Tidak semua perjalanan harus jauh untuk menjadi berkesan. Kadang, yang paling membekas justru perjalanan yang kita tempuh bersama orang-orang terdekat.
Perjalanan kami kali ini terasa berbeda. Bukan hanya soal tujuan, tapi tentang kebersamaan, kesabaran, dan bagaimana kami saling menjaga dalam kondisi yang tidak selalu mudah.
Kami-saya, istri, dan ketiga anak-memutuskan menuju Kawah Ratu di Gunung Salak melalui jalur Gunung Bunder. Jalur ini dikenal sebagai rute terdekat, sekitar 3,6 km dari pintu registrasi, dengan estimasi waktu tempuh 2 hingga 2,5 jam berjalan kaki. Tapi seperti biasa, gunung selalu punya cara sendiri untuk menguji kita.

Perjalanan Dimulai: Hutan, Sungai, dan Tawa Keluarga
Langkah demi langkah kami mulai dari basecamp. Udara pagi yang segar langsung menyambut. Jalur awal masih bersahabat, tapi perlahan berubah menjadi trek hutan yang rimbun, lengkap dengan akar-akar pohon, jembatan sederhana, dan aliran sungai kecil yang harus kami lewati.
Sepanjang perjalanan, kami bergantian memimpin rombongan. Kadang saya di depan, kadang anak pertama mengambil alih. Istri dan anak perempuan berada di tengah, saling menjaga dan berbagi cerita.
Momen paling seru tentu saat kami melewati anak sungai. Airnya jernih, dingin, khas pegunungan. Kami tertawa, saling bercanda, bahkan sempat berhenti sejenak hanya untuk menikmati suasana.
Di sinilah letak kebahagiaan sederhana itu-tidak mahal, tapi sangat berarti.
Menuju Kawah Mati: Kontras yang Menggetarkan
Setelah cukup lama berjalan, suasana mulai berubah. Kami memasuki area yang dikenal sebagai kawah mati.
Pemandangan yang tadinya hijau berubah drastis. Pepohonan menghilang. Tanah menjadi tandus. Bau belerang mulai terasa, awalnya tipis lalu semakin menyengat.
Asap putih mengepul dari beberapa titik. Alam seperti menunjukkan sisi lain yang tidak ramah, tapi justru itulah keindahannya-liar, jujur, dan apa adanya.
