Insiden Kecil yang Menguji
Sebelum benar-benar masuk ke area kawah mati, kejadian tak terduga terjadi.
Karena terlalu menikmati pemandangan, istri saya tidak melihat batuan licin di depannya. Ia terpeleset dan jatuh.
Kami semua langsung panik.
Alhamdulillah, kepalanya tidak membentur batu. Hanya lecet di bagian kaki. Tapi dampaknya cukup terasa-kacamata sebelah kiri pecah, dan yang paling berat... sandal gunungnya putus.
Di titik ini, perjalanan berubah.
Semua tahu, di gunung, alas kaki itu bukan sekadar pelengkap-itu kebutuhan utama.
Anak kedua menawarkan sandalnya. Ditolak.
Si bontot juga menawarkan. Ditolak lagi.
Alasannya sederhana-ukuran mereka sama, dan tidak ingin menyulitkan anak-anaknya.
Saya dan anak pertama jelas tidak bisa membantu-ukuran kami terlalu besar.
Lalu istri saya berkata dengan santai:
"Dulu mama sering naik gunung tanpa alas kaki... ini malah enak, kayak refleksi..."
Kami tahu... itu bukan kenyataan sepenuhnya.
Itu adalah cara dia menenangkan kami.
Saat anak-anak berjalan di depan, saya menatap wajahnya.
Dia menatap balik... dan memberi kode.
Saya paham.
Itu bukan soal kuat atau tidak.
Itu soal bertahan... demi keluarga.
Prasasti dan Pengingat Kehidupan
Di tengah perjalanan, kami melewati sebuah prasasti.
Tertulis bahwa di tempat itu pernah terjadi kehilangan-seorang anak STM dari Jakarta meninggal dunia.