Feddy Wanditya Setiawan
Feddy Wanditya Setiawan Dosen

Science advances not by blind obedience to old answers, but by the courage to question

Selanjutnya

Tutup

Video

'Fictional World: 2026'

1 Januari 2026   23:37 Diperbarui: 2 Januari 2026   03:37 87 1 1

Verse 2 - Krisis Iklim & Biaya Bertahan Hidup

Verse kedua mengalihkan fokus ke perubahan iklim dan dampak ekonomi. Bencana tidak lagi digambarkan sebagai pemusnah massal, tetapi sebagai biaya hidup baru. Keselamatan menjadi angka, dan harapan berubah menjadi komoditas.

Narasi ini menegaskan bahwa manusia tidak mati karena bencana, tetapi hidup di bawah bayang-bayang utangnya.

Pre-Chorus 2 - Pernyataan Keras

Baris "We don't die when storms arrive / We live paying to survive" adalah pernyataan paling telanjang dalam lagu-sebuah kritik langsung terhadap normalisasi penderitaan struktural.

Musiknya sebaiknya dipersempit, hampir hening, agar pesan terdengar tanpa gangguan emosional berlebih.

Verse 3 - Teknologi & Kehilangan Makna

Verse ketiga membahas teknologi dan AI, bukan sebagai penjahat, tetapi sebagai entitas netral yang mempercepat seleksi sosial. Yang hilang bukan pekerjaan, melainkan makna, tujuan, dan kehadiran manusia.

Ini menolak narasi populer "AI mencuri segalanya" dan menggantinya dengan kritik yang lebih dalam: manusia tertinggal karena terlalu percaya sistem akan menunggu.

Chorus Akhir - Cermin Retak

Chorus terakhir berfungsi sebagai cermin reflektif. Dunia 2026 digambarkan bukan surga atau neraka, melainkan pantulan pilihan kolektif manusia. Pertanyaan terakhir bersifat eksistensial: jika dunia ini fiksi, mengapa terasa begitu nyata?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5