Feddy Wanditya Setiawan
Feddy Wanditya Setiawan Dosen

Science advances not by blind obedience to old answers, but by the courage to question

Selanjutnya

Tutup

Video

'Fictional World: 2026'

1 Januari 2026   23:37 Diperbarui: 2 Januari 2026   03:37 100 1 1

Still Standing in a Fictional World: 2026 [i. AI Curatorial Prompt by Feddy WS, 2026] 
Still Standing in a Fictional World: 2026 [i. AI Curatorial Prompt by Feddy WS, 2026] 


Recommended Headphone

Fictional World: 2026 - [YouTube]

Lyrics:

[intro]

[verse]  

In the year of twenty twenty-six  
Wars don't start they slowly mix  
No alarms just silent tricks  
Coded threats and politics  

Flags still wave on glowing screens  
Peace is sold in news machine  
We don't ask what truth may mean  
Just who survives the unseen  

[pre-chorus]  

Facts get trimmed to perfect rhyme  
Empathy lost in time  
We cheer for walls that seem so tall  
While standing on the fault line  

[chorus]  

Welcome to the world of twenty twenty-six  
Not broken just a fractured fix  
The sky remains above so thick  
While earth below does twist and kick  

We live inside the in-between  
Not lost but never truly seen  
Learning how to breathe so lean  
In a tale we didn't mean  

[verse]  

In the year of twenty twenty-six  
Rain forgets its falling trick  
Fire walks with daytime slick  
Through cities built of hollow brick  

We survive tonight's cruel test  
But tomorrow brings the debt  
Safety counts in numbers pressed  
Hope gets rented with regret  

[pre-chorus]  

We don't die when storms arrive  
We live paying to survive  

[chorus]  

Welcome to the world of twenty twenty-six  
Where living is a complex fix  
Dreams won't pay the mortgage quick  
Adaptation does the trick  

No grand ending waits in sight  
No collapse just endless fight  
Morning asks with fading light  
Will you stand or lose your might  

[verse]  

In the year of twenty twenty-six  
Machines don't steal they just exist  
Working learning never missed  
Humans shrink in empty midst  

Jobs don't leave in single night  
Purpose fades from human sight  
Those left aren't weak in fight  
They just trusted shining light  

[chorus]  

Welcome to the world of twenty twenty-six  
Not heaven nor a prison mix  
Just our broken mirror's fix  
Showing time's relentless tricks  

If this world is just pretend  
Why does pain feel so real then  
Maybe we're the authors when  
We forgot to break the pen  

[outro]

------

CORE CONCEPT

Lirik "Fictional World: 2026" atau Dunia Fiksi 2026 membangun sebuah narasi dunia pasca-kejut-bukan dunia yang runtuh oleh satu ledakan besar, melainkan dunia yang perlahan terbiasa hidup dalam ketidaknormalan. Istilah fictional world di sini bukan berarti dunia imajiner, tetapi realitas yang dipelihara melalui konsensus, media, dan sistem, hingga kebohongan struktural terasa lebih nyaman daripada kebenaran yang kompleks.

Secara konseptual, lagu ini memotret 2026 sebagai masa transisi permanen: dunia tidak hancur, namun juga tidak pernah pulih.

STRUKTUR NARATIF LAGU

Intro - Kesadaran Awal

Bagian intro berfungsi sebagai gerbang refleksi. Ia tidak menyajikan konflik, melainkan menyiapkan pendengar untuk memasuki dunia yang tampak stabil, tetapi sesungguhnya rapuh. Nada intro idealnya minimalis, hampir datar, menciptakan kesan "everything seems fine".

Makna naratif:

Dunia Fiksi 2026 tidak datang dengan sirene, tetapi dengan keheningan yang mencurigakan.

Verse 1 - Politik Sunyi & Realitas Mediatik

Verse pertama menggambarkan perang yang tidak diumumkan, ancaman yang tidak meledak, dan konflik yang bekerja melalui kode, propaganda, serta manipulasi informasi. Media digambarkan sebagai mesin yang menjual perdamaian sebagai produk, sementara masyarakat kehilangan dorongan untuk mempertanyakan kebenaran.

