Freelancer, suka traveling, dan kuliner. Nominee best in citizen journalism 2024 Nominee best in storytelling 2025
"Ya, nggak! Ini masih Cepu!". Aku ikut teriak.
"Mbok kalau mau berangkat itu, mapsnya dipelajari dulu. Mana Ngawi, mana Cepu, mana Bojonegoro, mana Tuban!" aku kembali berteriak.
Aku mulai ikut emosi. Aku juga capek membaca maps. Kenapa disalah-salahin melulu. Di percabangan Cepu ke arah Singgahan dan Bojonegoro sudah kutawarkan mau lewat mana, jawabnya jangan lewat Bojonegoro. Sekarang suruh ngemaps ke Bojonegoro. Membagongkan banget!
"Kalau ngemaps itu per kota. Dari Ngawi ke Cepu dulu, nanti sampai Cepu, baru ngemaps lagi, baru ke Tuban. Itu juga jangan langsung lokasi, ke kantor bupatinya dulu!"
"Ya ampun...! Ngapain mampir-mampir dulu ke kantor bupati?" aku semakin sewot.
"Ya nanti rutenya selalu lewat kota, tidak lewat jalan terpencil seperti ini!"
Duh, meski masuk akal, biar lewat jalan kota terus, tapi harus ngemaps dulu ke kantor bupati/walikota kota yang kami lewati tentunya kurang efektif. Apalagi kalau jalurnya sudah jelas tertera di maps. Dan jarang lewat kantor bupati atau walikota, lebih sering jalur ring road, bypass atau luar kota.
"Sudah, terserah. Mau lewat mana, cari jalan sendiri!" kumatikan gawaiku dan kumasukkan tas.
Akhirnya suamiku buka gawainya sendiri. Aku diam saja. Sudah malas ngomong. Aku lebih memilih khusyuk berdoa. "Ya Allah, berikan kecerdasan pada suamiku, meski hanya sekedar agar paham lokasi dan bisa membaca maps!" Itu saja doa yang kuulang-ulang dalam hati, sambil diam dan tak menjawab, biar tidak semakin seru bertengkarnya
Akhirnya kami berhenti di sebuah masjid pondok pesantren, istirahat salat dulu. Biar otak dan hati rileks dan dingin.
"Nih, pakai hapeku saja, bacakan mapsnya!"