Dari petani, kembali menjadi petani. Hampir separuh hidupnya, dihabiskan dalam kegiatan Community Development: bertani dan beternak, plus kegiatan peningkatan kapasitas hidup komunitas lainnya. Hidup bersama komunitas akar rumput itu sangat menyenangkan bagiku.
Dok: https://www.youtube.com/@gnafanu
Hari ini (Kamis, 2 April 2026), umat Katolik mulai merayakan Tri Hari Suci sebelum puncak perayaan Pesta Paskah, peringatan akan kebangkitan Yesus Kristus.
Tri Hari Suci Katolik adalah tiga hari paling suci dalam setahun yang memperingati puncak misteri penebusan Yesus Kristus.
Puncak misteri penebusan Yesus Kristus adalah sengsara, wafat, dan kebangkitan-Nya.
Rangkaian ini meliputi Kamis Putih (perjamuan terakhir), Jumat Agung (wafat Yesus), dan Sabtu Suci/Malam Paskah (kebangkitan).
Malam Kamis Putih (Malam untuk memperingati Perjamuan Terakhir Yesus bersama murid-muridNya.
Pada saat itu, Yesus menetapkan Ekaristi dan membasuh kaki para murid sebagai teladan pelayanan.
Jumat Agung adalah hari untuk merenungkan sengsara dan wafat Yesus di kayu salib. Gereja tidak merayakan Ekaristi, melainkan ibadat penghormatan salib.
Sabtu Suci (Vigili Paskah/Malam Paskah) merupakan waktu dimana Gereja berjaga-jaga menantikan kebangkitan Tuhan.
Puncaknya adalah perayaan cahaya dan baptisan, merayakan kemenangan Yesus atas maut.
Perarakan Sakramen Mahakudus pada Kamis Putih melambangkan perjalanan Yesus menuju Taman Getsemani setelah Perjamuan Malam Terakhir.
Umat mengiringi Sakramen ke altar reposisi untuk berjaga, berdoa, dan merenungkan kesetiaan serta pengorbanan-Nya sebelum disalibkan.
Prosesi ini sekaligus mengosongkan tabernakel sebagai tanda dimulainya sengsara Tuhan.

Perarakan Sakramen Mahakudus mengeliling umat di Gereja memiliki beberapa makna penting dalam tradisi perayaan umat Katolik.
1. Menemani Yesus di Getsemani
Umat diajak untuk "berjaga-jaga" bersama Yesus yang mengalami kesedihan mendalam dan berdoa, merespons ajakan-Nya kepada murid-murid-Nya sebelum ditangkap.
2. Adorasi dan Penghormatan
Ini adalah wujud sembah sujud kepada Yesus yang hadir secara nyata dalam rupa Roti dan Anggur, yang rela menyerahkan diri-Nya demi keselamatan manusia.
3. Transisi Menuju Sengsara (Jumat Agung)
Pemindahan Sakramen dari tabernakel utama ke altar reposisi menandakan bahwa Yesus "diambil" dan dimulainya masa sengsara, di mana Gereja memasuki suasana hening dan duka hingga Sabtu Suci.
4. Peringatan Perjamuan Terakhir
Perarakan ini menegaskan kembali makna Ekaristi sebagai sakramen cinta kasih dan persatuan yang tak terpisahkan antara Kristus dan umat-Nya.
Setelah perarakan, umat biasanya meluangkan waktu untuk melakukan tuguran (adorasi) di depan Sakramen Mahakudus dalam suasana hening dan kontemplatif.***