berliana nurhaliza kusumah
berliana nurhaliza kusumah Foto/Videografer

mahasiswa UNISBA Bandung yang suka menulis

Selanjutnya

Tutup

Video

Aku Cuma Anak Biasa Tapi 2026 Allah Akan Undang Aku ke Baitullah

27 Februari 2026   16:51 Diperbarui: 27 Februari 2026   16:51 91 1 2

aku cuma anak biasa/ChatGPT
aku cuma anak biasa/ChatGPT

Resolusi Ibadah 2026: Bisa Umroh Bareng HabasyGo. "Aku Cuma Anak Biasa, Tapi 2026 Allah Undang Aku ke Baitullah: Resolusi Umroh yang Bikin Hati Bergetar". Resolusi Ibadah 2026: Bisa Umroh Bareng HabasyGo

Oleh: Berliana Nurhaliza Kusumah

https://youtu.be/4e3YA0vNBEs?list=RD4e3YA0vNBEs

Ada satu doa yang selalu saya ulang-ulang setiap selesai salat. Pelan, lirih, kadang sambil menahan sesak di dada.

"Ya Allah, izinkan aku menjadi tamu-Mu."

Dulu doa itu terasa seperti kalimat yang terlalu tinggi untuk saya gapai. Seperti mimpi yang indah tapi jauh. Saya hanya bisa melihat foto-foto orang berswafoto di depan Ka'bah, membaca caption mereka tentang haru yang tak terdefinisi, dan diam-diam bertanya dalam hati, "Kapan ya giliranku?"

Tahun 2026 saya jadikan sebagai tahun resolusi ibadah. Bukan sekadar ingin menjadi lebih rajin, bukan sekadar ingin konsisten tahajud atau memperbaiki bacaan Al-Qur'an. Tapi lebih dari itu. Saya ingin melangkah. Saya ingin berangkat. Saya ingin umroh.

Dan ketika saya menuliskan kalimat ini---"Bisa Umroh bareng HabasyGo"---hati saya bergetar.

Karena ternyata, mimpi itu mulai terasa mungkin.

Ketika Ibadah Bukan Lagi Rutinitas

Di usia yang masih muda, sering kali kita merasa waktu masih panjang. Kita menunda hijrah. Menunda memperbaiki diri. Menunda niat baik. Kita sibuk mengejar dunia---IPK, karier, validasi media sosial, pencapaian yang bisa dipamerkan.

Tapi pernah nggak sih, kita berhenti sejenak dan bertanya: kalau Allah panggil sekarang, apa yang sudah benar-benar kita siapkan?

Pertanyaan itu seperti tamparan lembut untuk saya.

Saya sadar, selama ini ibadah saya sering kali sekadar menggugurkan kewajiban. Salat tepat waktu, iya. Puasa, iya. Tapi hati? Kadang kosong. Kadang tergesa. Kadang sekadar checklist.

Padahal ibadah bukan soal seberapa cepat selesai. Tapi seberapa dalam kita hadir.

Resolusi ibadah 2026 bagi saya bukan tentang terlihat religius. Tapi tentang pulang. Tentang kembali kepada Allah dengan hati yang lebih jujur.

Dan umroh... terasa seperti panggilan untuk benar-benar pulang.

Mimpi yang Pernah Saya Remehkan

Dulu saya berpikir, umroh itu untuk orang yang sudah mapan. Untuk orang tua. Untuk mereka yang tabungannya sudah banyak. Untuk yang hidupnya sudah "selesai".

Saya? Masih mahasiswa. Masih merintis karier. Masih belajar menata hidup.

Tapi bukankah Allah yang memanggil?

Kalau Allah sudah menulis nama kita sebagai tamu-Nya, siapa yang bisa menghalangi?

Saya mulai mengubah cara berpikir. Daripada berkata "tidak mungkin", saya memilih berkata "bagaimana caranya?"

Saya mulai menyisihkan uang sedikit demi sedikit. Mengurangi jajan yang tidak perlu. Mengurangi belanja impulsif. Mengurangi keinginan yang sebenarnya hanya pelarian dari lelahnya hidup.

Setiap rupiah yang saya sisihkan terasa seperti satu langkah kecil menuju Baitullah.

Dan ketika saya mengenal program umroh dari HabasyGo, rasanya seperti menemukan jembatan. Bukan sekadar travel, tapi teman perjalanan. Bukan hanya soal keberangkatan, tapi tentang pengalaman spiritual yang terarah dan nyaman.

