Dari Masjid yang Belum Selesai, Hingga Menjadi Salah Satu Masjid Terindah di Dunia
"Kadang sebuah perjalanan bukan hanya tentang melihat tempat yang indah. Tetapi tentang menyaksikan sebuah sejarah sedang ditulis. Dan kami beruntung pernah melihat dua babak berbeda dari Masjid 99 Kubah Makassar."
Setiap kali berkunjung ke Makassar, kami selalu menyempatkan diri menikmati kawasan Pantai Losari. Bukan hanya karena suasana lautnya yang khas, tetapi juga karena berdiri sebuah bangunan megah yang sejak awal pembangunannya sudah menarik perhatian banyak orang, yaitu Masjid 99 Kubah.
Begitu melihatnya dari kejauhan, bangunan ini langsung mencuri perhatian. Deretan kubah berwarna-warni yang bertumpuk seolah muncul dari tepian laut. Arsitekturnya berbeda dari masjid pada umumnya. Modern, futuristik, tetapi tetap memiliki nuansa Islami yang sangat kuat.

Masjid dua lantai ini dibangun dengan biaya lebih dari Rp160 miliar. Tidak mengherankan apabila setiap sudut bangunannya dipenuhi detail arsitektur yang rumit dan sangat artistik. Masjid ini dirancang oleh Ridwan Kamil bersama arsitek lokal Muhammad Mursif dengan konsep klasik modern yang dipadukan sentuhan futuristik.
Yang membuat perjalanan kami terasa istimewa adalah karena kami datang pada dua waktu yang berbeda.
Saat pertama kali berkunjung, sebagian bangunan masih dalam tahap penyelesaian. Beberapa area masih dipagari, pekerjaan konstruksi masih terlihat di sana-sini, tetapi masyarakat sudah mulai memanfaatkan masjid ini untuk beribadah.
Kami pun ikut melaksanakan salat di sana.
Pengalaman yang masih kami ingat hingga sekarang adalah ketika hendak berwudhu. Tempat wudhunya saat itu belum sepenuhnya selesai sehingga kami harus turun ke halaman bawah. Para jamaah bergantian mengambil air menggunakan selang yang disediakan. Kami pun ikut mengantre bersama jamaah lainnya.
Tidak ada yang mengeluh.
Semua tetap sabar menunggu giliran. Justru di situlah kami merasakan bahwa sebuah masjid bukan hanya tentang bangunan megah, tetapi tentang kebersamaan orang-orang yang datang untuk memenuhi panggilan Allah.
Masjid 99 Kubah sendiri mulai dibangun pada tahun 2017 atas inisiasi Gubernur Sulawesi Selatan saat itu, Syahrul Yasin Limpo. Namun dalam perjalanannya pembangunan sempat terhenti cukup lama sehingga kondisinya sempat terbengkalai.
Barulah pada tahun 2021 pembangunan kembali dilanjutkan hingga akhirnya selesai dan diresmikan pada 12 Maret 2022.
Sejak saat itu, Masjid 99 Kubah berubah menjadi salah satu ikon baru Kota Makassar sekaligus destinasi wisata religi yang paling banyak dikunjungi wisatawan.

Nama 99 Kubah tentu bukan tanpa alasan. Jumlah kubah yang menghiasi bangunan ini melambangkan 99 Asmaul Husna, yaitu nama-nama Allah yang indah. Kubah-kubah tersebut disusun bertingkat sehingga menghasilkan siluet bangunan yang unik dan mudah dikenali dari kejauhan.
Bangunan masjid memiliki sembilan sisi poligon, sementara hampir seluruh lantainya dilapisi marmer yang membuat suasana di dalam terasa bersih, sejuk, dan elegan.
Masjid ini mampu menampung lebih dari 13.000 jamaah. Area ibadahnya dibagi ke beberapa bagian, mulai dari ruang salat utama, mezzanine, hingga pelataran suci yang sangat luas. Di lantai atas disediakan area khusus untuk jamaah perempuan sehingga pengaturan ruang ibadah menjadi lebih nyaman.
Yang membuat kami semakin bersyukur adalah kesempatan datang kembali pada tahun 2022.
Kali ini suasananya benar-benar berbeda.
Bangunan telah selesai sepenuhnya. Area wudhu sudah tertata rapi. Interiornya tampak megah. Kami kembali menunaikan salat di sana, tetapi rasanya seperti berada di tempat yang benar-benar baru dibanding kunjungan pertama.
Ada kepuasan tersendiri melihat sebuah proyek besar akhirnya selesai dan dapat dimanfaatkan masyarakat.
Kini Masjid 99 Kubah bukan hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga menjadi salah satu kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan. Bahkan masjid ini telah dikenal sebagai salah satu dari 30 masjid terindah di dunia serta termasuk dalam jajaran 10 masjid terindah di Indonesia.

Bagi kami, keindahan Masjid 99 Kubah bukan semata-mata karena bentuk kubahnya yang unik atau marmernya yang berkilau.
Keindahannya justru terletak pada perjalanan panjang yang kami saksikan sendiri. Dari sebuah bangunan yang masih dipenuhi aktivitas pembangunan, tempat jamaah harus berwudhu menggunakan selang sambil mengantre, hingga akhirnya berdiri sempurna menjadi salah satu ikon Kota Makassar.
Perjalanan itu mengajarkan bahwa sesuatu yang indah memang sering kali membutuhkan proses.
Dan kami bersyukur pernah menjadi saksi kecil dari proses tersebut.
Kalau suatu hari nanti Anda berkunjung ke Makassar, jangan hanya datang untuk berfoto. Luangkan waktu untuk duduk sejenak, menikmati semilir angin dari Pantai Losari, mendengarkan lantunan azan yang menggema, lalu rasakan sendiri ketenangan yang ditawarkan Masjid 99 Kubah. Siapa tahu, Anda pulang bukan hanya membawa foto-foto indah, tetapi juga membawa ketenangan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.