Freelancer, suka traveling, dan kuliner. Nominee best in citizen journalism 2024 Nominee best in storytelling 2025

Hujan turun semakin deras, kabut tebal, dan jarak pandang sangat dekat membuat jalan terlihat remang-remang, membuat kita terperosok di luar aspal.
"Istirahat saja, Mas! Itu ada depot bakso, katanya tadi pengin bakso panas-panas. Istirahat, sekalian salat dan cari toilet!" kataku.
Ayahpun menepikan mobil, tapi kusuruh mepet sekalian, sepertinya perjalanan tidak bisa dilanjutkan. Pengetahuan medan yang minim, tidak paham rute sama sekali, kabut, gelap, dan hujan yang begitu deras sungguh mengkhawatirkan.

"Mas, ada toilet?" Tanyaku pada Masnya yang sedang meracik mie ayam.
"Ada, Bu. Itu di sebelah!" Masnya mengantar ku ke toilet di samping depot seblak, bakso dan mie ayam yang lumayan luas.
"Alhamdulillah, toilet nya lumayan bersih meski sederhana. Hajatpun terlaksana. Ternyata ada kran juga di sebelah nya. Lumayan bisa buat wudhu.
"Mas, ada Musala?" Tanyaku lagi. Duh nyolot banget ya Aku, hihihi ..
"Maksudnya tempat salat ya Bu?"
"Iya!"
"Sebentar ya!" Duh jadi ngerepotin. Masnya baik banget, mau direpotin. Disediakan tempat salat darurat, digelarin tikar, dikasih sajadah,dan dipinjamin mukena juga, jadi aku nggak perlu repot ambil mukena di mobil, sementara hujan semakin deras. Nikmat mana lagi yang Kaudustakan?

Usai salat, Aku menghampiri Ayah yang sedang lahap menikmati bakso kesukaan nya. Kasihan sekali, di samping kelaparan juga memendam rasa pada bola - bola daging yang menggoda. Tadi rest area memang minta dibeliin bakso Malang, tapi Aku pura-pura nggak dengar, soalnya sudah disiapin bekal lengkap kok malah minta bakso, jelas saja aku geregetan.
Ternyata baksonya memang enak. Kenyal, tapi empuk. Gampang diiris pakai sendok. Bukan yang kalau dipotong pakai sendok membal kaya bola bekel, tapi ini kenyal empuk dan enak. Suerrr. Cuma kuahnya kurang panas. Mungkin udaranya dingin, jadi sudah tidak panas lagi.

"Dek, Aku tambah semangkok lagi, ya!"
"Ya, tambah 5 mangkok juga boleh," jawabku saat kubaca di daftar menu cuma 10 ribu/mangkok. Enak, murah. Tapi aku nggak mau nambah, di samping bukan penggemar bakso, aku juga sudah kenyang. Kan tadi di rest area sudah makan. Kalau di depot bakso ini butuh ke toilet dan salat. Syukur-syukur boleh menginap, hahaha...
"Mas, tutupnya jam berapa?" Tanya Ayah.
"Jam delapan,Pak!"
"Oh, ya sudah. Terima kasih!"
Tadinya mau nunut tidur di situ, kebetulan yang tempat lesehan, alasnya empuk, nyaman kalau buat tidur. Eh. .
Tapi akhirnya kita memutuskan tidur di mobil saja, nggak enak ngerepotin Masnya terus. Mau kasih uang takut tersinggung. Eh.
Yah, begitulah. Akhirnya kita menginap dimobil yang parkir di area depot bakso di pinggir jalan.
Malam-malam ada yang ngebangunin. Tadinya kukira Ayah disamperin temannya, jadi Aku berniat melanjutkan tidur setelah sempat terjaga.
" Bu, kami mau naik. Ikut gabung nggak, apa mau istirahat saja?"
" Eh, sebentar, tanya suami dulu!"
"Mas, bangun. Ada teman yang mau naik sekarang, mau gabung atau istirahat dulu?"
" Kami istirahat dulu saja, Om, jawab ayah."
Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan tanpa kami ikut.
" Kulirik angka jam di hape tertulis 01. 22. Ternyata masih dini hari.
Kami melanjutkan tidur. Besok pagi perjalanan sepertinya lebih menarik.