Secara musikal, bagian ini idealnya bersifat observasional dan datar, mencerminkan kelelahan kolektif terhadap berita dan konflik yang tak berujung.

Pre-Chorus - Ilusi Stabilitas

Pre-chorus menjadi momen ketegangan tersembunyi. Fakta "dirapikan", empati tergerus, dan masyarakat justru merayakan ilusi perlindungan ("tembok") sambil berdiri di atas patahan krisis.

Ini adalah fase naratif di mana kesadaran mulai muncul, tetapi belum berani menolak sistem.

Chorus - Inti Konseptual

Chorus menyatakan tesis utama lagu:

Dunia Fiksi 2026 bukan dunia yang rusak total, melainkan dunia yang retak namun dipertahankan.

"I'm in the in-between" menjadi kondisi eksistensial manusia modern-tidak kalah, tidak menang, tidak hancur, namun juga tidak utuh. Chorus harus terasa melebar secara emosional, bukan meledak, menegaskan perasaan stagnasi global.

Verse 2 - Krisis Iklim & Biaya Bertahan Hidup

Verse kedua mengalihkan fokus ke perubahan iklim dan dampak ekonomi. Bencana tidak lagi digambarkan sebagai pemusnah massal, tetapi sebagai biaya hidup baru. Keselamatan menjadi angka, dan harapan berubah menjadi komoditas.

Narasi ini menegaskan bahwa manusia tidak mati karena bencana, tetapi hidup di bawah bayang-bayang utangnya.

Pre-Chorus 2 - Pernyataan Keras

Baris "We don't die when storms arrive / We live paying to survive" adalah pernyataan paling telanjang dalam lagu-sebuah kritik langsung terhadap normalisasi penderitaan struktural.

Musiknya sebaiknya dipersempit, hampir hening, agar pesan terdengar tanpa gangguan emosional berlebih.

Verse 3 - Teknologi & Kehilangan Makna

Verse ketiga membahas teknologi dan AI, bukan sebagai penjahat, tetapi sebagai entitas netral yang mempercepat seleksi sosial. Yang hilang bukan pekerjaan, melainkan makna, tujuan, dan kehadiran manusia.

Ini menolak narasi populer "AI mencuri segalanya" dan menggantinya dengan kritik yang lebih dalam: manusia tertinggal karena terlalu percaya sistem akan menunggu.

Chorus Akhir - Cermin Retak

Chorus terakhir berfungsi sebagai cermin reflektif. Dunia 2026 digambarkan bukan surga atau neraka, melainkan pantulan pilihan kolektif manusia. Pertanyaan terakhir bersifat eksistensial: jika dunia ini fiksi, mengapa terasa begitu nyata?

Outro - Kesadaran Diri

Outro menutup lagu dengan kesadaran tanggung jawab. Bukan sistem, mesin, atau waktu yang sepenuhnya bersalah, melainkan manusia yang berhenti menulis ulang masa depannya sendiri.

MUSICAL IDENTITY

  • Tempo: sedang-lambat (70-90 BPM)
  • Tangga nada: minor, suspended, unresolved
  • Dinamika: membesar tanpa ledakan
  • Tekstur: dingin, bersih, sedikit distorsi
  • Vokal: intim, hampir dokumenter

Musik harus terdengar stabil, namun tidak nyaman-seperti dunia yang tetap berdiri di atas retakan.

EPILOG KURATORIAL

"Fictional World: 2026" adalah lagu tentang normalisasi krisis. Ia tidak menyerukan revolusi, tidak menawarkan solusi, dan tidak menjual harapan palsu. Lagu ini berfungsi sebagai arsip emosional zaman-rekaman tentang bagaimana manusia belajar hidup di dunia yang secara teknis "baik-baik saja", tetapi secara moral dan eksistensial sedang kelelahan.

Ini bukan lagu tentang masa depan.
Ini lagu tentang sekarang-yang terlalu lama kita sebut normal.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5