Lulusan Pendidikan Ekonomi. Pernah menjadi reporter, dosen, dan guru untuk tingkat PAUD, SD, dan SMA. Saat ini menekuni dunia kepenulisan.

Bagi saya, definisi pasar adalah suatu tempat di mana terdapat beberapa penjual dan pembeli yang melakukan transaksi jual beli.
Sehingga kalau ditanya, "Apakah ada Pasar Takjil Ramadan di sekitar tempatmu tinggal?" saya pun bingung menjawabnya. Begini alasannya...
Sejak setengah tahun lalu, saya pindah rumah dari daerah Perumnas Made Lamongan ke daerah Dusun Lopang Kembangbahu. Masih di daerah Lamongan juga, hanya pindah kecamatan. Posisi daerahnya sekitar 15 menit dari kota Lamongannya, tempat saya tinggal sebelumnya.
Nah, letak dusun Lopang ini sebetulmya masuk Kecamatan Kembangbahu. Tapi posisi geografisnya lebih dekat ke pusat Kecamatan Tikung.
Kembali ke pertanyaan apakah ada Pasar Takjil Ramadan, saya pun penasaran, kira-kira ada nggak ya pasar dadakan yang menjual khusus takjil?
Kalau di Perumnas Made tempat saya tinggal sebelumnya, ada pasar dadakan yang posisinya di pertigaan dari Jalan Made Karyo. Sekitar usai Ashar, biasanya para penjual makanan dan minuman mai dari jajanan sampai makanan mateng, juga aneka minuman yang kebanyaman aneka es, dijual di sana.
Karena itulah saat pindah ke tempat sekarang, saya pun penasaran demgan ada tidaknya keberadaan Pasar Takjil Ramadan di sekitaran Pule, Tikung.
Kalau di Dusun Lopang sendiri tempat saya tinggal, penjual makanan minuman tidak seramai di ruas jalan daerah Pule.
Misalnya di depan rumah saya sendiri. Sebetulnya tetangga saya ini biasanya berjualan aneka makanan minuman khas pasar malam. Mulai dari sosis bakar, kebab, burger, corndog, aneka gorengan usus dan baby crab. Sedangkan minumannya ada aneka jus instan serta es teh dan es jeruk.
Uniknya pas puasa, tetangga saya ini jualan sih. Tapi tidak 'seheboh' dibanding saat jualan di kegiatan pasar malam. Bahkan saya amati, yang dijual tidak sebegitu banyak.
Hanya saja khusus ramadan, ia menambah jualannya dengan es degan dan sedikit gorengan. Gorengan ini hanya dijual sekitaran setelah ashar dan tandas satu jam kemudian.
Menurut saya penyebab dari jualannya yang tak seperti biasanya adalah tidak seberapa banyaknya pembeli yang datang.
Jujur, saya juga agak bingung sih dengan gaya konsumsi di desa. Karena jika di kota, bisa jadi jualan yang seperti sosis, burger, corn dog, dan yang lainnya bakal laris manis.
Hal unik lain juga saya temukan saat keluar kampung, menuju ruas jalan yang ada di daerah Pule. Bisa dibilang, tidak ada yang berbeda jauh antara saat ramadan atau tidak. Karena di luar waktu puasa pun, ruas jalan ini terkenal cukup ramai penjual aneka makanan dan minuman.
Hanya saja yang berbeda adalah, di saat ramadan, ada juga beberapa penjual makanan matang seperti sayur dan lauk siap santap. Selain itu, ada juga penjual ea gayung, es dalam wadah-wadah besar yang penjualnya akan menggayung esnya untuk dituang di plastik.
Sementara itu sekitaran parkiran Ruko Pule yang perkuraan saya bakal diisi dengan penjual takjil dadakan, nyatanya tidak ada yang berubah. Sepertinya para penjual lebih memilih berjualan di ruas jalan untuk memudahkan pembeli singgah bertransaksi.
Hal lain yang saya dapati adalah tidak adanya makanan khas daerah yang khusus ada saat ramadan. Yang ada hanyalah penjual putu atau nasi boran yang memang juga ada di saat selain bulan puasa.