Video Pilihan

"Naik Gunung Tanpa Alas Kaki? Ini yang Terjadi Pada Istri Saya di Jalur Kawah Ratu Gunung Salak"

25 Juni 2026   05:30 Diperbarui: 24 Juni 2026   21:00 193 23 10


Tidak semua perjalanan harus jauh untuk menjadi berkesan. Kadang, yang paling membekas justru perjalanan yang kita tempuh bersama orang-orang terdekat.
Perjalanan kami kali ini terasa berbeda. Bukan hanya soal tujuan, tapi tentang kebersamaan, kesabaran, dan bagaimana kami saling menjaga dalam kondisi yang tidak selalu mudah.

Kami-saya, istri, dan ketiga anak-memutuskan menuju Kawah Ratu di Gunung Salak melalui jalur Gunung Bunder. Jalur ini dikenal sebagai rute terdekat, sekitar 3,6 km dari pintu registrasi, dengan estimasi waktu tempuh 2 hingga 2,5 jam berjalan kaki. Tapi seperti biasa, gunung selalu punya cara sendiri untuk menguji kita.

"Koleksi: Misbah Moerad."

Perjalanan Dimulai: Hutan, Sungai, dan Tawa Keluarga
Langkah demi langkah kami mulai dari basecamp. Udara pagi yang segar langsung menyambut. Jalur awal masih bersahabat, tapi perlahan berubah menjadi trek hutan yang rimbun, lengkap dengan akar-akar pohon, jembatan sederhana, dan aliran sungai kecil yang harus kami lewati.

Sepanjang perjalanan, kami bergantian memimpin rombongan. Kadang saya di depan, kadang anak pertama mengambil alih. Istri dan anak perempuan berada di tengah, saling menjaga dan berbagi cerita.

Momen paling seru tentu saat kami melewati anak sungai. Airnya jernih, dingin, khas pegunungan. Kami tertawa, saling bercanda, bahkan sempat berhenti sejenak hanya untuk menikmati suasana.
Di sinilah letak kebahagiaan sederhana itu-tidak mahal, tapi sangat berarti.

Menuju Kawah Mati: Kontras yang Menggetarkan
Setelah cukup lama berjalan, suasana mulai berubah. Kami memasuki area yang dikenal sebagai kawah mati.

Pemandangan yang tadinya hijau berubah drastis. Pepohonan menghilang. Tanah menjadi tandus. Bau belerang mulai terasa, awalnya tipis lalu semakin menyengat.

Asap putih mengepul dari beberapa titik. Alam seperti menunjukkan sisi lain yang tidak ramah, tapi justru itulah keindahannya-liar, jujur, dan apa adanya.

"Koleksi: Misbah Moerad."

Insiden Kecil yang Menguji
Sebelum benar-benar masuk ke area kawah mati, kejadian tak terduga terjadi.

Karena terlalu menikmati pemandangan, istri saya tidak melihat batuan licin di depannya. Ia terpeleset dan jatuh.
Kami semua langsung panik.

Alhamdulillah, kepalanya tidak membentur batu. Hanya lecet di bagian kaki. Tapi dampaknya cukup terasa-kacamata sebelah kiri pecah, dan yang paling berat... sandal gunungnya putus.

Di titik ini, perjalanan berubah.
Semua tahu, di gunung, alas kaki itu bukan sekadar pelengkap-itu kebutuhan utama.

Anak kedua menawarkan sandalnya. Ditolak.
Si bontot juga menawarkan. Ditolak lagi.
Alasannya sederhana-ukuran mereka sama, dan tidak ingin menyulitkan anak-anaknya.

Saya dan anak pertama jelas tidak bisa membantu-ukuran kami terlalu besar.

Lalu istri saya berkata dengan santai:
"Dulu mama sering naik gunung tanpa alas kaki... ini malah enak, kayak refleksi..."

Kami tahu... itu bukan kenyataan sepenuhnya.
Itu adalah cara dia menenangkan kami.

Saat anak-anak berjalan di depan, saya menatap wajahnya.
Dia menatap balik... dan memberi kode.

Saya paham.
Itu bukan soal kuat atau tidak.
Itu soal bertahan... demi keluarga.

Prasasti dan Pengingat Kehidupan
Di tengah perjalanan, kami melewati sebuah prasasti.
Tertulis bahwa di tempat itu pernah terjadi kehilangan-seorang anak STM dari Jakarta meninggal dunia.

Langkah kami seketika melambat.
Gunung kembali mengingatkan-bahwa keindahan selalu berdampingan dengan risiko.

Akhirnya: Kawah Ratu
Dengan segala kondisi, kami akhirnya tiba di Kawah Ratu.

Rasa lelah langsung terbayar.
Hamparan kawah dengan asap belerang, suara gemuruh alam, dan lanskap yang dramatis---semuanya begitu memukau.

Kami bahkan sempat berpapasan dengan wisatawan mancanegara dari Rusia dan Denmark, serta pendaki lokal yang melanjutkan perjalanan ke Puncak Manik.

Kami menikmati suasana sekitar satu jam. Duduk, berbincang, dan tentu saja-mengabadikan momen.

"KOleksi: Misbah Moerad."

Perjalanan Turun: Lebih Berat dari yang Dibayangkan
Jika naik terasa menantang, turun justru lebih menguji.

Dengan kondisi tanpa alas kaki, perjalanan istri menjadi jauh lebih lambat. Setiap langkah harus hati-hati.

Kami sempat memperkirakan akan tiba di basecamp pukul 15.00.
Tapi kenyataannya, hingga pukul 17.00 kami masih di perjalanan.

Pihak basecamp bahkan sudah bersiap-jika pukul 18.00 kami belum tiba, mereka akan menyusul.

Alhamdulillah... kami tiba dengan selamat.
Lelah, iya. Tapi hati penuh rasa syukur.

Penutup
Perjalanan ini bukan yang paling tinggi, bukan yang paling ekstrem... tapi mungkin salah satu yang paling lengkap.

Ada tawa, ada cemas, ada ujian, ada kekuatan yang tidak diucapkan-dan ada cinta yang bekerja diam-diam.

Kadang kita baru sadar...
Yang membuat perjalanan itu indah bukan tempatnya, tapi siapa yang berjalan bersama kita.

Tips Keselamatan (Wajib Dibaca Sebelum Naik!)

  1. Gunakan alas kaki yang benar-benar layak
    Jangan hanya nyaman---pastikan kuat, anti-slip, dan sudah teruji.
  2. Selalu bawa cadangan sederhana
    Seperti sandal ringan atau tali pengikat darurat.
  3. Perhatikan jalur, jangan terlalu fokus foto
    Banyak kecelakaan terjadi karena lengah.
  4. Jaga ritme perjalanan
    Jangan terlalu cepat, sesuaikan dengan anggota paling lemah.
  5. Bawa P3K dasar
    Luka kecil bisa jadi masalah besar kalau tidak ditangani.
  6. Laporkan estimasi waktu ke basecamp
    Ini penting untuk keselamatan.
  7. Dengarkan tubuh dan kondisi tim
    Gunung tidak akan ke mana. Keselamatan nomor satu.

Penutup Akhir
Terima kasih untuk perjalanan ini.
Terima kasih untuk keluarga yang saling menguatkan.

Dan untuk Gunung Salak...
Kami pasti akan kembali, dengan cerita yang lebih bijak.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4