Saya membayangkan berjalan bersama rombongan, saling menguatkan, menangis bersama saat pertama kali melihat Ka'bah. Membayangkan tangan saya gemetar saat menyentuh kiswah. Membayangkan doa-doa yang selama ini hanya terucap di kamar, akhirnya saya bisikkan langsung di depan rumah Allah.

Dan entah kenapa, setiap membayangkannya, air mata saya jatuh.

Umroh Bukan Tentang Status, Tapi Tentang Perubahan

Banyak orang berkata, "Yang penting kan hatinya dulu."

Betul.

Tapi kadang, perjalanan fisik justru menggerakkan hati yang lama beku.

Saya ingin umroh bukan untuk konten. Bukan untuk diposting dengan caption panjang. Bukan untuk terlihat lebih suci.

Saya ingin umroh untuk berubah.

Saya ingin pulang dengan hati yang lebih lembut. Dengan salat yang lebih khusyuk. Dengan lisan yang lebih terjaga. Dengan ambisi dunia yang lebih terkendali.

Saya ingin ketika kembali ke Indonesia, saya bukan lagi versi lama yang mudah marah, mudah insecure, mudah membandingkan diri dengan orang lain.

Saya ingin menjadi pribadi yang lebih yakin bahwa rezeki sudah diatur. Bahwa jodoh tidak perlu dikejar dengan cemas. Bahwa hidup tidak harus selalu sempurna untuk bisa bahagia.

Karena saya sudah pernah berdiri di depan Ka'bah dan berkata, "Ya Allah, cukup Engkau saja."

Resolusi yang Lebih Dalam dari Sekadar Target

Biasanya resolusi itu tentang angka. Berat badan turun sekian kilo. Penghasilan naik sekian persen. Followers bertambah sekian ribu.

Tapi resolusi ibadah 2026 saya sederhana:
Saya ingin lebih dekat.

Lebih dekat dalam doa.
Lebih dekat dalam sabar.
Lebih dekat dalam syukur.

Dan umroh adalah salah satu cara saya meneguhkan niat itu.

Saya membayangkan thawaf di tengah lautan manusia. Tidak ada yang tahu siapa saya. Tidak ada yang peduli pencapaian saya. Tidak ada yang menilai penampilan saya.

Semua sama. Semua hanya hamba.

Di sana, tidak ada standar kecantikan. Tidak ada standar kesuksesan. Tidak ada standar popularitas.

Yang ada hanya tangis dan doa.

Dan mungkin, di antara jutaan doa yang terangkat ke langit, ada doa kecil saya yang Allah ijabah.

Untuk Kamu yang Merasa Tidak Pantas

Kalau kamu membaca ini dan merasa, "Ah, aku masih banyak dosa. Aku belum pantas ke Tanah Suci."

Percayalah, kita semua penuh dosa.

Justru karena penuh dosa, kita ingin datang. Justru karena sering salah, kita ingin meminta ampun di tempat yang paling mustajab.

Jangan tunggu jadi sempurna untuk berangkat. Karena kita tidak akan pernah benar-benar sempurna.

Mulailah dari niat. Mulailah dari doa. Mulailah dari langkah kecil.

Sisihkan uangmu. Perbaiki salatmu. Lunakkan hatimu.

Siapa tahu, 2026 adalah tahun namamu dipanggil.

Doa yang Saya Titipkan di Tulisan Ini

Jika Allah mengizinkan saya benar-benar umroh di 2026, saya ingin sujud lebih lama. Saya ingin menyebut nama orang tua saya dalam doa. Saya ingin mendoakan masa depan saya. Saya ingin mendoakan orang-orang yang pernah menyakiti saya.

Dan saya ingin mendoakan kamu yang membaca tulisan ini.

Semoga kita sama-sama diberi kesempatan menjadi tamu Allah.
Semoga resolusi kita bukan hanya soal dunia.
Semoga langkah kita selalu diarahkan pada kebaikan.

Karena pada akhirnya, hidup ini bukan tentang seberapa jauh kita pergi, tapi ke mana kita kembali.

Dan saya ingin kembali... ke rumah-Nya.

2026, insyaAllah.
Bersama HabasyGo.
Bersama doa-doa yang tak pernah lelah saya langitkan.

Jika nanti saya benar-benar berdiri di depan Ka'bah, mungkin saya akan menangis. Bukan karena akhirnya sampai. Tapi karena Allah, yang selama ini saya rindukan dalam doa, ternyata lebih dulu merindukan saya untuk datang.

Aamiin. Ya Robbal Alamin

aku cuma anak biasa/chatGPT
aku cuma anak biasa/chatGPT

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7