Budi Susilo
Budi Susilo Lainnya

Best in Citizen Journalism dan People’s Choice Kompasiana Awards 2024. Nulis tentang keseharian.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Para Lansia di Trotoar Tentara Pelajar

12 April 2026   06:07 Diperbarui: 12 April 2026   16:14 280 37 19


usia 60 tahun lebih
atur jalan
suara bergetar
langkah gemetar

kopi seduh
tanpa tempat teduh

pahit melihat
lansia tak berumah
salah arah
tersesat

TAK SULIT menjumpai sosok berusia lebih dari 60 tahun di sekitar rumah yang masih aktif mengais rezeki. Dari mereka saya mendapatkan Cerita Lansia.

Jalan ke belakang, menuju gang di antara permukiman padat, ada Umi penjual gado-gado bumbu ulek dan gorengan. Jalan lebih ke dalam, penjual sayur dan barang kebutuhan dapur. Bagusnya, nenek-nenek tersebut berdagang di teras rumah.

Jalan kaki ke depan, mengarah ke trotoar Jalan Tentara Pelajar Kota Bogor, terdapat para lansia yang mengutip uang receh demi melanjutkan hidup.

Satu lansia bekerja menjadi pengatur jalan. Memberi aba-aba bagi mobil yang hendak menembus jalan besar dari jalan lebih kecil. Atas "jasa" itu ia mendapatkan seribu dua ribu rupiah. Kadang pengemudi memberikan Rp5.000. Ada yang hanya melambaikan 5 jari tangan.

"Ia akan bayar tanggal lima," gurau mereka menertawakan nasib.

Pengatur di pertigaan jalan itu lebih dari satu. Lansia pengganti datang pukul 8.30-9.00 WIB, aplusan hingga siang pukul setengah dua. Ketika ditanya, berapa mendapatkan penghasilan dalam satu hari? Jawaban mereka tidak pernah tegas.

"Ya ..., pokoknya ada."

Sebuah mobil berhenti. Seseorang membuka kaca lalu menyerahkan lembaran sepuluh ribu rupiah. Tidak setiap pagi, tapi kedatangannya sangat berarti bagi lansia itu.

Setiap Jumat ada lebih banyak lansia, lima sampai tujuh. Mereka menunggu dermawan membagikan nasi kotak/bungkus. Jumat berkah.

Kemudian saya beranjak, berjalan empat ratus meter menyusuri trotoar ke arah selatan. Di tengah perjalanan terlihat lansia mengaduk tempat sampah. Pakaiannya kotor. Kebetulan. Saya membawa bungkusan isi celana panjang. Semula akan dibawa ke tukang jahit. Reparasi minor agar nyaman digunakan kembali. Rencana berubah.

Pantalon diberikan kepada lansia tersebut. Tidak baru, tetapi masih layak pakai. Pria lansia menerima dengan mata berbinar. Kaki melangkah, menyeberang jalan, menyusuri trotoar di sisi berbeda ke arah kembali, dan berjalan menuju rumah. Rencananya begitu.

Di trotoar seberang itu terlihat meja pendek berisi termos nasi, beberapa bungkusan, dan wadah tertutup: jualan nasi kuning (dalam termos) dan nasi bakar (dibungkus daun pisang).

Penjualnya bukan lansia. Saya membeli satu nasi bakar harga Rp10 ribu tanpa tahu hendak untuk apa, mengingat tadi sudah sarapan di rumah. Beli sebagai penglarisan.

Tak jauh berjalan, saya menemukan lansia penjual kopi seduh. Sosok Fery (66) ini pernah diulas dalam artikel, "Tak Tergesa-gesa dan Rasakan Geliat di Atas Trotoar" di Kompasiana.

Menurut ceritanya, lansia ini tersingkir dari keluarga dan menjadi sebatang kara. Selama ini bermalam di warung kopi dan mi instan seduh yang dikelola oleh temannya. Pagi hingga siang, Fery berdagang kopi seduh di tepi Jalan Tentara Pelajar.

Segelas plastik kecil kopi seduh lalu dibawa ke bangku taman dekat penjual laksa. Saat menikmati kopi, terlihat seorang pria membawa ransel di punggung. Tongkat kayunya gagal menunjukkan arah secara benar, sehingga ia nyaris menumbuk dandang isi kuah laksa.

Pegawai penjual laksa segera memandunya agar mengikuti guiding block. Namun, tongkatnya tidak mahir membacanya. Jalan lansia itu tetap meleset keluar dari jalur ubin berstekstur.

Sepertinya, ia belum lama menggunakan tongkat. Benar saja, pria tersebut mengidap penyakit gula akut. Penglihatannya perlahan menjadi samar.

Abah Untung (58) penjual laksa menanyakan tentang usia, asal usul, dan tujuan perjalanan.

Pria 71 tahun itu berasal dari Ujung Genteng, Kabupaten Sukabumi. Sebuah Kawasan pesisir yang menghadap Laut Selatan. Di Kota Bogor ia bermalam di rumah temannya. Pagi itu hendak menemui temannya di satu tempat di arah timur.

Lansia musafir pakai tongkat yang hampir saja tersesat (Dokumentasi Pribadi)
Lansia musafir pakai tongkat yang hampir saja tersesat (Dokumentasi Pribadi)

Salah! Lansia itu berjalan menuju utara! 

Jika diteruskan bakal salah arah dan tersesat tidak karuan. Untung ada Abah Untung yang bertanya dalam Bahasa Sunda, sehingga keadaan serius segera dipahami.

Penjual laksa kemudian memerintahkan pegawainya untuk mengantar lansia tersesat, memboncengnya dengan sepeda motor ke tempat angkot yang akan melewati daerah dituju.

Sebelum ia pergi, saya menyerahkan nasi bakar yang tadi dibeli untuk nanti makan siang.

***

Begitulah. Berjalan tak jauh dari rumah, saya menjumpai para lansia yang beraktivitas di sekitar trotoar. Dengan sisa-sia tenaganya mereka mencari uang receh demi meneruskan hidup.

Mereka tidak memiliki keleluasaan finansial. Tidak punya aset penghasil pendapatan pasif, semisal pensiun atau deposito.

Pun tidak ada anak cucu yang cukup menopang hidup mereka di masa tua. Bahkan, sebagian tesingkirkan dari keluarga dengan berbagai alasan, lalu menumpang berteduh di tempat kenalannya atau di warung yang dikelola temannya.

Negara? Jangan repotkan mereka dengan urusan remeh dan tak penting. Negara sudah terlalu sibuk mengurus terlalu banyak urusan penting yang tak pernah beres.

Maka, lansia di trotoar Jalan Tentara Pelajar itu tak punya banyak pilihan mendapatkan penghasilan. Kepepet, mencari penghasilan dengan cara apa saja yang penting menghasilkan uang untuk membeli beras.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4