Kisah PNS Asyik Bertani Di Sebuah Kebun Mini Miliknya, KS Garden Kuansing Namanya. (Kebun Buah Yang Disinari Matahari, Sayuran Yang Berwarna Cerah, Mimpi Yang Dipanen, Keranjang Berlimpah, Usaha Yang Membuahkan Hasil, Akar Yang Bersemangat, Panen Manis, Dari Ladang Ke Meja Makan😅)

Potret Kehidupan Episode 68
Tentang Sore Terindah
Cerpen, diangkat dari kisah nyata,
Inilah sore terindah dalam hidupku. Setelah dua puluh empat tahun mengenalnya, setelah ribuan puisi yang kutulis untuknya, setelah berton-ton rindu untuknya, baru sore ini ia mengulum senyum yang teramat manis sekali, __tak terperikan.
Ia menarik tanganku, kami berlari meninggalkan kandang. Terus berlari melintasi kebun yang dahulunya kosong tak terurus. Oh, kami tak lagi menyibak-nyibakkan rumput setinggi dadaaa. Ia tertawa kecil menuju saung. Kami merebahkan diri yang setengah kelelahan, memandangi awan senja berarakan.
Aku membaca puisi lagi untuknya ha-ha-ha. Ia tahu, masa kecilku memang sering ikut lomba baca puisi hingga diutus keluar kota. Tapi kali ini, aku sedang tidak bercanda. Puisi ku tidak main-main, ini serius; "Semua hal tentangmu aku suka, hampir semuanya. Ingatkah kau? Tak tahu pasti tanggal berapa, yang pasti waktu itu tahun duaribu di Jogjakarta. Dulu kau mengikat janjimu, bersumpah kepada seluruh bintang. Namun, aku tak suka jika nantinya ada yang merubah segalanya. Kau ini hanya untukku. Untukku. Orang lain merasa tak pantas. Bagiku kau seperti seseorang yang akan selalu menjadi milikku". Hah. Jangan ketawa! Kata-kataku serius.
Ia setengah hendak tertawa nampaknya lalu dengan sengaja memegang keningku. Mungkin ia hanya sekedar mencek, panaskah suhu tubuh ku? Seraya memuji; "Puisi yang indah ....", katanya. Aku melambung, ha-ha ha. Wajahku yang sedang tak cantikpun berair karena keringat, seperti embun di permukaan kaca. Bukan karena ucapannya itu, melainkan karena sore terindah itu emang panas.
Ia bangkit, lalu berjalan hilir mudik di depanku yang memandangiku seperti bayi melihat kelereng. Lalu dengan gaya seperti dosen ia menggenggam jemarinya, bercerita penuh semangat tentang minat barunya pada dunia tani ini dan cita-citanya menjadi petani ternak yang sukses. Sebaliknya, aku menceritakan minatku juga pada seni tulis menulis.
Tahukah kalian? Tentang Sore Terindah, Didekatnya aku merasa berarti, merasa menjadi seseorang. Di dekatnya aku merasa ingin menjadi seorang perempuan yang lebih baik. Di dekatnya aku merasa seperti sedang berada dalam sebuah adegan dalam film. Keindahan yang sederhana ini, membuatku belajar menghargai cinta yang sekarang duduk di sampingku. Aku tersesat dalam hatinya dan aku merasa tenang didalamnya. Weeehh.
Ada banyak percakapan lucu di sore terindah,
"Ada sedikit kilasan kedewasaan pada pancaran matamu KS, dibanding terakhir kita bertemu. Teori yang memaksakan pendapat bahwa perempuan bermata besar kelihatan lebih cantik, ia akan runtuh berantakan jika melihat aku. Matamu yang tajam sedikit tertarik ke atas, senada dengan bentuk alis yang dibiarkan alami. Dan jika dalam lukisan, wajah yang tirus bentuk mata seperti itu menciptakan rasa kecantikan dengan karakter yang kuat. Itulah pusat gravitasi pesona wajahmu, KS! Sejujurnya aku tak sanggup mengatasi keanggunan pada level seperti ini", katanya pulak. Hahaha.
