Freelancer, suka traveling, dan kuliner. Nominee best in citizen journalism 2024 Nominee best in storytelling 2025
Suasana senja di Tepi Laut ternyata begitu eksotis, apalagi saat kita membayangkan akan menikmati senja dan menghabiskan malam dengan camping di sini. Indah dan membangkitkan rasa yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata(Aku)
Akhirnya kita ketemu juga dengan Om Kelik yang sudah menunggu di dekat parkiran wisata belakang makam Sunan Bonang. Tante Monik malah sudah menunggu di salah satu lapak milik saudara Om Kelik yang berada di lokasi parkir.
"Ambil parkir di depan masjid, gak papa, Om!" Kata Om Kelik. Kebetulan saat tiba di parkir, azan Asar juga pas berkumandang, tapi kami sudah menjamak salat duhur dan asar tadi di perjalanan.
"Mandi-mandi dulu saja, di sini air berlimpah dan bersih, dibanding di lokasi camping.!" Om Kelik yang sudah di lokasi sejak kemarin lebih paham situasi dan kondisi.

Akhirnya kami mandi sambil menungg Mbah Mul dan Tante Etik tiba di parkiran tempat kita janji ketemuan. Kebetulan kita bertiga keluarga yang sudah melepas anak dewasa, jadi bisa bepergian tanpa khawatir meninggalkan anak-anak.
Melepas anak dewasa juga memberi kepercayaan pada mereka untuk.memilih jalan dan masa depan yang ingin ditempuhnya.

Setelah nya kita langsung menuju lokasi Camping CVI Jatim chapter Talangono. Tapi Om Kelik mengajak kita mampir ke Plaza Ikan, tempat berbagai macam ikan segar dan ikan panggang bisa dibeli.
Di Plaza Ikan, banyak ikan yang bisa dipilih. Ikan hasil tangkapan nelayan. Di sini ikan relatif murah. Untuk ikan kerapu yang di pantai selatan per kg bisa di atas 100 ribu, di sini cuma 50 ribu/kg.
Akhirnya Aku beli ikan kakap panggang dan ikan dorang yang ditusuk bambu. Om Kelik dan Tante Monik, sebelum nya juga sudah membeli ikan Pe asap. Cukuplah untuk makan malam bersama sambil bakar api unggun nanti malam. Kalau buat oleh-oleh, sebelum pulang saja belinya, biar lebih segar.
Kami melanjutkan perjalanan ke Lokasi wisata Pantai Boom Tuban yang dipergunakan untuk Camping deklarasi CVI Talangono.

Sampai di lokasi, peserta sudah banyak yang datang, sebab acaranya dilaksanakan hari Jumat, Sabtu dan Minggu. Sedang kami baru datang di hari Sabtu.
Om Kelik langsung memandu kami ke lokasi camping yang dipilihnya untuk 3 KR. Lokasinya hanya sekitar 10 m dari tepi laut. Bisa langsung memandang ke laut lepas.
Tak menunggu gelap, kami langsung menata posisi. Untuk auning, kita pakai punya Mbah Mul, sebab Suamiku buka RTT, mumpung ada yang membantu. Kalau sendirian agak repot menatanya
Meja dan kursi lipat dibuka untuk bersantai di dekat tenda, atau untuk duduk-duduk di tepi laut sambil memandang laut lepas.

Usai menata posisi tenda, Kami mulai berpencar menikmati laut, Surya yang mulai tenggelam, dan suasana senja yang eksotis.
Siluet tenda dan siluet diri menghias indah nya senja
"Ayo Nte, kita buat foto siluet bergantian!"
Tante Monik dan Tante Etik sudah asyik membuat foto siluet, Aku ikut bergabung mengabadikan keindahan senja yang cepat berlalu.
Perahu, langit senja, nelayan, peserta yang asyik memancing, dan yang asyik duduk di kursi lipat di tepi laut memberikan suasana senja yang kental.

Menikmati arah laut, indahnya senja mulai membayang, tapi di arah sebaliknya, alam masih benderang. Tenda-tenda peserta camping deklarasi CVI Talangono masih terlihat jelas. Warna-warni penuh keaneka ragaman yang tertata di lokasi camping.
Tak lama suara azan Maghrib menghentikan segala aktifitas. Mengambil air wudhu, tunduk pada sang pencipta dan menyambut malam yang menyuguhkan aura berbeda.
Senja masih setia, tapi harus segera beralih, memberikan waktu pada sang malam yang siap menyelimuti indahnya alam di Pantai Boom Tuban. Suasana yang lebih akrab dan esensial mulai mewarnai camping di tepi laut.