangkan berjalan bersama rombongan, saling menguatkan, menangis bersama saat pertama kali melihat Ka'bah. Membayangkan tangan saya gemetar saat menyentuh kiswah. Membayangkan doa-doa yang selama ini hanya terucap di kamar, akhirnya saya bisikkan langsung di depan rumah Allah.
Dan entah kenapa, setiap membayangkannya, air mata saya jatuh.
Umroh Bukan Tentang Status, Tapi Tentang Perubahan
Banyak orang berkata, "Yang penting kan hatinya dulu."
Betul.
Tapi kadang, perjalanan fisik justru menggerakkan hati yang lama beku.