Video

"Kami Berwudhu di Sumur Sejarah itu...dan Merasakan Sesuatu yang Tak Terjelaskan"

20 Mei 2026   05:46 Diperbarui: 20 Mei 2026   05:46 113 17 8


Pagi itu kami sengaja menahan lapar.

Bukan karena tidak ada makanan di hotel, tapi karena ada satu ritual kecil yang selalu kami lakukan setiap ke Yogya: sarapan di Sagan. Gudeg hangat dengan rasa yang tidak pernah berubah-seolah menjadi pintu masuk sebelum kami menyusuri perjalanan hari itu.

Hari ini, tujuan kami bukan sekadar wisata. Kami ingin menyusuri jejak sejarah.

Notifikasi dari driver masuk saat kami menikmati minuman hangat. Farhan sudah menunggu di lobi. Perjalanan pun dimulai-dari rasa, menuju sejarah.

"Koleksi, Misbah Moerad."

Setelah sarapan sederhana tapi penuh kenangan, kami melanjutkan perjalanan ke sebuah tempat yang tidak hanya menyimpan benda, tapi juga menyimpan cerita panjang bangsa ini.

bagaimana seharusnya kita mengingat seorang pemimpin?

Perjalanan membawa kami ke Kemusuk, Bantul. Tempat lahir seorang tokoh besar bangsa ini-sekaligus salah satu tokoh paling kontroversial dalam sejarah Indonesia modern.

Di sinilah Museum Memorial Jenderal Besar HM Soeharto berdiri.

Megah, rapi, dan... sangat terkurasi.

Begitu masuk, pengunjung langsung disambut narasi yang nyaris tanpa cela. Diorama demi diorama bercerita tentang perjalanan hidup: dari anak desa, pejuang, hingga menjadi presiden yang memimpin lebih dari tiga dekade.

Semua tersusun indah.

Terlalu indah, mungkin.

Kami berjalan perlahan. Membaca. Mengamati. Tapi di sela kekaguman itu, muncul satu pertanyaan yang diam-diam mengganggu:

Di mana bagian yang tidak nyaman dari sejarah itu?

Karena kita tahu, sejarah tidak pernah hitam putih.

Di satu sisi, ada stabilitas, pembangunan, dan pertumbuhan ekonomi yang sering dikenang sebagai "masa keemasan".
Di sisi lain, ada cerita-cerita yang tidak selalu masuk ke dalam diorama: pembatasan kebebasan, kontrol kekuasaan, hingga berbagai catatan pelanggaran yang masih menjadi perdebatan sampai hari ini.

Museum ini memilih untuk bercerita.

Tapi seperti semua cerita, selalu ada yang dipilih... dan ada yang ditinggalkan.

Kami berhenti di sebuah titik yang justru terasa paling "sunyi", sebuah sumur tua di area petilasan.

Kami mengambil wudhu di sana.

Airnya dingin. Hening. Tenang.

Tidak ada narasi. Tidak ada diorama. Tidak ada interpretasi.

Hanya kami... dan pikiran kami sendiri.

Di momen itu, saya justru merasa, mungkin inilah bagian paling jujur dari kunjungan hari itu.
Bukan apa yang ditampilkan... tapi apa yang kita renungkan sendiri.

Di pelataran, patung "Ngguyang Kebo" berdiri sebagai simbol kesederhanaan. Sebuah pengingat bahwa setiap kekuasaan besar selalu punya titik awal yang sangat biasa.

Tapi perjalanan manusia-terutama yang menyangkut kekuasaan-tidak pernah sederhana.

"Koleksi: Misbah Moerad."

Museum ini penting. Sangat penting.

Bukan karena ia memberi jawaban,
tapi justru karena ia memancing pertanyaan.

Tentang bagaimana sejarah ditulis.
Tentang siapa yang menulisnya.
Dan tentang apa yang kita pilih untuk kita ingat... atau kita lupakan.

Kami keluar dari museum dengan perasaan yang tidak sepenuhnya ringan.

Karena kami sadar, memahami sejarah bukan hanya soal melihat apa yang ada di depan mata,
tapi juga berani mempertanyakan apa yang tidak ditampilkan.

Dan mungkin...
di situlah perjalanan sebenarnya dimulai.

Ikuti terus perjalanan kami ke Museum berikutnya....

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4