Freelancer, suka traveling, dan kuliner. Nominee best in citizen journalism 2024 Nominee best in storytelling 2025

Awal perjalanan jalan mulus beraspal meski jalannya penuh belokan dan tikungan. Kata suami, kita lewat Padangan, tapi lokasi Padangan itu di mana juga nggak paham.
Pokoknya kita lewat Ngawi. Tapi setelah ambil rute Cepu, mulai drama. Suami mulai marah karena katanya harusnya sudah sampai. Sudah hampir 3 jam.
Mungkin sudah capek dan bosan nyetir, jadi mulai berulah, marah dan mencari kambing hitam.
"Sampai mana ini, kok mulai lewat jalan pedesaan. Harusnya lewat jalan propinsi. Tadi kamu ngemapsnya ke mana?"
"Ya, pantai Boom Tuban. Masak ke mana?"
"Nah, ini akibat kamu nggak nurut. Jangan langsung ke lokasi. Rutenya nanti salah. Dari Ngawi ke Makam Sunan Bonang dulu. Jangan langsung ke Pantai Boom Tuban. Aku kan sudah bilang, kita janjian sama Om Kelik di parkiran masjid Sunan Bonang. Ini pasti sudah terlewat!"
Mulai dah, nyalahin Aku. Dan mulai memaki-maki khas Surabaya. Dan***!!!
"Lho, ini baru Cepu. Kok sudah terlewat gimana!" Aku ikut panas.
Kalau mau diganti tujuan Makam Sunan Bonang Tuban ya masih bisa. Kan sama-sama di Tuban. Ini, masih Cepu, ya masih jauh, masih sekitar 60 km!" Aku mulai jengkel.
"Ya, sudah terlewat. Harusnya kamu ngemaps ke Makam Sunan Bonang sejak berangkat tadi, sekarang sudah telat!" teriaknya keras, padahal Aku duduk di samping nya.