Freelancer, suka traveling, dan kuliner. Nominee best in citizen journalism 2024 Nominee best in storytelling 2025

Sepulang salat Ied hari ini, sebelum mudik untuk Acara temu keluarga, Aku mohon maaf dulu pada Ayah, suami tercinta.
"Mas, maafin Aku kalau suka ndableg dan banyak salah, ya!" Kucium tangannya.
"Sama-sama Dek, Aku juga mohon maaf kalau selama ini banyak salah," sambil. Cup .cup.. dan cup!!!
"Sudah yuk, packing! Kita kan mau mudik!"
"Oke, mau beli gas dulu. Kebetulan tadi pagi mau manasin sayur, malah kehabisan gas, beruntung masih mudah mendapatkan gas untuk keluarga miskin. Eh...! Itu juga dapat nya jaman kompensasi minyak tanah, cuma satu lagi. Gimana nggak tercatat sebagai keluarga miskin. Hihihi...malah ngelantur.
Yuk mudik dulu, katanya mau temu Keluarga. Habisnya saudara jauh semua, dari Madiun, Semarang, Bandung, Purworejo. Beruntung bisa ngumpul di kampung halaman. Hehehe...

Suasana hari raya Idulfitri atau Lebaran selalu identik dengan satu momen yang paling dinanti: temu keluarga. Setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa, momen ini menjadi puncak kemenangan yang dirayakan dengan kehangatan, tawa, dan tentu saja, hidangan khas yang menggugah selera.
Gemuruh Takbir dan Aroma Masakan
Pagi hari dimulai dengan gema takbir yang bersahutan, menciptakan atmosfer syahdu sekaligus penuh semangat. Di dapur, kesibukan sudah dimulai sejak malam sebelumnya.
Aroma gurih opor ayam, rendang yang kaya rempah, serta wangi khas ketupat yang baru matang memenuhi seluruh penjuru rumah. Meja makan pun berubah menjadi pusat gravitasi bagi seluruh anggota keluarga.
Salah satu ritual yang paling menyentuh adalah sungkeman. Di ruang tamu yang sudah tertata rapi, anggota keluarga yang lebih muda bersimpuh di hadapan orang tua atau sesepuh.
Momen ini bukan sekadar tradisi formalitas, melainkan ruang untuk:

-Saling memaafkan dengan tulus atas segala khilaf setahun terakhir.
-Mempererat ikatan batin antar generasi.
-Mengingat kembali nilai-nilai luhur yang diajarkan dalam keluarga.
Tidak jarang, air mata haru jatuh di tengah senyum bahagia, menandakan beban di hati yang perlahan luruh berganti kesucian fitrah.
Riuh Rendah Canda di Ruang Tamu
Setelah prosesi maaf-memaafkan selesai, suasana berubah menjadi lebih cair dan ceria. Ruang tamu menjadi saksi bisu riuhnya percakapan. Mulai dari sepupu yang saling pamer hobi baru, hingga para paman dan bibi yang asyik bernostalgia tentang masa kecil mereka.
Anak-anak kecil biasanya menjadi yang paling antusias. Mereka berlarian dengan baju baru, sambil sesekali mengintip toples berisi nastar atau putri salju yang berjajar rapi di meja. Dan tentu saja, momen pembagian "salam tempel" atau amplop Lebaran selalu menjadi puncak kegembiraan bagi mereka.

Meski sebagian keluarga mungkin terpisah jarak, suasana temu keluarga tetap terasa berkat bantuan teknologi.
Panggilan video grup menjadi jembatan bagi mereka yang belum bisa mudik, memastikan bahwa doa dan ucapan maaf tetap tersampaikan meski tidak bertatap muka secara langsung.
Lebaran mengajarkan kita bahwa sejauh apa pun kita melangkah, keluarga adalah tempat untuk kembali.
Pertemuan ini adalah pengingat bahwa harta paling berharga adalah waktu yang dihabiskan bersama orang-orang tercinta dalam keadaan sehat dan bahagia.
"Kemenangan sejati bukan hanya tentang kembali suci, tapi tentang bagaimana kita menjaga tali silaturahmi agar tetap abadi."
#Ramadan bercerita 2026 hari 32