Freelancer, suka traveling, dan kuliner. Nominee best in citizen journalism 2024 Nominee best in storytelling 2025

Penat dan lelah dalam trip to Parijotho belum reda, sudah diajak kembali oleh suami mengikuti acara Camper Van Indonesia chapter Talangono (Tuban, Lamongan, Bojonegoro). Okelah, sekalian capeknya, hehehe...
Tuban. Kota di pesisir Utara itu seperti mempunyai chemistry tersendiri bagi diriku. Entahlah.
Acara CVI Jatim chapter Talangono yang akan melaksanakan deklarasi CVI Talangono di Pantai Boom Tuban cukup menarik.
Ini pertama kalinya aku mengikuti acara camping di pantai, biasanya di daerah pegunungan yang berhawa sejuk cenderung dingin. Kali ini di pantai, dengan cuaca panas sepertinya.
Buka google maps, baru tahu, Kota Tuban berjarak sekitar 162 km dan waktu tempuh sekitar 4 jam. Cukup jauh dari Madiun.

"Besok kalau capek marah-marah, atau nggak mau nurut google maps, kutinggal tidur, dan aku lepas tangan!"
Sejak sebelum berangkat aku sudah wanti-wanti pada suami, sebab hafal sifatnya. Sok pengin datang ke lokasi yang jauh, tapi kalau capek nyetir, marah-marah nggak jelas di luar Nurul, dan tidak masuk akal.
Meski tetap dengan semangat Kartini, cukup was-was juga menempuh perjalanan jauh tanpa pernah ke lokasi sebelumnya
Sebelumnya juga sudah kutanya, mau via Cepu atau Bojonegoro. Pilihnya lewat Cepu, lanjut Singgahan saja.

