Jandris_Sky
Jandris_Sky Mahasiswa

Kompasianer Terpopuler 2024 - 2025 Kompasiana Award Pelestari 2025

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Inovasi Pembuatan Biomassa Briket Sebagai Solusi Affordable Alternative Energy Dalam Upaya Mencapai SDGs 2030

6 Juli 2026   18:19 Diperbarui: 6 Juli 2026   18:19 136 15 1



Inovasi Pembuatan Biomassa Briket Sebagai Solusi Affordable Alternative Energy dalam Upaya Mencapai Sustainable Development Goals 2030.


Di tengah meningkatnya kebutuhan energi dan semakin menipisnya cadangan bahan bakar fosil, kita dihadapkan pada sebuah tantangan besar. 

Di satu sisi, masyarakat membutuhkan energi yang murah dan mudah diperoleh. Di sisi lain, bumi membutuhkan solusi yang lebih ramah lingkungan agar kerusakan alam tidak semakin parah. 

Kabar baiknya, solusi tersebut sebenarnya sudah ada di sekitar kita, bahkan sering kali dianggap sebagai limbah yang tidak berguna.

Salah satu inovasi yang mulai banyak dikembangkan adalah biomassa briket. 

Briket biomassa merupakan bahan bakar padat yang dibuat dari berbagai limbah organik, seperti tempurung kelapa, sekam padi, serbuk gergaji, tongkol jagung, kulit buah, daun kering, hingga limbah biji-bijian. 

Dengan proses pengolahan yang tepat, limbah tersebut dapat berubah menjadi sumber energi alternatif yang memiliki nilai ekonomi sekaligus memberikan manfaat bagi lingkungan.

Yang menarik, pembuatan biomassa briket tidak membutuhkan teknologi yang terlalu rumit.

Prosesnya dimulai dari pengeringan bahan baku, kemudian dilakukan proses karbonisasi atau pembakaran terbatas untuk menghasilkan arang. 

Setelah itu arang dihaluskan menjadi serbuk, dicampur dengan perekat alami seperti tepung tapioka, lalu dicetak menggunakan alat press. 

Briket yang telah dicetak kemudian dikeringkan hingga kadar airnya rendah sehingga siap digunakan sebagai bahan bakar.

Hasil akhirnya cukup mengesankan. Biomassa briket mampu menghasilkan panas yang stabil, waktu pembakaran yang relatif lama, serta menghasilkan asap yang lebih sedikit dibandingkan kayu bakar biasa apabila diproduksi dengan standar yang baik. 

Selain itu, abu sisa pembakarannya juga lebih sedikit sehingga penggunaannya menjadi lebih praktis.

Inovasi ini menjadi sangat relevan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) 2030, khususnya tujuan ketujuh, yaitu menyediakan energi yang bersih dan terjangkau (Affordable and Clean Energy). 

Briket biomassa menjadi pilihan yang lebih ekonomis bagi masyarakat, terutama di daerah yang masih memiliki keterbatasan akses terhadap energi modern.

Tidak hanya itu, pemanfaatan limbah sebagai bahan baku briket juga mendukung tujuan SDGs nomor 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab. 

Limbah pertanian maupun limbah organik rumah tangga yang sebelumnya hanya dibuang kini dapat dimanfaatkan kembali menjadi produk yang memiliki nilai tambah.

Konsep ini sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular, yaitu memanfaatkan kembali sumber daya agar tidak menjadi sampah.

Dari sisi lingkungan, biomassa briket juga berkontribusi pada tujuan SDGs nomor 13, yaitu penanganan perubahan iklim. 

Semakin banyak limbah organik yang dimanfaatkan menjadi energi, maka semakin sedikit limbah yang dibakar secara terbuka atau dibuang ke tempat pembuangan akhir. 

Hal ini membantu mengurangi pencemaran udara sekaligus emisi gas rumah kaca.

Menariknya lagi, inovasi biomassa briket juga mampu membuka peluang ekonomi baru. 

Masyarakat, kelompok tani, hingga pelajar dapat mengembangkan usaha kecil berbasis energi alternatif ini. 

Bahan bakunya mudah ditemukan, biaya produksinya relatif terjangkau, sementara permintaan terhadap bahan bakar ramah lingkungan terus meningkat dari tahun ke tahun.

Di lingkungan sekolah, pembuatan biomassa briket bahkan dapat menjadi media pembelajaran yang sangat menarik.

Para siswa tidak hanya belajar mengenai energi terbarukan, tetapi juga memahami pentingnya pengelolaan limbah, kewirausahaan, inovasi teknologi sederhana, hingga kepedulian terhadap lingkungan. 

Dari sebuah proyek sederhana, mereka belajar bahwa sampah bukanlah akhir dari sebuah benda, melainkan awal dari manfaat baru.

Indonesia sendiri memiliki potensi biomassa yang sangat besar. Sebagai negara agraris, berbagai jenis limbah pertanian tersedia hampir sepanjang tahun. 

Jika potensi tersebut dikelola secara optimal, bukan tidak mungkin biomassa briket dapat menjadi salah satu penopang ketahanan energi nasional di masa depan. 

Ketergantungan terhadap bahan bakar fosil pun dapat dikurangi secara bertahap.

Namun tentu saja masih ada beberapa tantangan. Edukasi kepada masyarakat mengenai manfaat biomassa briket perlu terus ditingkatkan. 

Selain itu, kualitas produk juga harus dijaga agar memiliki daya saing yang baik. Dukungan pemerintah, dunia pendidikan, industri, dan komunitas menjadi faktor penting agar inovasi ini dapat berkembang lebih luas.

Yang tidak kalah penting adalah membangun kesadaran bahwa setiap limbah memiliki potensi untuk diolah kembali.

Selama ini kita terlalu sering memandang limbah sebagai masalah, padahal dengan kreativitas dan inovasi, limbah justru dapat menjadi solusi. 

Biomassa briket menjadi salah satu contoh nyata bahwa pendekatan sederhana mampu memberikan dampak yang besar bagi kehidupan.

Masa depan energi tidak selalu harus bergantung pada teknologi yang mahal. Justru dari desa, sekolah, dan lingkungan sekitar, berbagai inovasi sederhana dapat lahir dan memberikan manfaat yang luas. 

Biomassa briket membuktikan bahwa energi alternatif yang murah, ramah lingkungan, dan mudah diproduksi bukan sekadar impian, melainkan sesuatu yang dapat diwujudkan mulai hari ini.

Pada akhirnya, keberhasilan mencapai SDGs 2030 bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau organisasi internasional. 

Setiap individu memiliki peran untuk ikut berkontribusi. Dengan memanfaatkan limbah menjadi biomassa briket, kita tidak hanya menghasilkan energi alternatif yang terjangkau, tetapi juga membantu mengurangi sampah, menciptakan peluang ekonomi, menjaga lingkungan, dan mewariskan bumi yang lebih baik kepada generasi mendatang. 

Langkah kecil yang dilakukan secara bersama-sama akan menjadi perubahan besar menuju masa depan yang lebih hijau, berkelanjutan, dan penuh harapan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3