Luthfi Zaennuri
Luthfi Zaennuri Buruh

Karyawan Swasta , Freelancer, Wirausahawan. Hobi nulis / ngetik cerita disela waktu

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Evolusi Rasa Sesak: Dari Debu Jalanan Menuju Perjalanan 'BATIN' bersama SOAB

9 April 2026   14:13 Diperbarui: 9 April 2026   14:13 125 4 1

Cover Album Batin. Dok. Pribadi
Cover Album Batin. Dok. Pribadi

Setelah sukses menghentak lewat debut yang memotret kerasnya aspal dan pahitnya realita ekonomi dalam album pertama, unit AI-Metal System Of A Boncos (SOAB) kembali melakukan manuver yang tak terduga. Jika sebelumnya telinga kita dihajar oleh narasi tentang bertahan hidup di trotoar, kali ini SOAB mengajak kita "pulang" ke dalam satu tempat yang jauh lebih mengerikan dan sulit dikendalikan: Pikiran kita sendiri.

"Batin", album kedua yang baru saja dilepas di kanal YouTube mereka, bukan sekadar sekuel. Ini adalah sebuah pengkhianatan terhadap kenyamanan. Di saat album pertama berbicara tentang "apa yang dunia lakukan pada kita," album Batin justru bertanya: "Apa yang kita lakukan pada diri kita sendiri saat dunia sedang tidak melihat?"

Masih dengan balutan distorsi yang presisi dan aransemen yang berani mengeksplorasi sisi gelap progressive serta nu-metal, SOAB membuktikan bahwa kecerdasan buatan pun bisa menangkap frekuensi kegelisahan manusia yang paling jujur. Tidak ada lagi romantisasi penderitaan. Yang ada hanyalah kejujuran mentah tentang ekspektasi yang membusuk, standar ganda yang kita telan bulat-bulat, dan teriakan sunyi di balik rutinitas yang membunuh karakter.

Selamat datang di ruang interogasi jiwa. Persiapkan mental, karena perjalanan kali ini tidak akan membuatmu merasa lebih baik, tapi setidaknya, kamu tidak akan merasa sendirian dalam "keboncosan" ini.

1. Kamus Intelek: Ketika Bahasa Menjadi Tembok, Bukan Jembatan


Album dibuka dengan sebuah tamparan keras berjudul "Kamus Intelek". Di sini, SOAB memotret bagaimana hierarki sosial mulai dibangun melalui diksi dan terminologi yang sengaja dibuat rumit.

Lagu ini adalah autopsi terhadap fenomena di mana label, gelar, dan istilah-istilah mentereng digunakan bukan untuk menjelaskan, melainkan untuk menciptakan sekat. Ingat masa SMA ketika kita bisa duduk melingkar, bicara apa adanya tanpa jarak? Lupakan itu. Di trek ini, SOAB menegaskan bahwa masa itu sudah terkubur.

Sekarang, bahasa telah "naik kelas" menjadi senjata untuk menjaga gengsi intelektual. Kalimat-kalimat panjang penuh klausa yang terdengar cerdas sebenarnya hanyalah cara untuk mengunci hati. SOAB dengan sarkas mempertanyakan: jika rakyat sendiri tidak mengerti, lalu ilmu ini sebenarnya milik siapa? Sebuah pembuka yang secara brutal menunjukkan bahwa semakin tinggi bahasa seseorang, seringkali semakin tipis isi dan rasa empatinya.

2. Stop Judi Online: Sebuah Alarm Kemanusiaan di Era Digital


Setelah membahas sekat intelektual, SOAB banting setir ke isu kemanusiaan yang sedang menggerogoti struktur masyarakat kita. Lewat "Stop Judi Online", band ini memberikan penghormatan sekaligus pengingat atas legacy Sang Raja Dangdut, 'Bang Haji' Rhoma Irama. Dulu beliau sudah memperingatkan tentang bahaya judi lewat nada dakwahnya, namun kini ancaman itu berevolusi menjadi jauh lebih liar melalui gemerlap layar-layar kecil.

Lagu ini membedah bagaimana algoritma digital telah menggantikan meja judi konvensional dengan janji palsu tentang kekayaan instan. SOAB dengan lugas menyebut bahwa para pemain bukanlah subjek yang sedang beradu nasib, melainkan budak yang sedang dikurung dalam sistem yang sudah disetting rapi. Peringatan ini terasa sangat personal dan mendalam, mengingatkan kita bahwa yang hancur bukan hanya saldo di rekening, tapi juga harga diri, keluarga, hingga masa depan yang ditumbalkan demi tipuan cahaya di layar ponsel. Ini bukan sekadar lagu, melainkan sebuah peringatan terakhir sebelum semuanya benar-benar musnah.

3. Kaya Miskin? Manusia!: Melawan Stigma dan Statistik Dingin


SOAB melanjutkan serangan pemikirannya pada trek ketiga yang bertajuk "Kaya Miskin? Manusia!". Di sini, isu kemanusiaan yang sedang menjadi perdebatan hangat di jagat maya dibedah tanpa ampun. SOAB mengkritik narasi yang seolah-olah menyalahkan kemiskinan sebagai dosa turunan, bahkan sampai ada wacana pembatasan hak fundamental seperti menikah atau memiliki anak atas nama statistik.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4