Awal perjalanan jalan mulus beraspal meski jalannya penuh belokan dan tikungan. Kata suami, kita lewat Padangan, tapi lokasi Padangan itu di mana juga nggak paham.
Pokoknya kita lewat Ngawi. Tapi setelah ambil rute Cepu, mulai drama. Suami mulai marah karena katanya harusnya sudah sampai. Sudah hampir 3 jam.
Mungkin sudah capek dan bosan nyetir, jadi mulai berulah, marah dan mencari kambing hitam.
"Sampai mana ini, kok mulai lewat jalan pedesaan. Harusnya lewat jalan propinsi. Tadi kamu ngemapsnya ke mana?"
"Ya, pantai Boom Tuban. Masak ke mana?"
"Nah, ini akibat kamu nggak nurut. Jangan langsung ke lokasi. Rutenya nanti salah. Dari Ngawi ke Makam Sunan Bonang dulu. Jangan langsung ke Pantai Boom Tuban. Aku kan sudah bilang, kita janjian sama Om Kelik di parkiran masjid Sunan Bonang. Ini pasti sudah terlewat!"
Mulai dah, nyalahin Aku. Dan mulai memaki-maki khas Surabaya. Dan***!!!
"Lho, ini baru Cepu. Kok sudah terlewat gimana!" Aku ikut panas.
Kalau mau diganti tujuan Makam Sunan Bonang Tuban ya masih bisa. Kan sama-sama di Tuban. Ini, masih Cepu, ya masih jauh, masih sekitar 60 km!" Aku mulai jengkel.
"Ya, sudah terlewat. Harusnya kamu ngemaps ke Makam Sunan Bonang sejak berangkat tadi, sekarang sudah telat!" teriaknya keras, padahal Aku duduk di samping nya.
"Ya, nggak! Ini masih Cepu!". Aku ikut teriak.
"Mbok kalau mau berangkat itu, mapsnya dipelajari dulu. Mana Ngawi, mana Cepu, mana Bojonegoro, mana Tuban!" aku kembali berteriak.
Aku mulai ikut emosi. Aku juga capek membaca maps. Kenapa disalah-salahin melulu. Di percabangan Cepu ke arah Singgahan dan Bojonegoro sudah kutawarkan mau lewat mana, jawabnya jangan lewat Bojonegoro. Sekarang suruh ngemaps ke Bojonegoro. Membagongkan banget!
"Kalau ngemaps itu per kota. Dari Ngawi ke Cepu dulu, nanti sampai Cepu, baru ngemaps lagi, baru ke Tuban. Itu juga jangan langsung lokasi, ke kantor bupatinya dulu!"
"Ya ampun...! Ngapain mampir-mampir dulu ke kantor bupati?" aku semakin sewot.
"Ya nanti rutenya selalu lewat kota, tidak lewat jalan terpencil seperti ini!"
Duh, meski masuk akal, biar lewat jalan kota terus, tapi harus ngemaps dulu ke kantor bupati/walikota kota yang kami lewati tentunya kurang efektif. Apalagi kalau jalurnya sudah jelas tertera di maps. Dan jarang lewat kantor bupati atau walikota, lebih sering jalur ring road, bypass atau luar kota.
"Sudah, terserah. Mau lewat mana, cari jalan sendiri!" kumatikan gawaiku dan kumasukkan tas.
Akhirnya suamiku buka gawainya sendiri. Aku diam saja. Sudah malas ngomong. Aku lebih memilih khusyuk berdoa. "Ya Allah, berikan kecerdasan pada suamiku, meski hanya sekedar agar paham lokasi dan bisa membaca maps!" Itu saja doa yang kuulang-ulang dalam hati, sambil diam dan tak menjawab, biar tidak semakin seru bertengkarnya
Akhirnya kami berhenti di sebuah masjid pondok pesantren, istirahat salat dulu. Biar otak dan hati rileks dan dingin.
"Nih, pakai hapeku saja, bacakan mapsnya!"
Kuterima saja gawainya. Meski agak malas, karena hape suamiku dipasword.
Aku sih nggak peduli, cuma kalau lagi diperlukan untuk baca maps, dan terjadi perubahan, untuk beralih kembali ke maps harus memasukkan password lagi. Ribet!
Akhirnya kami kembali melanjutkan perjalanan, melewati kantor migas Cepu, setelahnya rutenya cukup mengerikan. Tanjakan dan turunan tajam, dengan jalur padat banyak truk bermuatan penuh yang berjalan sangat lambat, membuat kecepatan juga harus ikut rendah. Sementara kalau menyalib, jalan terlalu sempit dan berliku. Cukup membuat sport jantung.
Serasa hampir mati konyol melewati rute ini. Apalagi saat menurun, mobil matic seperti berjalan sendiri.
Rute ini bahkan membuat suamiku memilih rute lain untuk perjalanan pulang nantinya. Ngeri!
Alhamdulillah, akhirnya semua terlewati dan mulai terlihat suasana laut, pertanda sudah sampai di Kota Tuban. Birunya laut dan langit bersih cukup memberikan pemandangan yang menyejukkan hati.

Melalui rute tepi laut, dengan banyak perahu nelayan yang melaut, membuat ku membayangkan belanja ikan laut yang segar dan pasti rasanya lebih lezat dan sehat.
Ketika sudah beberapa ratus meter dari lokasi, Om Kelik telepon memberi tahu sudah share lok, tapi belum saya buka karena masih fokus membaca maps. Karena lagi-lagi harus memasukkan password, hape Aku serahkan pada suami yang tahu pasword hapenya sendiri.
Luar biasa. Ternyata lokasi perkemahan (pantai boom) Camping Deklarasi Talangono Tuban, alun-alun, masjid Jami, makam sunan Bonang, bahkan Wisata goa Akbar lokasinya relatif berdekatan, tidak sampai 1 km. Semuanya berlokasi di dalam Kota Tuban.
Tentunya ini sebuah poin yang menguntungkan bagi wisatawan, bisa menikmati beberapa tempat wisata sekaligus dalam waktu singkat.
Mungkin ada pembaca atau kompasianer yang ingin menikmati wisata di Kota Tuban, bisa memarkir kendaraan di parkiran wisata Kota Tuban. Dari sini bisa ziarah ke makam sunan Bonang, alun-alun, pantai boom Tuban, dan goa Akbar.
Kalau merasa capek, bisa naik becak, atau sewa sepeda motor listrik yang tersedia di area parkir maupun tempat wisata.
Yuk simak videonya dulu, saat baru sampai di Kota Tuban dan pantai Boom.