Isti  Yogiswandani
Isti Yogiswandani Lainnya

Freelancer, suka traveling, dan kuliner. Nominee best in citizen journalism 2024 Nominee best in storytelling 2025

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Sengkulun, Clorot dan Wajik: Jajan Pasar Favoritku yang Bisa ditemui di Pasar Krendetan

28 Maret 2026   18:05 Diperbarui: 28 Maret 2026   18:31 225 11 6

Wajik, sengkulun dan clorot (Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)
Wajik, sengkulun dan clorot (Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)

"Dek, mampir pasar Nggak? Tanya suamiku saat Patung Pendowo sudah terlewati.

"Boleh! Mau cari clorot. Lama tidak makan clorot!" Jawabku antusias.

Kebetulan sekali, hari pasaran pasar Krendetan, yang berlokasi di Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah ini hari Rabu dan Sabtu. Bertepatan dengan hari Aku pulang Madiun dari mudik ke Purworejo.

Suasana pasar tidak terlalu ramai, dan di dalam agak gelap. Tapi menemukan makanan yang Aku cari ternyata sangat mudah. Clorot, wajik, dan sengkulun adalah makanan khas daerah yang  mudah ditemui di Purworejo. Meski begitu , mungkin ada daerah lain yang mengklaim kuliner ini sebagai makanan khas daerah nya.

Clorot 

Clorot (Dokumentasi pribadi. diolah dengan Gemini AI)
Clorot (Dokumentasi pribadi. diolah dengan Gemini AI)

Clorot adalah salah satu makanan khas dari daerah Purworejo. Mungkin juga ada daerah lain yang mengklaim nya dengan nama dumbeg.

Makanan ini cukup unik karena dibungkus daun kelapa atau janur yang dibentuk tabung yang berlapis-lapis dengan bagian bawahnya ada tangkainya yang bisa didorong sehingga kue clorot nya keluar dan bisa digigit untuk dinikmati. Bukan dengan membuka anyaman janurnya.

Cara menikmati clorot bukan dengan membuka bungkusnya, tapi mendorong nya dari bawah(Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)
Cara menikmati clorot bukan dengan membuka bungkusnya, tapi mendorong nya dari bawah(Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)

Clorot terbuat dari adonan santan, gula merah, tepung beras dan sedikit garam, yang dikukus dengan dimasukkan dalam anyaman janur sebagai wadahnya.

Rasanya manis kenyal dan legit. Di pasar Krendetan, satu ikat clorot berisi 10 buah, harganya 15 ribu rupiah.

Sengkulun 

Sengkulun (Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)
Sengkulun (Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)

Sengkulun adalah makanan yang berbahan dasar tepung ketan, parutan kelapa, dan gula pasir. Kalau menurut pendapat ku, sengkulun adalah versi kukus dari kuliner wingko babat yang biasanya dibakar. 

Di samping dikukus, sengkulun di atasnya ditaburi toping kelapa parut yang diberi warna, biasanya pink. Kelapa parut ini biasanya menempel pada adonan di bawahnya, sehingga menjadi satu kesatuan yang memperindah tampilan.

Di pasar Krendetan, saya dapatkan harga 40 ribu untuk 1 loyang sengkulun berbentuk lingkaran dengan diameter kira-kira 22 cm.

Wajik

Wajik(Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)
Wajik(Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)

Wajik adalah makanan berbahan dasar beras ketan yang dimasak bersama gula dan  santan sampai kalis. Kemudian dicetak dan didinginkan. Biasanya diiris berbentuk ketupat atau wajik.

Makanan ini bisa awet 3 hari kalau dimasak dengan betul sampai kalis dan karena rasanya yang manis.

Terkadang untuk menambah rasa gurih, saat memasaknya dimasukkan brambang goreng, atau cukup diberi garam secukupnya tergantung selera.

Di pasar Krendetan, wajik 1 loyang ditawarkan dengan harga 120 ribu rupiah. Tapi di penjual yang lain, akhirnya saya dapatkan harga 20 ribu rupiah untuk 1/4 nampan. Atau harga perkotaknya cuma 80 ribu rupiah.

Pasar Krendetan

Pasar Krendetan Kecamatan Bagelen Kabupaten Purworejo (Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)
Pasar Krendetan Kecamatan Bagelen Kabupaten Purworejo (Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)
Pasar Krendetan adalah pasar tradisional di kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo yang buka atau mempunyai hari pasaran Rabu dan Sabtu.

