Best in Citizen Journalism dan People’s Choice Kompasiana Awards 2024. Nulis tentang keseharian.
Sebuah mobil berhenti. Seseorang membuka kaca lalu menyerahkan lembaran sepuluh ribu rupiah. Tidak setiap pagi, tapi kedatangannya sangat berarti bagi lansia itu.
Setiap Jumat ada lebih banyak lansia, lima sampai tujuh. Mereka menunggu dermawan membagikan nasi kotak/bungkus. Jumat berkah.
Kemudian saya beranjak, berjalan empat ratus meter menyusuri trotoar ke arah selatan. Di tengah perjalanan terlihat lansia mengaduk tempat sampah. Pakaiannya kotor. Kebetulan. Saya membawa bungkusan isi celana panjang. Semula akan dibawa ke tukang jahit. Reparasi minor agar nyaman digunakan kembali. Rencana berubah.
Pantalon diberikan kepada lansia tersebut. Tidak baru, tetapi masih layak pakai. Pria lansia menerima dengan mata berbinar. Kaki melangkah, menyeberang jalan, menyusuri trotoar di sisi berbeda ke arah kembali, dan berjalan menuju rumah. Rencananya begitu.
Di trotoar seberang itu terlihat meja pendek berisi termos nasi, beberapa bungkusan, dan wadah tertutup: jualan nasi kuning (dalam termos) dan nasi bakar (dibungkus daun pisang).
Penjualnya bukan lansia. Saya membeli satu nasi bakar harga Rp10 ribu tanpa tahu hendak untuk apa, mengingat tadi sudah sarapan di rumah. Beli sebagai penglarisan.
Tak jauh berjalan, saya menemukan lansia penjual kopi seduh. Sosok Fery (66) ini pernah diulas dalam artikel, "Tak Tergesa-gesa dan Rasakan Geliat di Atas Trotoar" di Kompasiana.
Menurut ceritanya, lansia ini tersingkir dari keluarga dan menjadi sebatang kara. Selama ini bermalam di warung kopi dan mi instan seduh yang dikelola oleh temannya. Pagi hingga siang, Fery berdagang kopi seduh di tepi Jalan Tentara Pelajar.
Segelas plastik kecil kopi seduh lalu dibawa ke bangku taman dekat penjual laksa. Saat menikmati kopi, terlihat seorang pria membawa ransel di punggung. Tongkat kayunya gagal menunjukkan arah secara benar, sehingga ia nyaris menumbuk dandang isi kuah laksa.
Pegawai penjual laksa segera memandunya agar mengikuti guiding block. Namun, tongkatnya tidak mahir membacanya. Jalan lansia itu tetap meleset keluar dari jalur ubin berstekstur.
Sepertinya, ia belum lama menggunakan tongkat. Benar saja, pria tersebut mengidap penyakit gula akut. Penglihatannya perlahan menjadi samar.