Sabtu, 30 Mei 2026...
Sehabis sholat subuh, saya langsung doa.
Biasanya pakai wirid dulu... tapi pagi itu tidak.
Bukan karena lupa... tapi karena sudah ada "panggilan gunung" yang tidak bisa ditunda.
Target pagi itu: Puncak Wangun, Sentul.
Jam 05.02, saya dan istri berangkat dari rumah.
Dengan penuh keyakinan... kami tidak sarapan.
"Istirahat saja nanti makan di atas," pikir kami.
Ternyata... hidup tidak selalu sesuai rencana.
Jam 06.35 kami tiba di parkiran basecamp.
Dengan langkah mantap kami menuju warung...
Dan kenyataan pun menampar pelan:
"Mas, makannya siap jam 08.30 ya... kadang jam 09.00."
Saya dan istri langsung saling pandang.
Dalam bahasa suami istri, itu artinya: "Waduh..."
Kalau nunggu?
Kepanasan di atas.
Kalau naik?
Perut kosong.
Akhirnya kami ambil keputusan yang sangat berani:
Naik dulu... sambil berharap ada mukjizat di Pos 2.

Jam 06.45 registrasi.
Di depan kami ada rombongan emak-emak.
Ini biasanya tanda bahaya...
Karena pengalaman membuktikan:
emak-emak kalau naik gunung itu... pelan tapi konsisten. Bisa tiba-tiba sudah di depan lagi.
Jam 07.00... kami mulai "gas".
Padahal jujur saja...
baru mulai saja napas sudah mulai diskusi sama paru-paru.
Jalur menuju Pos 1 ternyata cukup "bersahabat tapi menusuk."
Tangga sudah rapi, jalur jelas... tapi tetap saja menanjak tanpa kompromi.
Di Tikungan Slebew menuju Pos 1, saya berhenti.
Bukan karena pemandangan...
tapi karena napas perlu di-reset.
Sementara istri?
Masih santai... sambil foto-foto.
Di situ saya sadar:
yang capek itu badan saya... yang bahagia itu istri saya.

Jam 07.55 kami tiba di Pos 1 (Tanjakan Puspa).
Ketemu lagi rombongan emak-emak.
Kami saling senyum... tapi dalam hati masing-masing punya target sendiri.
Kami izin mendahului.
Ini bukan lomba...
tapi ya... sedikit kompetitif tidak apa-apa.
Jam 08.15... akhirnya tiba di Pos 2.
Dan ini dia... momen yang ditunggu-tunggu:
WARUNG!
Saya langsung rebahan di bale-bale.
Pesan teh panas (gula sedikit, biar tetap sehat katanya),
ditambah semar mendem, tempe goreng...
Di titik ini... saya merasa seperti menemukan harta karun.
Saya bahkan sempat tanya ke penjual:
"Bu, sudah ada yang ke atas?"
Jawabannya:
"Belum ada, bapak ibu yang pertama."
Langsung dalam hati: "Wah... ini bukan karena cepat... tapi karena nekat."
Kami sempat diarahkan ke Bukit Pasir Laja (720 MDPL).
Naik sedikit, sekitar 200 meter.
Dan... luar biasa!
Ada menara pandang, view terbuka... cantik sekali.
Tempat yang bikin lupa kalau tadi hampir menyerah.
Foto? Wajib.
Video? Harus.
Napas? Tetap ngos-ngosan.
Lanjut ke Pos 3 (Bukit Panenjoan, 830 MDPL) jam 08.35.
Ini tempat yang luas, ada bendera merah putih, cocok buat camping.
Kami tidak lama di sini... target kami jelas: puncak.
Jam 09.10... akhirnya sampai Pos 4 dan menuju Puncak Wangun.
Di sini, istri langsung jadi host.
Saya?
Masih sibuk memastikan napas tetap "online."
Ambil foto, video... dan tanpa banyak drama, kami turun lagi.
Nah... di sinilah plot twist-nya.
Saat turun...
rombongan mulai berdatangan.
Banyak sekali!
Kalau dihitung, lebih dari 7 kelompok, mungkin hampir 75 orang.
Ada yang bawa anabul (anjing), ada juga bule.
Baru kami sadar...
"Oh iya... ini weekend."
Biasanya kami naik weekday... jadi agak "kaget sosial" hari itu.

Jam 10.45 kami tiba kembali di basecamp.
Dan inilah puncak sebenarnya dari pendakian:
MAKAN.
Saya pesan ayam goreng dan sate.
Istri pesan ikan bakar dan sup.
Bukan karena lapar biasa...
ini sudah masuk kategori balas dendam energi.
Dari perjalanan ini saya belajar satu hal:
Kadang kita tidak butuh persiapan sempurna untuk memulai.
Cukup niat, langkah, dan sedikit nekat... selebihnya dinikmati saja.
Buat teman-teman yang ingin cari jalur hiking yang seru, tidak terlalu ekstrem tapi tetap bikin keringat jujur keluar...
Puncak Wangun Sentul wajib dicoba.
View bagus, jalur jelas, ada warung (ini penting), dan cocok untuk semua level.
Tapi satu pesan dari kami:
Jangan terlalu percaya diri tidak sarapan seperti kami...
kecuali siap jatuh cinta dengan warung di Pos 2.

Yuk... sempatkan waktu.
Tidak harus jauh-jauh.
Tidak harus tinggi-tinggi.
Yang penting... bergerak.
Karena dari langkah kecil seperti ini,
kita sering menemukan cerita besar.
Sampai ketemu di jalur pendakian berikutnya!