Suara terindah yang pernah kudengar seumur hidupku. Aku berbalik cepat dan terkejut. Aku tak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Karena di situ, persis di situ, sepuluh sentimeter di depanku, berdirilah ia. Ia hadir, memberiku kejutan listrik voltase tinggi, menghancurkan setiap butiran-butiran darah merah di tubuhku. Aku tergagap-gagap seperti orang Melayu belajar mengaji. Hhmm. Aku hanya bisa mengulum senyum.
Kemarin Sabtu, 3 Februari 2024,
Kulihat hari itu bianglala berpendar nyaris sempurna, ia terbentuk dari bias. Dan semoga yang datang dari mata, juga dari dengar suara serupa denting harpa yang memenuhi udara. Mari kita kumpulkan serpihan doa-doa, yang kekalnya melebihi manis kue tart penuh warna, juga terang melampaui lilin membentuk angka usia pertemuan awal kita.
Barangkali, tak akan ada yang tahu perihal isi kami di balik dada, di sana banyak goresan berwarna legam, bahkan ada retakan yang menganga tanpa penawar. Untuk hari ini, esok dan hari lainnya, aku hanya ingin menjadi jiwa berlapang dada perihal ketetapan yang kadang tak sesuai kemauan, juga menjadi hati yang selalu siaga ketika kecewa datang tanpa aba-aba, dan aku ingin menjadi alasan rasa syukur, untuk sebuah hati yang ingin membersamai tanpa tapi.
Pun, jika hidup adalah alur menjemput dan melepaskan, maka segala bentuk kehilangan adalah pelajaran untuk memahat ketabahan. Bukankah di batas akhir harapan yang paling berantakan, selalu datang keajaiban di luar batas nalar?
Kali ini pintaku menjadi-jadi, sebab hari ini segala harapan menyapaku dari kanan dan kiri. Singkat kata; Tuhan..., aku ingin bahagia, tanpa pernah lupa, dari mana muasal bahagia itu tercipta, itu saja.
Tentang Sore Terindah,
Aku tertawa kecil menuju lapangan rumput diatas tumpukan serbuk gergaji. Aku hadir dalam balutan kardigan pink muda, kardigan yang tidak penting namun masih saja selalu aku suka. Padu padan fesyen dengan celana kotak-kotak lusuh seadanya. Banyak yang bertanya, padaku. "Neng KS..., kamu kok ga pernah pake baju seleboor seperti orang-orang seusiamu?" Hah. Singkat saja. Ia tidak terlalu suka aku kesini pake gamis. Ribet tau nggak? Ia tetap dengan karakternya yang dulu aku kenal, ia yang selalu suka dengan fesyen perempuannya yang tidak terlalu menuakan diri. Tua itu pasti, tapi cantik itu harus. Cantik nurut ku, ya seperti yang pasangan aku mau saja. Ia yang suka, aku tampil apa adanya seperti aku dua puluh empat tahun lalu. Gaya perempuannya yang tidak seleebeww melainkan biasa, tetap sok cantik walaupun umur sudah tua, ahhaha.
Aku kadang yoo bertanyaa, apakah fesyenku mengikuti lekuk tubuhku dari atas mata kaki sampai ke leher? Tubuhku yang tak lagi ramping seperti umur duapuluh empat tahun kamu menemui ku, bertumpu di atas sepasang sandal plastik berwarna merah jambu muda. Sudah pas kah? Atau ada yang harus kuubah? Tinggiku tak kurang dari seratus enam puluh lima senti, jelas lebih rendah darimu. Serasi dengan rumpun batang singkong yang tumbuh kurus menjulang di sampingmu. Katamu, cantik rupawan melebihi mayoret mana pun ha-haha.
Mencintai itu perkara rasa, perkara suka yang bukan karena cantik atau tidak cantik. Perihal cantik atau tidak cantik, adalah tergantung bagaimana kepalamu mendefinisikannya. Karena sebenarnya, masalah intinya bukan pada fisikmu. Melainkan pada pola pikirmu. Tidak perduli sesempurna apapun dirimu, kau hanya akan terlihat cacat jika pola pikirmu selalu mencari celah untuk mencacatkan bentuk fisikmu.
