Saya memulai hidup ini dengan menulis puisi dan cerita pendek, kemudian jadi wartawan, jadi pengelola media massa, jadi creative writer untuk biro iklan, jadi konsultan media massa, dan jadi pengelola data center untuk riset berbasis media massa. Saya akan terus bekerja dan berkarya dengan sesungguh hati, sampai helaan nafas terakhir. Karena menurut saya, dengan bekerja, harga diri saya terjaga, saya bisa berbagi dengan orang lain, dan semua itu membuat hidup ini jadi terasa lebih berarti.

Inilah para pemain Maesa Pararaider. Mereka dengan tenang memasuki lapangan rumput sintetis 2 Pancoran Soccer Field, Jakarta Selatan. Usia mereka, belum lagi 15 tahun, karena itulah secara klub, mereka bermain dalam Liga Soeratin Jakarta U-15 Piala Gubernur 2026.
Sesekali, mereka bergurau, sebagaimana layaknya anak-anak belasan tahun, yang tengah bersiap memasuki masa remaja. Melalui sepak bola, mereka mengembangkan potensi diri, dengan berlatih secara fisik dan mental.
Begitu peluit ditiup, mereka langsung bergerak cepat, mengendalikan bola di lapangan. Kaki-kaki mereka tidak lagi melangkah, tapi berlari bersama bola, mengolah bola dengan kawan-kawan, menuju ke gawang lawan. Di laga inilah skill mereka diuji. Di laga ini pulalah mereka menerapkan taktik strategi, yang sudah diberikan pelatih.
Yang dihadapi Maesa Pararaider pada Minggu, 2 Agustus 2026 ini, adalah klub Persija Barat, yang di pekan pertama Liga Soeratin Jakarta U-15, pada Minggu, 14 Juni 2026, merupakan pemuncak klasemen Grup Timur. Di pekan kedua, pada Minggu, 28 Juni 2026, Persija Barat juga masih menjadi pemimpin klasemen.
Berkat kesungguhan berlatih, serta daya juang di lapangan, Maesa Pararaider berhasil mencetak 6 gol ke gawang Persija Barat, yang dijaga Alif Fatuhrohman. Patut dicatat, 3 dari 6 gol tersebut, dicetak oleh Muhammad Rado Al Ghifari pada menit ke-1, ke-21, dan ke-32,
Di laga 2 kali 30 menit ini, Persija Barat sama sekali tidak mampu melakukan gol balasan. Padahal, mereka adalah pemuncak klasemen Grup Timur, dua pekan berturut-turut. Padahal lagi, secara ranking, Persija Barat berada di atas Maesa Pararaider.
Dengan begitu, di laga pekan ke-5 ini, Persija Barat kalah 0-6, kalah secara ranking, kalah pula secara poin, dan kini berada di bawah Maesa Pararaider. Dari 8 klub yang berada di Grup Timur, hanya Maesa Pararaider dan klub Batavia FC yang belum terkalahkan.
Performa yang terhormat tersebut, tentu saja tak datang tiba-tiba. Ada serangkaian proses pembinaan, yang intens serta berkelanjutan, yang dilakukan oleh internal Maesa Pararaider. Di laga pekan pertama, pada Minggu, 14 Juni 2026, misalnya, Liswanto selaku pelatih Maesa Pararaider, mengevaluasi daya juang para pemainnya di lapangan.
Liswanto menilai, para pemainnya cenderung malas-malasan di lapangan. "Di lapangan ya waktunya bermain, waktunya bertanding untuk meraih kemenangan. Saat istirahat, ya istirahat. Kita harus sama-sama menjaga nama baik klub, reputasi klub," ungkap Liswanto, seusai pertandingan dengan klub Farama FC yang berakhir dengan skor 0-0.
Yang menarik, nada suara Liswanto, sama sekali tidak meninggi. Ia juga tidak menunjuk-nunjuk pemain. Ia sangat menjaga sikap dan tak hendak menjatuhkan mental para pemainnya. Boleh dibilang, Liswanto memotivasi para pemainnya, dengan cara menggugah kesadaran mereka.
Strategi pembinaan yang dilakukan Liswanto ini, menunjukkan bahwa ia paham betul dengan kondisi mental anak-anak yang masih di bawah 15 tahun. Ia berperan sebagai kakak, sebagai bapak, sekaligus sebagai pelatih yang melakukan pembinaan secara menyeluruh.
Barangkali, itulah sesungguhnya kekuatan yang dimiliki Maesa Pararaider, yang membuat para pemain klub ini, memiliki kesadaran penuh untuk terus-menerus meningkatkan performa.
Jakarta, 7 Agustus 2026