Freelancer, suka traveling, dan kuliner. Nominee best in citizen journalism 2024 Nominee best in storytelling 2025

Pernah mendengar sate Nusantara?
Pernah. Barusan. Eh...
Yuk kita cari sate di sini. Siapa tahu ketemu sate Nusantara. Hehehe...
Malam Minggu bertabur bintang. Pasar Sleko terang benderang. Kami berdua melangkah tenang. Siap menikmati hidangan kuliner di Sleko Food Court. Transformasi dari lapak-lapak kuliner yang dulu mengelilingi pasar Sleko dan ramai pengunjung dialam hari.
Suasana syahdu di malam Minggu mewarnai Sleko Food Court yang asyik dan seru. Lapak-lapak tertata rapi di pinggir ruang yang terbentang luas.
Mirip acara prasmanan resepsi pernikahan dengan banyak lapak kuliner. Cuma bedanya, kita bebas memilih menu yang diinginkan dengan membayar langsung ke lapak yang bersangkutan. Bukan dengan membawa amplop. Hehehe...
Setelah mendapat tempat duduk, aku memesan soto babat dan minuman sesuai keinginan ayah sekaligus membayarnya.

Pesanan ayah cepat diantar, sebab meracik soto yang bahannya sudah tersedia tidak butuh waktu lama. Tinggal ditata dan disiram kuah soto panas-panas, diberi toping soto sesuai kreasi penjualnya. Sedang sate pesanan ku masih harus dibakar dadakan dulu sampai matang.

Penyajian sotonya cukup menarik dengan mangkok lebar bergaris -garis hitam terlihat eye catching.
Yang pertama ada pastilah nasi. Kemudian ada tambahan so'un dan tauge. Soto babat ini terdiri dari jerohan, yaitu babat pastinya, dan temannya yaitu iso dengan kuah bening.
Setelah itu diberi daun bawang, seledri dan ditaburi bawang merah goreng dan koya yang biasa ada di soto Lamongan. Terakhir diberi irisan jeruk nipis.
Rasanya enak dan gurih. Iso babatnya juga empuk. Apalagi ditambah sambal dan perasan jeruk nipis, semakin segar dan nikmat. Dan seperti kebiasaan ayah, entah seasin apapun masakan yang dihidangkan, pasti minta tambahan garam.
Kata ayah, sotonya juara. Okelah, yang penting ayah suka, pasti enak.
Tak lama sate Nusantara nya, eh...sate ayam maksudnya, juga siap dihidangkan.

Tadinya sih, kalau lauk sotonya kurang, ayah kuminta menambahkan sate yang kupesan. Ternyata ayah tidak mau, sebab yang kupesan sate ayam. Sate kambingnya kebetulan sudah habis. Ya sudah, jadinya kuhabiskan sendiri.
Ayah sukanya daging merah. Kalau unggas sukanya bebek dan enthog. Kalau aku sukanya ayam dan ikan. Jadinya tidak jadi mengawinkan soto dan sate. Hehehe...
Yuk kita saksikan video nya saja, perkawinan sate dan Soto di pasar Sleko dalam video.