Selain sengkulun, wajik dan clorot, di sini juga bisa ditemukan jajanan tradisional seperti jenang, krasikan, gadungan atau growol, lapis, tempe bentuk bacem, geblek, alen-alen, dan krimpying.

Gula merah, sayuran dan sembako juga bisa ditemukan di sini. Banyak yang bisa dibeli, tapi kebetulan Aku sudah punya banyak, cuma lupa ingin beli gula merah. Setelah pergi jauh baru ingat. Duh..

Pedagang gula kelapa di pasar Krendetan (Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)
Pedagang gula kelapa di pasar Krendetan (Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)

Kalau melewati Purworejo bagian Timur selatan dan pas hari pasaran bisa mampir di pasar ini karena lokasinya berada di pinggir jalan utama Purworejo - Jogjakarta. Dekat dengan tugu perbatasan jogja-Purworejo.

Makanan khas dan jajanan tradisional bukan sekadar pengganjal perut; mereka adalah elemen vital yang menggerakkan roda kehidupan masyarakat dari berbagai sisi.

 Berikut adalah peran strategisnya:

1. Pilar Identitas dan Budaya
Makanan tradisional adalah "sidik jari" suatu daerah. Ia menyimpan sejarah, filosofi, dan nilai-nilai luhur yang diwariskan antar-generasi.
 -Simbol Ritual dan Tradisi: Banyak jajanan pasar yang memiliki makna filosofis. Misalnya, tumpeng yang melambangkan hubungan manusia dengan Tuhan, atau ketan yang melambangkan kerukunan (teksturnya yang lengket).
 -Kebanggaan Lokal: Kuliner menjadi wajah sebuah kota. Wisatawan seringkali mengenal suatu daerah justru melalui makanannya terlebih dahulu sebelum sejarahnya.
 -Pelestarian Warisan: Dengan tetap memproduksi dan mengonsumsi makanan khas, masyarakat secara otomatis menjaga resep dan teknik memasak kuno agar tidak punah ditelan zaman.

Pasar Krendetan (Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)
Pasar Krendetan (Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)

2. Penggerak Perekonomian Rakyat
Sektor kuliner tradisional merupakan tulang punggung ekonomi mikro yang sangat tangguh.
 -Pemberdayaan UMKM: Produksi jajanan tradisional umumnya dilakukan oleh industri rumah tangga (home industry), yang membuka lapangan kerja bagi warga sekitar, terutama ibu-ibu.
 -Rantai Pasok Lokal: Pembuat makanan tradisional biasanya mengambil bahan baku (beras, gula jawa, kelapa, sayuran) langsung dari pasar lokal atau petani sekitar. Ini menciptakan perputaran uang yang tetap berada di lingkup komunitas tersebut.
 -Daya Tarik Wisata (Wisata Kuliner): Makanan khas menjadi magnet bagi wisatawan. Kehadiran sentra kuliner tradisional memicu munculnya usaha lain seperti penginapan, transportasi, dan toko oleh-oleh.

Pasar Krendetan (Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)
Pasar Krendetan (Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)

3. Dinamika Kehidupan Sosial
Dalam kehidupan sehari-hari, makanan tradisional berfungsi sebagai "perekat" hubungan antar-warga.
 - Sarana Silaturahmi: Dalam pertemuan RT, pengajian, atau hajatan, sajian jajanan pasar menjadi pembuka percakapan. Tradisi berbagi makanan (seperti berkat atau hantaran) memperkuat ikatan persaudaraan.
 - Edukasi Gizi Alami: Banyak jajanan tradisional yang menggunakan bahan "real food" tanpa pengawet kimia berat, sehingga berperan dalam menjaga kebiasaan makan yang lebih alami dan sehat bagi keluarga jika dibandingkan dengan camilan ultra-proses modern.

Pasar Krendetan (Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)
Pasar Krendetan (Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)

- Ruang Publik yang Hidup: Pasar tradisional atau pujasera yang menjual makanan khas menjadi ruang interaksi sosial di mana warga dari berbagai latar belakang bertemu dan berkomunikasi.

Kesimpulan:

Makanan khas adalah aset tak benda yang multifungsi. Ia menjaga akar budaya tetap kuat, memastikan dapur warga tetap mengepul secara ekonomi, dan menjalin keharmonisan dalam kehidupan bertetangga.

Sumber: YouTube @Isti Yogiswandani channel 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4