Aku melihatmu berjalan bersamanya,
Ada senyum yang dahulu pernah kukenal,
Ada bahagia yang kini bukan lagi milikku,
Namun entah mengapa, hatiku terasa begitu pilu.
Berpuluh-puluh tahun kita tak berjumpa,
Waktu telah membawa kita ke jalan berbeda,
Kukira semua telah selesai bersama senja,
Ternyata namamu masih menyisakan luka.
Aku mencoba mengikhlaskan segala cerita,
Menerima takdir yang tak memilih kita,
Namun hari ini, saat kulihat engkau dengannya,
Ada sesuatu yang runtuh di dalam dada.
Apakah cinta memang sekejam itu?
Menyimpan kenangan meski waktu telah berlalu,
Mengajarkan hati untuk melepaskan seseorang,
Tetapi membiarkan rasa sakit datang berulang.
Wahai pujangga, benarkah katamu dahulu?
Bahwa bahagia yang terlalu dalam menyimpan rindu,
Jika suatu hari perpisahan datang menyapa,
Lukanya bisa menetap sepanjang usia.
Namun kini aku mulai memahami,
Tak semua yang hilang harus kembali,
Tak semua yang pernah dicintai harus dimiliki,
Dan tak semua air mata berarti gagal mengikhlasi.
Pergilah, jika bahagiamu memang bersamanya,
Aku tak akan mengusik indahnya cerita,
Biarlah luka ini menjadi rahasia jiwa,
Sebab pernah mencintaimu adalah bagian dari hidupku