Tetap semangat duhai perempuan!
Tak perlu pusing mencari tau tanda cinta lelaki padamu, perempuan! Bila ia berusaha keras membuatmu bahagia, minimal tersenyum,: "DIA sayang KAU...". Tetap sok cantik walaupun sudah emak-emak. Wkwk. Tetap sok cantik walaupun aslinya tetap tidak cantik. Aku ya gitu aja pokoknya. Ga banyak kali ngurusin kisah percintaan orang lain. Orang seleb Kuansing cerai aja, aku ndak tau, ndak ngikutin aja cerita yang begituan. Sibuk dengan visi misi kami berdua, ga pamer kemesraan. Sederhana, tidak mencolok, tidak haus pujian, dan tidak lapar perhatian orang.
Sehari-hari,
Aku sudah terlalu sibuk mengurus rambutku.
Aku mengikat rambutku menjadi satu ikatan kecil dan ikatan itu ditegakkan tinggi-tinggi. Beberapa helai rambut yang disatukan jatuh di atas pundak kardigan motif polos berwarna pink muda itu. Eh, aku mao kasih tau kalian ya, ga ada yang mahal yang aku pake tuh. Semua murah meriah muntah. Beberapa helai rambut lainnya kubiarkan saja jatuh melintasi wajahku yang teduh jelita. Kuku-kukuku yang cantik, memegang Keju Siip Ah yang rupanya agak masuk angin, hh. Ia tidak lagi renyah dan berderak. Oh, my god! Aku rasanya ingin pulang saja. Laper aku disini, wkkwkwaa.
*Diperjalanan pulang sore terindah, akupun sempat bertanya-tanya pada diri sendiri; kemanakah nasib akan membawaku setelah ini?*
Kujawab dalah hati, self talk;
Terus saja berjalan seiring perputaran bumi...., KS! Nanti juga akan ketahuan, siapa dan apa yang mampu bertahan disisimu, mana yang terbaik untuk kamu. Hubungan tertentu dengan seseorang atau beberapa orang, akan menempatkan kamu pada posisi untuk melakukan seleksi terhadap hubungan-hubungan kamu yang lain, terhadap keputusan-keputusan yang kamu buat, dan terhadap tindakan-tindakan yang kamu ambil dalam hidup di alam semesta ini.
Seleksi Alam. Dan selama kamu masih disana, berada di alam semesta, seleksi akan terus berlangsung. Satu kondisi tidak akan pernah bersifat konstan, karena bumi juga bersifat antikonstan, bumi senantiasa berputar, sayang! Ya, bumi senantiasa berputar. Tuhan tau kamu punya niat yang baik untuk apa yang sedang kamu usahakan, maka perbanyak sabar, ya! Semoga nanti Tuhan mudahkan jalanmu......
Sekilas dalam hati, aku juga berdoa;
"Ya, Allah, kedepan mungkin aku akan lebih rajin menulis, karena memang sedang di fase ingin bercerita tapi juga tidak ingin merepotkan siapa-siapa. Menulis bisa membuat hidupku lebih bermakna, dan aku, __bahagia karenanya. Oiya. Aku tak harus menjadi pujangga-pujangga Melayu yang tersohor dalam merangkai kata, mengarang puisi. Namun, cukup bagiku sekedar menulis cerpen tentang kiprahku. Ini menyenangkan. Sehingga jika tulisanku gagal tersohor pun, juga tak apa. Aku akan minta pada-Nya sekali lagi. Ya Rabb, jadikan aku apa saja kalau tua nanti. Seng penting bermanfaat. Semoga langkahku di atas bumi ini akan menjadi saksi kelak akan kebaikan-kebaikanku dihadapan-Nya."
"Aku, Keswita, bersama dia disamping memutuskan untuk berbahagia saat ini, tanpa menghiraukan cuaca, caci maki orang lain, pujian dunia atau apapun yang terjadi pada kisahku."
Happy Weekend Dear.
#KSStory