KS Story
KS Story Petani

Kisah PNS Asyik Bertani Di Sebuah Kebun Mini Miliknya, KS Garden Kuansing Namanya. (Kebun Buah Yang Disinari Matahari, Sayuran Yang Berwarna Cerah, Mimpi Yang Dipanen, Keranjang Berlimpah, Usaha Yang Membuahkan Hasil, Akar Yang Bersemangat, Panen Manis, Dari Ladang Ke Meja Makan😅)

Selanjutnya

Tutup

Video

Potret Kehidupan Episode 68 tentang Sore Terindah

10 Maret 2024   23:38 Diperbarui: 11 Maret 2024   00:02 782 0 0

Ada banyak percakapan lucu di sore terindah,

"Ada sedikit kilasan kedewasaan pada pancaran matamu KS, dibanding terakhir kita bertemu. Teori yang memaksakan pendapat bahwa perempuan bermata besar kelihatan lebih cantik, ia akan runtuh berantakan jika melihat aku. Matamu yang tajam sedikit tertarik ke atas, senada dengan bentuk alis yang dibiarkan alami. Dan jika dalam lukisan, wajah yang tirus bentuk mata seperti itu menciptakan rasa kecantikan dengan karakter yang kuat. Itulah pusat gravitasi pesona wajahmu, KS! Sejujurnya aku tak sanggup mengatasi keanggunan pada level seperti ini", katanya pulak. Hahaha.

Suara terindah yang pernah kudengar seumur hidupku. Aku berbalik cepat dan terkejut. Aku tak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Karena di situ, persis di situ, sepuluh  sentimeter di depanku, berdirilah ia. Ia hadir, memberiku kejutan listrik voltase tinggi, menghancurkan setiap butiran-butiran darah merah di tubuhku. Aku tergagap-gagap seperti orang Melayu belajar mengaji. Hhmm. Aku hanya bisa mengulum senyum. 

Kemarin Sabtu, 3 Februari 2024,

Kulihat hari itu bianglala berpendar nyaris sempurna, ia terbentuk dari bias. Dan semoga yang datang dari mata, juga dari dengar suara serupa denting harpa yang memenuhi udara. Mari kita kumpulkan serpihan doa-doa, yang kekalnya melebihi manis kue tart penuh warna, juga terang melampaui lilin membentuk angka usia pertemuan awal kita. 

Barangkali, tak akan ada yang tahu perihal isi kami di balik dada, di sana banyak goresan berwarna legam, bahkan ada retakan yang menganga tanpa penawar. Untuk hari ini, esok dan hari lainnya, aku hanya ingin menjadi jiwa berlapang dada perihal ketetapan yang kadang tak sesuai kemauan, juga menjadi hati yang selalu siaga ketika kecewa datang tanpa aba-aba, dan aku ingin menjadi alasan rasa syukur, untuk sebuah hati yang ingin membersamai tanpa tapi.

Pun, jika hidup adalah alur menjemput dan melepaskan, maka segala bentuk kehilangan adalah pelajaran untuk memahat ketabahan. Bukankah di batas akhir harapan yang paling berantakan, selalu datang keajaiban di luar batas nalar? 

Kali ini pintaku menjadi-jadi, sebab hari ini segala harapan menyapaku dari kanan dan kiri. Singkat kata; Tuhan..., aku ingin bahagia, tanpa pernah lupa, dari mana muasal bahagia itu tercipta, itu saja.

Tentang Sore Terindah,

Aku tertawa kecil menuju lapangan rumput diatas tumpukan serbuk gergaji. Aku hadir dalam balutan kardigan pink muda, kardigan yang tidak penting namun masih saja selalu aku suka. Padu padan fesyen dengan celana kotak-kotak lusuh seadanya. Banyak yang bertanya, padaku. "Neng KS..., kamu kok ga pernah pake baju seleboor seperti orang-orang seusiamu?" Hah. Singkat saja. Ia tidak terlalu suka aku kesini pake gamis. Ribet tau nggak? Ia tetap dengan karakternya yang dulu aku kenal, ia yang selalu suka dengan fesyen perempuannya yang tidak terlalu menuakan diri. Tua itu pasti, tapi cantik itu harus. Cantik nurut ku, ya seperti yang pasangan aku mau saja. Ia yang suka, aku tampil apa adanya seperti aku dua puluh empat tahun lalu. Gaya perempuannya yang tidak seleebeww melainkan biasa, tetap sok cantik walaupun umur sudah tua, ahhaha. 

Aku kadang yoo bertanyaa, apakah fesyenku mengikuti lekuk tubuhku dari atas mata kaki sampai ke leher? Tubuhku yang tak lagi ramping seperti umur duapuluh empat tahun kamu menemui ku, bertumpu di atas sepasang sandal plastik berwarna merah jambu muda. Sudah pas kah? Atau ada yang harus kuubah? Tinggiku tak kurang dari seratus enam puluh lima senti, jelas lebih rendah darimu. Serasi dengan rumpun batang singkong yang tumbuh kurus menjulang di sampingmu. Katamu, cantik rupawan melebihi mayoret mana pun ha-haha. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4