Video Pilihan

Menyusuri Jejak Ken Dedes: Blusukan Seru ke Petilasan Sang Ratu Nusantara

7 Juni 2026   13:16 Diperbarui: 7 Juni 2026   13:16 130 22 7


Siang itu, matahari bersinar ramah di atas Kota Malang. Saya, istri, dan kedua buah hati kami sedang dalam misi mencari jejak tapak tilas Ken Dedes, perempuan legendaris yang diyakini sebagai leluhur raja-raja Jawa. Setelah menepi dari jalan raya utama dan berjalan melewati hijaunya petak-petak sawah, kami menemukan sebuah situs yang cukup tersembunyi namun memancarkan aura magis.

Sayangnya, tempat itu sepi. Tidak ada juru kunci atau papan informasi yang bisa kami tanyai detailnya. Saat kami celingukan, tiba-tiba muncul seorang bapak yang sedang duduk santai di atas motornya, rupanya ia seorang tukang ojek yang tengah menunggu penumpang. Iseng-iseng, saya pun menyapanya.

"Koleksi: Misbah Moerad."

"Permisi, Pak. Boleh tanya-tanya? Ini situs sejarah apa ya sebenarnya?" tanya saya dengan gaya santai.

Si Bapak tersenyum ramah dan mematikan rokoknya. Ia pun turun dari motor dan berjalan mendekati kami. "Wah, pas sekali ketemu saya, Mas. Jarang-jarang ada orang lewat yang mau mampir ke sini. Ini petilasan tempat lahirnya Ken Dedes dulu," jawabnya bersemangat.

Mendengar itu, mata kedua anak saya berbinar antusias. Istri saya pun ikut nimbrung. "Wah, benarkah, Pak? Ken Dedes yang permaisuri itu?" tanyanya penasaran.

"Betul, Bu! Beliau ini putri Mpu Purwa, tokoh agamawan zaman dahulu. Kalau diceritakan, panjang sejarahnya," kata si Bapak Ojek yang ternyata cukup paham cerita rakyat sekitar. Dengan bahasa yang sederhana dan gaya bertutur yang mengasyikkan, ia menceritakan bagaimana Ken Dedes dulunya sering berada di tempat ini sebelum diculik oleh Tunggul Ametung.

Yang paling membuat kami takjub adalah saat si Bapak menunjuk sebuah area tanah yang sedang digali warga setempat. "Itu lihat, Mas. Sedang ada penggalian. Konon, di bawah ini ada goa bawah tanah yang tembusnya sampai ke Universitas Brawijaya sana!" ujarnya sambil menunjuk ke arah kawasan kampus. Kami semua sontak berdecak kagum membayangkan lorong misterius zaman kerajaan tersebut.

"Koleksi: Misbah Moerad."

Kami kemudian mengitari area situs. Kami sempat melihat beberapa bekas sisa orang-orang yang melakukan ritual atau hajat di tempat tersebut. Mengingat tempat itu dikeramatkan, kami memilih bersikap bijak. Sebagai muslim, kami tidak melakukan hal-hal yang menyimpang, melainkan hanya mengambil air dari sumur tua di situs tersebut untuk berwudhu dan mensucikan diri. Airnya terasa sangat sejuk dan menyegarkan.

Setelah puas mengobrol dan belajar sejarah singkat dari sang tukang ojek, kami pun berpamitan dan memberikannya sedikit rezeki atas waktunya yang sangat berharga. Obrolan singkat di tengah sawah yang awalnya dikira sepi, justru menjadi edukasi sejarah yang paling berkesan bagi keluarga kami.

"Koleksi: Misbah Moerad."

Perjalanan ini mengajarkan kami bahwa sejarah Nusantara tidak selalu tersimpan rapi di dalam museum megah, melainkan juga bersembunyi di sudut-sudut desa yang asri, menunggu untuk dikunjungi dan diceritakan kembali.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2