Dari petani, kembali menjadi petani. Hampir separuh hidupnya, dihabiskan dalam kegiatan Community Development: bertani dan beternak, plus kegiatan peningkatan kapasitas hidup komunitas lainnya. Hidup bersama komunitas akar rumput itu sangat menyenangkan bagiku.
Sumber: https://www.youtube.com/@gnafanu
Banyak cara agar program pemberdayaan yang dilaksanakan oleh warga dampingan berhasil. Tak hanya 'duduk manis' membahas capaian yang ada.
Akan tetapi lebih dari itu. Berkunjung, menyapa, observasi langsung, berdiskusi tentang berbagai persoalan atau keberhasilan yang dicapai warga.
Jika warga berhasil menjalankan program, tentunya diberikan apresiasi tetapi tidak berlebihan. Sebaliknya, apabila ada kegagalan, tak perlu pula disalahkan.
Diskusi yang baik, membuat warga terbuka untuk menyampaikan masalah yang dihadapi oleh warga. Tentunya, ada persoalan yang secara umum sama, tetapi ada juga permasalahan khusus yang hanya dialami orang tertentu.
Vidio pendek ini menunjukkan monitoring kegiatan budidaya ikan lele. Lebih tepatnya, integrasi sayuran, toga, dan lele di pekarangan untuk mendukung ketahanan pangan keluarga.
Masalah utama yang dihadapi oleh warga dalam budidaya lele di kampung mereka, tepatnya di 3 dusun yang ada di Kampung Gunung Katun, Kecamatan Baradatu, Way Kanan, Lampung adalah sebagai berikut.
Biaya Pakan
Biaya pakan merupakan komponen biaya terbesar, lebih kurang 60% dari biaya pemeliharaan. Ikan lele, memang memerlukan pakan pabrikan agar pertumbuhannya lebih cepat.
Sekalipun demikian, warga dapat memberikan pakan tambahan seperti ampas tahu, daun kates, tepung bekicot, tepung ikan, dan sumber pangan lokal lainnya.
Penyakit dan Tingkat Kematian